
Ilustrasi Sakit kanker paru-paru./Pixabay
JawaPos.com – Tingginya angka kasus kanker paru di Indonesia mendorong berbagai pihak memperkuat edukasi dan pendampingan pasien. AstraZeneca Indonesia bersama Indonesian Cancer Information and Support Center Association (CISC) menggelar Training of Trainers (ToT) guna meningkatkan kapasitas pendamping pasien atau patient navigator.
Kegiatan yang berlangsung di Jakarta pada 5 Mei 2026 itu ditujukan untuk memperkuat peran komunitas dalam membantu pasien kanker paru menjalani pengobatan secara optimal.
Dokter Spesialis Paru Konsultan Onkologi, dr. Jaka Pradipta, Sp.P(K) Onk, mengatakan kanker paru masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi akibat kanker di Indonesia. Tantangan terbesar saat ini adalah banyak pasien baru terdiagnosis ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut.
“Ketika pasien datang pada stadium lanjut, peluang keberhasilan terapi menjadi lebih terbatas. Karena itu, kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini dan penanganan kanker paru harus terus diperkuat,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Berdasarkan data GLOBOCAN 2022, kanker paru menjadi penyumbang kasus dan kematian kanker tertinggi di dunia. Di Indonesia, penyakit ini menyumbang sekitar 9,5 persen dari total kasus kanker dan 14,1 persen kematian akibat kanker.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pembekalan terkait deteksi dini kanker paru, pemanfaatan teknologi low-dose CT scan (LDCT), hingga perkembangan terapi terkini seperti kemoterapi, terapi target, dan imunoterapi.
Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, menegaskan bahwa penanganan kanker paru membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, tidak hanya tenaga medis.
“Patient navigator memiliki peran penting sebagai pendamping pasien, membantu memahami proses pengobatan, sekaligus menjadi penghubung dengan layanan kesehatan. Dukungan seperti ini diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan terapi dan hasil pengobatan pasien,” katanya.
Selain edukasi, pelatihan juga menyoroti pentingnya kepatuhan pasien dalam menjalani terapi. Menurut dr. Jaka, kepatuhan terhadap pengobatan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan terapi kanker paru.
“Pasien yang konsisten menjalani terapi memiliki peluang lebih besar untuk memperlambat progresi penyakit dan meningkatkan kualitas hidup. Sebaliknya, ketidakpatuhan dapat memperburuk kondisi pasien,” jelasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Ferry Juliantono Rencanakan Penyaluran Gaji PNS dan Pensiun lewat Koperasi
Prediksi Skor Buriram vs Borneo di ASEAN Club Championship: Thunder Castle Menang Tipis
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Kuching City vs Tampines di ASEAN Club Championship: The Cats Unggul Tipis
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Didik J Rachbini: Putusan MK Ungkap Kebohongan Gibran dan Jokowi
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Meksiko vs Cile: El Tri Bakal Bangkit, La Roja Akhiri Tren Buruk
Gibran Terbukti Tak Punya Ijazah SMA, tapi MK Tidak Berwenang Diskualifikasi dari Wapres

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022