Logo JawaPos
Author avatar - Image
17 Maret 2026, 03.35 WIB

Komunitas Soroti Misinformasi Vape di Tengah Perdebatan Risiko Produk Tembakau Alternatif

Diskusi terkait misinformasi produk tembakau alternatif. (Istimewa) - Image

Diskusi terkait misinformasi produk tembakau alternatif. (Istimewa)

JawaPos.com–Perdebatan mengenai risiko kesehatan dan regulasi produk tembakau alternatif kembali mencuat di tengah maraknya informasi yang beredar di media sosial. Isu ini menjadi salah satu topik yang dibahas dalam diskusi publik yang digelar komunitas Gerakan Bebas TAR & Asap Rokok (Gebral) di Tangerang Selatan akhir pekan lalu.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah komunitas dan pengguna produk tembakau alternatif untuk berdiskusi mengenai perkembangan informasi, risiko, serta praktik penggunaan yang lebih bertanggung jawab.

Ketua Gebrak Garindra Kartasasmita menilai masyarakat saat ini dihadapkan pada beragam informasi yang tidak selalu akurat terkait produk tembakau alternatif. Seperti rokok elektronik atau vape, produk tembakau yang dipanaskan, hingga kantong nikotin.

Menurut dia, banyak perokok dewasa yang ingin mencari alternatif selain rokok konvensional, tetapi kesulitan mendapatkan informasi yang komprehensif.

”Tantangan terbesarnya saat ini adalah hoaks dan misinformasi. Dulu orang lebih fokus pada perubahan yang dirasakan ketika beralih, tetapi sekarang informasi yang beredar di media sosial sering membingungkan masyarakat,” kata Garindra.

Produk tembakau alternatif sendiri kerap diperdebatkan karena dinilai memiliki profil risiko yang berbeda dibandingkan rokok konvensional. Perbedaan utamanya terletak pada cara penghantaran nikotin.

Jika rokok menghasilkan nikotin melalui proses pembakaran tembakau, rokok elektronik maupun produk tembakau yang dipanaskan menggunakan sistem pemanasan. Beberapa penelitian juga mulai membandingkan kandungan zat berbahaya antara rokok dan produk tembakau alternatif. Salah satunya penelitian yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berjudul Evaluation of Laboratory Tests for E-Cigarettes in Indonesia Based on WHO’s Nine Toxicants.

Dalam penelitian tersebut, peneliti menganalisis sembilan senyawa toksikan utama yang biasa ditemukan pada produk tembakau. Hasilnya menunjukkan kadar beberapa senyawa berbahaya dalam emisi rokok elektronik tercatat lebih rendah dibandingkan asap rokok konvensional, bahkan beberapa zat tidak terdeteksi.

Meski demikian, para pakar kesehatan di berbagai negara masih menekankan bahwa produk tembakau alternatif bukan tanpa risiko dan tidak disarankan bagi non perokok, anak-anak, maupun remaja.

Di sejumlah negara seperti Inggris, Jepang, dan Kanada, produk tembakau alternatif digunakan dalam kebijakan pengendalian tembakau tertentu, terutama untuk menekan angka perokok dewasa. Namun pendekatan regulasinya tetap disertai pengawasan ketat, pembatasan akses bagi anak di bawah umur, serta kampanye kesehatan publik.

Selain membahas aspek informasi dan riset, diskusi di Tangerang Selatan tersebut juga menyinggung praktik penggunaan rokok elektronik yang dinilai kerap disalahgunakan. Hal ini dinilai memicu sentimen negatif terhadap produk tembakau alternatif di ruang publik.

Garindra mengatakan, penyalahgunaan maupun penggunaan oleh kelompok yang tidak semestinya dapat memperburuk persepsi masyarakat dan memperkuat desakan pelarangan.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore