Ilustrasi Solana. (Tokocrypto)
JawaPos.com – Solana (SOL) mengalami pemulihan harga setelah sempat terpuruk, namun kenaikannya masih terbatas.
Setelah jatuh ke titik terendah Rp 2.025.000 pada 28 Februari 2025, harga SOL naik 17 persen dan kini bertahan di sekitar Rp 2.349.000.
Meski begitu, harga ini masih turun 50 persen dari rekor tertingginya di Rp 4.779.000 pada 19 Januari.
Sejumlah analis, dikutip dari Cointelegraph, menilai bahwa tekanan pada harga SOL bukan hanya karena runtuhnya pasar memecoin, tetapi juga akibat penurunan aktivitas onchain yang signifikan.
Faktor lain seperti rendahnya minat leverage, dominasi bot trading, dan absennya investasi dari proyek terkait Donald Trump juga ikut membebani prospek kenaikan harga SOL.
Salah satu penyebab utama pelemahan SOL adalah turunnya aktivitas di jaringan Solana. Berdasarkan data DefiLlama, pendapatan biaya transaksi di jaringan ini turun 73 persen dalam empat minggu terakhir.
Sebagian besar aktivitas sebelumnya didorong oleh peluncuran token memecoin dan perdagangan di decentralized exchange (DEX), tetapi setelah gelombang euforia berakhir, banyak investor tampak beralih ke proyek lain.
Dampaknya terlihat di berbagai sektor ekosistem Solana. DappRadar mencatat bahwa jumlah alamat aktif di Jito, aplikasi staking terbesar di Solana, turun 56 persen dalam sebulan terakhir.
Magic Eden, pasar NFT utama di jaringan ini, juga kehilangan 38 persen pengguna aktif. Sementara itu, platform pinjaman terdesentralisasi Save (dulu Solend) mengalami penurunan jumlah pengguna sebesar 42 persen.
Sebagai perbandingan, Ethereum layer-2 Base hanya mengalami penurunan alamat aktif sebesar 2 persen dalam periode yang sama, sementara Ethereum layer-1 turun 17 persen. Perbedaan ini menunjukkan bahwa masalah di Solana lebih dalam daripada sekadar dampak dari jatuhnya pasar memecoin.
Selain penurunan aktivitas onchain, rendahnya permintaan leverage juga menjadi kendala bagi SOL. Data menunjukkan bahwa funding rate untuk kontrak berjangka SOL bersifat negatif selama tiga hari berturut-turut, yang berarti bahwa trader short (penjual) membayar untuk mempertahankan posisi mereka.
Meskipun tingkat pendanaan negatif 0,01 persen per delapan jam tidak terlalu mengkhawatirkan, fakta bahwa tidak ada lonjakan permintaan dari pembeli setelah harga SOL turun 52 persen dari level tertinggi menunjukkan kurangnya keyakinan pasar.
Namun, jika ada katalis positif yang tak terduga—misalnya, persetujuan ETF spot Solana di AS—SOL bisa mengalami lonjakan harga akibat aksi short-covering dari para trader yang bertaruh pada penurunan harga.
Sebagian analis juga menyoroti peran bot dalam ekosistem Solana. Seorang analis kripto dengan nama arndxt, penulis "Threading on the Edge," mengatakan bahwa mayoritas transaksi di jaringan Solana dikendalikan oleh sekelompok kecil pengguna.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
