Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 15 April 2026 | 23.14 WIB

Fokus Menurun hingga Kontentrasi Belajar Terganggu, ini Bahaya Kekurangan Zat Besi

Ilustrasi perempuan mengalami lesu akibat kurang zat besi. (Dok. Frepik) - Image

Ilustrasi perempuan mengalami lesu akibat kurang zat besi. (Dok. Frepik)

JawaPos.com - Kemampuan kognitif, seperti fokus, konsentrasi, dan daya ingat, memiliki peran krusial dalam menunjang proses belajar maupun produktivitas sehari-hari. Salah satu nutrisi penting yang berkontribusi terhadap fungsi tersebut adalah zat besi.

Namun, hingga kini, kekurangan zat besi masih menjadi persoalan kesehatan yang memerlukan perhatian serius. Di Indonesia, angka kejadian anemia masih tergolong tinggi.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi anemia mencapai 23,8 persen pada anak usia 0–4 tahun, 16,3 persen pada usia 5–14 tahun, serta 18,0 persen pada perempuan secara umum. Sementara itu, secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 37 persen ibu hamil mengalami anemia.

Mayoritas kasus anemia disebabkan oleh defisiensi zat besi. Kondisi ini menegaskan bahwa kekurangan zat besi masih menjadi tantangan kesehatan yang dapat berdampak pada fungsi kognitif, kemampuan belajar, serta potensi pertumbuhan dan perkembangan apabila tidak ditangani dengan tepat.

dr. Lucky Yogasatria, Dokter Spesialis Anak dan Konselor Laktasi menjelaskan, zat besi sendiri memiliki peran penting dalam pembentukan sel darah merah serta mendukung fungsi kognitif, termasuk konsentrasi dan kemampuan belajar.

Menurutnya, kebutuhan zat besi perlu diperhatikan sejak dini, mulai dari bayi hingga usia dewasa, terutama pada periode pertumbuhan, masa remaja, sebelum kehamilan, hingga selama kehamilan.

“Pada masa kehamilan, kecukupan zat besi sangat penting untuk mendukung
kesehatan ibu, pertumbuhan janin, serta membantu menurunkan risiko bayi lahir dengan cadangan zat besi yang rendah, sehingga dapat menekan potensi kekurangan zat besi pada bayi sejak awal kehidupan,” kata Lucky dalam sharing session kampanye #ZatBesiPasBekerjaCerdas oleh Maltofer di Jakarta, Selasa (14/4).

Dia menjelaskan, pemenuhan zat besi sebaiknya diutamakan dari pola makan bergizi seimbang. Namun pada kondisi tertentu suplementasi dapat dipertimbangkan sesuai anjuran tenaga kesehatan.

“Saat ini, tersedia berbagai pilihan suplementasi zat besi oral, termasuk dalam bentuk Iron Polymaltose Complex (IPC), yang memiliki karakteristik pelepasan zat besi yang lebih terkendali sehingga membantu penyerapan sesuai kebutuhan tubuh, cenderung lebih nyaman di saluran pencernaan, serta dapat dikonsumsi bersama makanan,” kata dia.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore