Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 29 Agustus 2024 | 20.10 WIB

Ini Lima Alasan Dilarang Menyebut ODGJ sebagai Orang Gila

Sejumlah Pasien ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) saat antre menunggu giliran untuk mengikuti vaksinasi COVID-19 di yayasan jamrud biru di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (4/8/2021). Sebanyak 70 pasien ODGJ mengikuti kegiatan vaksinasi merdeka guna mencegah peny - Image

Sejumlah Pasien ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) saat antre menunggu giliran untuk mengikuti vaksinasi COVID-19 di yayasan jamrud biru di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (4/8/2021). Sebanyak 70 pasien ODGJ mengikuti kegiatan vaksinasi merdeka guna mencegah peny

 

JawaPos.com – Stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) masih sangat kuat di masyarakat. Salah satu bentuk stigma yang paling sering muncul adalah penggunaan istilah “orang gila.” 

Padahal, menyebut ODGJ sebagai orang gila bukan cuma tak pantas, tetapi juga dapat memperparah diskriminasi dan memperburuk kondisi mental mereka. Yuk, pahami tentang ODGJ berikut ini!

Sebagaimana dilansir dari Halodoc, berikut sejumlah alasan yang perlu kamu pahami terkait konotasi panggilan orang gila terhadap ODGJ:

1. Mengandung konotasi negatif dan terkesan menghina

Istilah “orang gila” secara historis digunakan untuk merendahkan dan menghina individu yang mengalami gangguan mental.

Konotasi negatif ini membawa beban berat yang memperkuat stigma dan diskriminasi terhadap ODGJ

Dengan menggunakan istilah tersebut, kamu secara tidak langsung menempatkan mereka dalam posisi yang lebih rendah.

Hal ini seolah-olah mereka adalah manusia yang tidak layak mendapatkan rasa hormat atau perlakuan yang setara. 

Penggunaan kata-kata ini tidak hanya menyakitkan tetapi juga menunjukkan kurangnya pemahaman dan empati terhadap kondisi mereka.

2. Meningkatkan stigma tertentu bahkan diskriminasi

Stigma terhadap ODGJ juga sangat merugikan. Ketika seseorang disebut sebagai “orang gila,” masyarakat cenderung melihat mereka sebagai ancaman atau beban sosial, bukan sebagai individu yang membutuhkan dukungan. 

Itu sebabnya, stigma tersebut bisa menghambat ODGJ untuk mencari bantuan atau mendapatkan perawatan yang dibutuhkan.

Stigma yang terus ada ini bisa bisa menyebabkan isolasi sosial, kehilangan pekerjaan, dan bahkan memperburuk kondisi kesehatan mental ODGJ.

3. Memperburuk kondisi mental ODGJ

Menyebut ODGJ dengan istilah yang merendahkan juga bisa memperburuk kondisi mental mereka.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore