
Ilustrasi obesitas. (Freepik)
JawaPos.com - Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian utama di dunia dan menyumbang hampir satu dari tiga kematian. Obesitas merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, dengan sekitar 17 persen kematian akibat penyakit kardiovaskular secara global dikaitkan dengan obesitas.
Di Indonesia, sebuah studi menemukan bahwa responden dengan obesitas memiliki probabilitas 85 persen lebih tinggi untuk memiliki risiko penyakit kardiovaskular dalam 10 tahun ke depan. Karena itu, mengenali dan menangani obesitas sejak dini menjadi langkah penting dalam upaya menjaga kesehatan jantung.
Associate Director, Medical & Regulatory, Novo Indonesia, dr. Riyanny M. Tarliman, menyatakan, obesitas perlu dipahami bukan sekadar persoalan berat badan atau pilihan pribadi, melainkan penyakit kronis yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari faktor biologis hingga lingkungan.
Karena itu, obesitas membutuhkan penanganan yang tepat, komprehensif, dan berkelanjutan sesuai kebutuhan setiap individu.
"Kami ingin mendorong lebih banyak orang untuk memahami risikonya, tidak ragu mencari bantuan tenaga kesehatan, dan mendapatkan pengelolaan yang tepat," kata dr. Riyanny diskusi media bertajuk "World Heart Day: Beyond the Scale, Toward Better Heart Health pada Senin (28/9).
Obesitas tidak lagi sekadar persoalan kelebihan berat badan. Pemahaman medis mengenai obesitas telah berkembang dari sekadar faktor risiko menjadi penyakit kronis yang dapat berkontribusi terhadap gangguan pada jantung dan pembuluh darah.
Menurut Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan intervensi. dr. Bobby Arfhan Anwar, berbagai faktor yang menyertai obesitas, termasuk inflamasi kronis, dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular dan berkontribusi terhadap aterosklerosis atau penumpukan plak pada dinding pembuluh darah.
Bila penumpukan plak terjadi pada pembuluh darah koroner, aliran darah ke otot jantung akan berkurang sehingga berisiko menjadi penyakit jantung koroner. "Karena itu, penanganan obesitas sejak dini menjadi bagian penting dalam pengelolaan risiko penyakit kardiovaskular," kata dr. Bobby.
Selain meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, obesitas juga dapat memengaruhi sistem kelistrikan jantung dan meningkatkan risiko gangguan irama, terutama fibrilasi atrium. Risiko ini dapat dipengaruhi oleh perubahan struktural dan metabolik, proses inflamasi, serta faktor yang berkaitan dengan tidur.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Skor Lithuania vs Andorra, Laga Persahabatan: Tuan Rumah Berpeluang Menang
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Skor Azerbaijan vs Liechtenstein di Liga Nations UEFA: Milli Menang Tipis Kejar Promosi
Prediksi Skor Wales vs Norwegia di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022