
Ilustrasi orang egois dan kurang berempati. (Freepik/katemangostar)
JawaPos.com – Ada perbedaan tipis antara percaya diri dan egois, yang seringkali terlihat kabur dalam ungkapan-ungkapan yang terdengar biasa namun sebenarnya mencerminkan kecenderungan narsistik. Psikologi membantu kita mengidentifikasi ciri-ciri ini, terutama dalam pernyataan yang sering diucapkan oleh orang-orang egois.
Seperti yang dikutip dari Hackspirit, artikel ini mengulas berbagai hal yang biasanya dikatakan oleh orang egois menurut psikologi, coba kenali beberapa dari ungkapan ini dalam percakapan sehari-hari.
1. "Aku", "saya", dan "milik saya"
Jika pernah berinteraksi dengan orang egois, akan melihat bahwa kata-kata favorit mereka adalah "aku", "saya", dan "milik saya". Menurut psikologi, penggunaan berlebihan kata ganti orang pertama ini menunjukkan tanda narsisme.
Mereka cenderung fokus pada perasaan, pikiran, pencapaian, dan kehidupan mereka, tanpa banyak mempertimbangkan orang lain. Meski berbicara tentang diri sendiri kadang-kadang wajar, jika dilakukan terus-menerus, ini bisa menjadi tanda bahaya.
Jika lebih sering mendengar "aku" daripada "kamu" atau "kita", mungkin berhadapan dengan orang yang egois.
2. "Kamu tidak akan mengerti"
Ungkapan ini sering digunakan oleh orang egois untuk menghindari penjelasan atau menutup percakapan. Seorang teman pernah sering mengatakan ini setiap kali kami mempertanyakan tindakannya, seolah-olah hanya dia yang dapat memahami situasinya.
Ungkapan ini mencerminkan sikap mementingkan diri dan menciptakan jarak emosional antara dirinya dan orang lain.
3. "Aku hanya jujur"
Orang egois sering menggunakan "kejujuran" sebagai alasan untuk melontarkan komentar yang menyakitkan tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Psikologi menunjukkan bahwa jenis kejujuran ini sering digunakan untuk menegaskan dominasi dan bukan merupakan upaya tulus untuk transparansi. Ini adalah cara untuk mengalihkan tanggung jawab dari diri mereka sendiri.
4. "Aku tidak butuh siapa pun"
Pernyataan ini terdengar menunjukkan kemandirian, namun sebenarnya bisa mengindikasikan kurangnya kecerdasan emosional dan ketidakmampuan membentuk hubungan yang bermakna.
Menurut psikologi, keengganan untuk mengakui bahwa kita saling membutuhkan merupakan tanda ego yang meningkat.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
