Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 24 September 2025 | 15.55 WIB

Mengenal Neurorestorasi, Definisi dan Metode untuk Menghadapi Pemulihan Pascastroke

3. Deep Brain Stimulation (DBS)

Metode neurorestorasi satu ini dilakukan dengan cara yang menanamkan elektroda yang diletakkan pada posisi yang begitu dekat dengan sel saraf (neuron). Dengan demikian, stimulasi yang diberikan akan lebih tepat sasaran dan efisien. 

Melalui cara tersebut, bagian saraf tertentu bisa diaktifkan kembali dan dilatih ulang sehingga otak memiliki peluang lebih besar untuk pulih. Sebagai contoh, stimulasi epidural pada perilesional yang dikombinasikan dengan rehabilitas untuk mendorong pemulihan motorik pasca stroke. 

Pada penerapannya DBS bisa membantu meningkatkan aktivitas di sisi otak yang terkena stroke, memperkuat hubungan antara kedua belahan otak, dan menyeimbangkan interaksi antarbelahan otak.  

4. Virtual Reality (VR)

Teknologi VR dimanfaatkan untuk rehabilitas klinis. Metode seperti ini, dapat memberikan pengalaman interaktif berbasis komputer dalam lingkungan simulasi, biasanya melibatkan umpan balik suara dan visual.  

Penggunaan VR bisa menjadi terapi tambahan selain rehabilitasi konvensional dan membantu mengurangi durasi untuk rawat inap. 

5. Music Therapy

Melalui terapi musik, ternyata bisa meningkatkan fungsi kognitif, karena melibatkan berbagai proses kognitif dan emosional. 

Mendengarkan musik bukan hanya mengaktifkan area pendengaran tetapi juga area di kedua belahan otak, meliputi bagian temporal, frontal, parietal, dan subkortikal. Hal tersebut berhubungan dengan pemrosesan bahasa dan musik, memori, serta fungsi motorik.

6. Transcranial Direct Current Stimulation (tDCS)

Metode neurorestorasi selanjutnya yaitu menggunakan ars listrik lemah untuk merangsang bagian otak tertentu, seperti area gerak atau sensorik, namun tergantung pada area yang terdampak ketika pasien stroke. 

Adanya proses stimulasi dalam metode ini, yang dilakukan menggunakan dua elektroda, terdiri dari anoda dan katoda. Anoda berfungsi untuk mengalirkan arus positif yang bisa menginduksi depolarisasi sehingga membuat membran saraf lebih mudah teraktivasi. 

Sedangkan katoda berfungsi untuk mengalirkan arus negatif yang menginduksi hiperpolarisasi. Metode tDCS ini dapat meningkatkan kemampuan otak untuk membentuk kembali koneksi saraf yang baru alias memperkuat koneksi yang sudah ada (neuroplastisitas). 

Hal tersebut begitu penting untuk bisa memulihkan fungsi yang hilang karena stroke, cedera, atau penyakit saraf lainnya. Dengan mengetahui beberapa metode pemulihan pasca stroke di atas, seseorang bisa memperbaiki kesehatannya dengan pemulihan menggunakan metode neurorestorasi. Tentunya hal ini sesuai saran dari dokter terkait.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore