
Ilustrasi Kembang Api. (Pixabay)
JawaPos.com – Kembang api mulanya berawal dari bubuk mesiu di masyarakat Tiongkok Kuno.
Mereka meyakini ledakan bubuk mesiu dapat mengusir roh jahat. Dalam perkembangannya bubuk mesiu dengan daya ledak rendah digunakan dalam perayaan-perayaan, seperti pernikahan, kemenangan perang, dan sebagainya.
Para ilmuwan pun bereksperimen untuk keamanan dengan membungkus ke dalam tunas bambu dan mengujinya dengan melempar ke dalam api.
Eksperimen ini menciptakan kembang api dan menjadikan model-model kembang api dari masa ke masa.
Pembungkus yang mulanya dari tunas bambu pun diganti dengan tabung kertas bersumbu berbahan tisu.
Tradisi pesta kembang api di Indonesia dibawa oleh orang-orang Tiongkok. Budaya tersebut pun diadaptasi oleh masyarakat Betawi yang digunakan bukan sekadar untuk mengusir roh jahat, melainkan juga alat komunikasi antar kampung.
Sebagai alat komunikasi digunakan sebagai undangan pernikahan, khitan, maulid nabi, dan sebagainya.
Semakin banyak petasan yang dibunyikan semakin tinggi pula status sosial sang penyelenggara hajatan.
Saat masa pendudukan Belanda, petasan dan kembang api banyak dijual di wilayah Glodog, Senen, Tanah Abang, dan Jatinegara.
Saat itu, penjualan petasan atau kembang api meningkat saat mendekati perayaan ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina pada 31 Agustus.
Pada era saat ini, kembang api juga digunakan untuk memeriahkan berbagai acara, termasuk perayaan pergantian tahun.
Sayangnya, dibalik kemeriahan kembang api juga memberikan dampak negatif kepada lingkungan.
Warna-warna yang dikeluarkan dari kembang api berasal dari hasil reaksi fisika dan kimiawi.
Warna tersebut terbuat dari garam logam padat serta bahan-bahan peledak yang akan menghasilkan warna saat dipanaskan dengan suhu tertentu.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
