
dr. Jaka Pradipta, Sp.P (K) Onk tengah memberikan penjelasan tentang penanganan kanker paru dalam kegiatan Training of Trainers (ToT). (AstraZeneca)
JawaPos.com - Kasus kanker paru masih menjadi salah satu penyebab kematian akibat kanker tertinggi di Indonesia. Di tengah tingginya angka kasus tersebut, AstraZeneca Indonesia bersama Indonesian Cancer Information and Support Center Association (CISC) menggelar pelatihan bagi pendamping pasien atau patient navigator.
Pelatihan bertajuk Training of Trainers (ToT) itu difokuskan pada peningkatan pemahaman terkait deteksi dini, akses pengobatan, hingga kepatuhan pasien dalam menjalani terapi kanker paru. Dalam siaran persnya, kegiatan tersebut disebut sebagai upaya memperkuat dukungan bagi pasien selama proses pengobatan.
Data GLOBOCAN 2022 menunjukkan kanker paru menjadi penyumbang kasus dan kematian kanker tertinggi di dunia. Sementara di Indonesia, kanker paru menyumbang 9,5 persen dari total kasus kanker dan 14,1 persen dari total kematian akibat kanker.
Dokter spesialis paru konsultan onkologi dr. Jaka Pradipta mengatakan tantangan terbesar dalam penanganan kanker paru di Indonesia adalah banyak pasien yang baru terdiagnosis saat stadium lanjut. Kondisi tersebut membuat peluang keberhasilan terapi menjadi lebih terbatas.
“Kanker paru masih menjadi salah satu beban kesehatan terbesar di Indonesia. Sebagian besar pasien datang dalam stadium lanjut sehingga peluang keberhasilan terapi menjadi lebih terbatas,” kata Jaka dalam kegiatan tersebut.
Dalam pelatihan itu, peserta juga mendapatkan materi mengenai pemanfaatan low-dose CT scan (LDCT) untuk skrining kanker paru. Selain itu, dibahas pula perkembangan terapi yang kini mencakup kemoterapi, terapi target, hingga imunoterapi.
Kepatuhan pasien terhadap terapi turut menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Menurut Jaka, pasien yang menjalani terapi sesuai anjuran dokter memiliki peluang lebih besar untuk memperlambat progresi penyakit dan meningkatkan kualitas hidup.
Ia mengatakan ketidakpatuhan pasien terhadap pengobatan dapat meningkatkan risiko komplikasi dan memperburuk kondisi kesehatan. Karena itu, keberadaan pendamping pasien dinilai penting untuk membantu pasien memahami proses terapi dan mengakses layanan kesehatan tepat waktu.
Ketua Umum CISC Aryanthi Baramuli Putri mengatakan pasien kanker paru tidak hanya menghadapi persoalan medis, tetapi juga tekanan emosional dan kendala akses layanan kesehatan. Menurut dia, pendamping pasien dapat membantu pasien memahami perjalanan pengobatan sekaligus memberikan dukungan praktis selama terapi berlangsung.
“Melalui pelatihan ini, kami ingin memperkuat peran patient navigator sebagai pendamping pasien agar mereka bisa membantu pasien memahami pengobatan dan dukungan yang dibutuhkan,” ujar Aryanthi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Skor Lithuania vs Andorra, Laga Persahabatan: Tuan Rumah Berpeluang Menang
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Skor Azerbaijan vs Liechtenstein di Liga Nations UEFA: Milli Menang Tipis Kejar Promosi
Prediksi Skor Wales vs Norwegia di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022