
Tanda kecanduan stres dan kebiasaan tidak sehat akibat kortisol tinggi. (Magnific)
JawaPos.com - Stres merupakan bagian normal dari dinamika kehidupan sehari-hari. Namun, ketika stres berubah menjadi kronis, tubuh Anda akan dipaksa bekerja terlalu keras tanpa henti. Kondisi ini memicu pelepasan kortisol, hormon kunci dalam respons stres tubuh, secara berlebihan. Jika kadar kortisol tetap tinggi dalam jangka waktu lama, tubuh akan mulai mengirimkan sinyal-sinyal peringatan yang sering kali menjadi lampu kuning sebelum Anda mengalami kelelahan mental total atau burnout.
Ketika kadar kortisol seseorang sudah mencapai titik puncaknya, tubuh akan menunjukkan serangkaian perubahan fisik dan psikologis yang signifikan. Sinyal-sinyal ini tidak boleh disepelekan karena berdampak langsung pada kualitas hidup jangka panjang. Berikut adalah sembilan gejala nyata saat tubuh Anda mulai kewalahan akibat ledakan hormon kortisol:
Secara alami, kortisol mengikuti ritme harian yang stabil: meningkat di pagi hari untuk membantu Anda terbangun, dan menurun di malam hari agar Anda bisa beristirahat. Namun, saat stres kronis melanda, kadar kortisol tetap tinggi di malam hari.
Kondisi ini membuat otak tetap dalam mode waspada meskipun fisik Anda sudah sangat kelelahan. Akibatnya, Anda akan kesulitan untuk mulai tidur, sering terbangun di tengah malam, atau terbangun terlalu pagi dan tetap merasa lelah sepanjang hari.
Alih-alih hanya merasakan stres sesekali, orang dengan kortisol tinggi akan mendapati sistem saraf mereka bersiap menghadapi bahaya setiap saat. Bahkan masalah kecil sekalipun bisa terasa sangat mengganggu dan membuat mereka sulit rileks.
Secara internal, gejala ini memicu pikiran yang berpacu (racing thoughts) dan kecemasan berlebih. Secara fisik, ketegangan ini kerap ditandai dengan keringat dingin berlebih serta napas yang terasa pendek atau dangkal.
Terkait kondisi yang intens ini, Dr. Natasha Malkani, MD, seorang dokter spesialis endokrinologi di Cedars-Sinai, memberikan saran penting. "Gejala-gejala ini cenderung cukup dramatis, dan jika pasien mengalaminya, mereka harus meminta dokter mereka untuk memeriksa kadar kortisol mereka untuk membantu diagnosis," ujarnya.
Tingginya kadar kortisol secara kronis dapat mengganggu kemampuan tubuh dalam membangun dan memperbaiki jaringan sel. Seiring berjalannya waktu, kulit Anda bisa menjadi lebih tipis, sensitif, dan rapuh.
Dampaknya, luka kecil, goresan, memar, atau noda pada kulit akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk sembuh. Perubahan fisik yang terlihat jelas ini sering kali memicu rasa tidak percaya diri hingga kecemasan sosial pada penderitanya.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Duel Tim Kelelahan!
Prediksi Skor Persija Jakarta vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Macan Kemayoran Diunggulkan!
Profil Jafar Hidayatullah dan Adnan Maulana: Diduga Match Fixing, Dicoret PBSI dari Kejuaraan Dunia
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Maung Bandung Favorit Juara
Aji Santoso Resmi Latih de Red FC, Klub Baru Jawa Timur Pilih Stadion Gelora 10 November Surabaya
Bertahun-Tahun Mogok Kerja, Tim 10 Pekerja Freeport Serahkan Tuntutan ke Said Iqbal
Jafar/Felisha dan Adnan/Indah Dicoret dari Kejuaraan Dunia, PBSI Buka Suara Soal Dugaan Match Fixing
Prediksi Skor Singapura vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Pembuktian Sihir John Herdman!
Profil Malik Bawazier, Suami Cut Keke yang Dilaporkan Kasus Perzinaan dan Kohabitasi
