Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 5 Desember 2025 | 00.24 WIB

Terjebak dalam Mode Siaga Terus-Menerus? Kenali Penyebab dan Cara Atasi Hypervigilance

Ilustrasi Hypervigilance (Freepik) - Image

Ilustrasi Hypervigilance (Freepik)

JawaPos.com - Saat seseorang terus-menerus merasa waspada seperti selalu “siaga” terhadap bahaya, meskipun sebenarnya tak ada ancaman nyata itu bisa jadi tanda dari hypervigilance. Dalam kondisi ini, tubuh dan pikiran seolah selalu dalam mode “bertahan”, jantung berdetak lebih cepat, perasaan cemas, susah santai atau tidur, walau lingkungan terlihat normal. Menurut Alodokter, kondisi ini dapat membuat seseorang bereaksi berlebihan terhadap rangsangan kecil sekali pun dan sering tidak disadari sebagai masalah psikologis.

Sedangkan menurut Hello Sehat, hypervigilance dapat dipicu oleh trauma, stres berat, atau kecemasan berkelanjutan. Ketika respons “siaga” ini terus aktif, bisa mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, hingga kesehatan mental secara umum. Pola kewaspadaan ekstrem ini sebenarnya adalah alarm tubuh yang terlalu sensitif, bukan sifat bawaan seseorang.

Karena dampaknya bisa besar, penting untuk memahami penyebabnya dan mencari cara untuk meredakan kondisi ini, agar hidup tidak selalu terasa melelahkan karena ketegangan yang terus menerus.

Penyebab Hypervigilance

1. Trauma atau Pengalaman Menakutkan di Masa Lalu

Seringkali hypervigilance berakar dari pengalaman traumatis misalnya pelecehan, kecelakaan, bullying, atau peristiwa yang mengejutkan. Otak “belajar” bahwa lingkungan bisa berbahaya, sehingga tetap waspada meskipun situasi sekarang sudah aman.

2. Gangguan Kecemasan atau Stres Berkepanjangan

Orang dengan kecemasan kronis termasuk Generalized Anxiety Disorder (GAD) atau kecemasan sosial bisa mengalami hypervigilance. Ketidakpastian, rasa takut dinilai buruk, atau kekhawatiran terus-menerus membuat sistem saraf tetap “on alert”.

3. Lingkungan atau Pemicu Sensori yang Membebani

Lingkungan ramai, bising, ramai interaksi, atau situasi yang tak nyaman bisa memicu respons waspada berlebihan. Hal-hal seperti suara keras, keramaian, atau situasi tidak terduga bisa “menyulut” hypervigilance, meskipun tidak ada ancaman nyata.

Cara Mengatasi Hypervigilance

1. Terapi dan Penanganan Profesional

Jika hypervigilance sudah mengganggu kualitas hidup, konsultasi dengan profesional kesehatan mental seperti psikolog atau psikiater bisa membantu. Terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau terapi paparan (exposure) dipercaya efektif membantu menata ulang respons terhadap rasa takut atau kewaspadaan berlebihan.

2. Teknik Relaksasi dan Grounding

Latihan pernapasan dalam, meditasi ringan, mindfulness, atau aktivitas yang menenangkan tubuh (seperti berjalan santai, stretching, yoga) bisa membantu menenangkan sistem saraf. Teknik ini membantu memberi jarak antara “reaksi otomatis” tubuh dan realitas, memecah siklus kewaspadaan terus-menerus.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore