
Ilustrasi orang yang menggunakan plester mulut. (Pexels)
JawaPos.com - Tren menutup mulut dengan plester saat tidur tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Metode ini disebut-sebut bisa membantu tidur lebih nyenyak dan mencegah kebiasaan tidur dengan mulut terbuka. Tapi, benarkah tindakan ini aman secara medis?
Ada beberapa hal penting yang harus dipahami sebelum mencoba tren plester mulut. Saat seseorang tidur, tubuh tetap menjalankan fungsi vital secara otomatis, termasuk bernapas. Mekanisme pernapasan pada dasarnya terjadi secara refleks lewat hidung.
Namun, dalam kondisi tertentu, fungsi hidung tidak bisa maksimal. Saat itulah mulut akan otomatis terbuka untuk bernapas. “Bernapas lewat hidung sebenarnya adalah cara yang paling ideal. Hidung punya sistem penyaring alami berupa rambut halus dan mukosa yang bisa menyaring debu, bakteri, hingga alergen sebelum udara masuk ke paru-paru,” jelas Dr dr Wiyono Hadi SpTHTBKL SubSp Rino (K).
Selain itu, udara yang masuk melalui hidung akan dilembapkan dan dihangatkan, sehingga lebih aman bagi saluran pernapasan. Karena itu, bila seseorang terbiasa bernapas lewat mulut saat tidur, itu justru bisa menimbulkan sejumlah masalah.
Mulut jadi cepat kering, tenggorokan terasa gatal saat bangun, hingga risiko gigi berlubang lebih tinggi akibat produksi air liur yang berkurang. Di sinilah mouth taping mulai dianggap bermanfaat. Dengan menutup mulut saat tidur, seseorang “dipaksa” bernapas melalui hidung.
“Kalau saluran nafas hidungnya baik, tidak ada penyumbatan, tidak sedang pilek, tidak mendengkur, itu boleh-boleh saja. Bahkan lebih baik," ungkap dokter spesialis telinga hidung tenggorokan RS PHC Surabaya itu.
Masalah muncul ketika seseorang memaksa menutup mulut dengan plester padahal hidungnya tidak dalam kondisi baik atau memiliki gangguan. Misalnya, rongga hidungnya sempit karena pilek atau kelainan anatomi, alergi, hingga adanya polip hidung.
"Kalau jalan nafas dari hidung tidak cukup, lalu mulutnya ditutup paksa, pasti akan gelagapan cari udara. Bisa terjadi gagal napas. Ini sangat berisiko, terutama pada anak-anak atau lansia,” tegasnya.
Untuk itu, sebelum mencoba mouth taping, sebaiknya periksakan dulu kondisi hidung dan saluran napas ke dokter THT. Pemilihan jenis plester juga perlu diperhatikan. Hindari plester sembarangan yang tidak didesain khusus untuk kulit, karena bisa menimbulkan iritasi.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
