Ilustrasi pertemanan. (pinterest)
JawaPos.com - Dalam kehidupan yang serba cepat ini, tidak banyak orang yang dapat berbangga memiliki teman masa kecil yang masih terjaga hingga sekarang. Jika Anda termasuk salah satu yang masih mempertahankan pertemanan itu, anggaplah diri Anda beruntung.
Namun, meski hubungan yang langgeng merupakan tanda baik, semakin kita sadari bahwa banyak orang yang justru lebih mengenang kenangan tentang seseorang ketimbang melihat kenyataan tentang mereka saat ini. Bukankah kita semua berubah seiring berjalannya waktu?
Sulit untuk membayangkan bahwa orang yang dulu sangat kita kenal kini mungkin sudah tidak lagi sama. Perubahan itu wajar, dan ini adalah kenyataan yang perlu kita terima.
Lingkaran sosial yang kita miliki seharusnya menjadi ruang saling mendukung satu sama lain, bukan sebaliknya, menjadi tempat di mana orang-orang hanya senang merendahkan kita demi hiburan. Lingkaran seperti ini tidak akan memberi kebahagiaan, malah sebaliknya.
Dikutip dari sebuah blog di Medium.com, semakin kecil dunia kita, semakin bahagia kita. Mempertahankan teman hanya untuk sekadar memiliki teman itu toxic. Ingatlah, energi kita sangat berharga.
Kita harus berusaha sebaik mungkin untuk menjaga dan melestarikannya. Cintailah diri sendiri sedemikian rupa sehingga ketika seseorang memperlakukanmu dengan buruk, Anda bisa mengenali itu dan akan menyadari pola perilakunya.
Jangan abaikan atau hindari kenyataan tentang orang yang melakukan itu hanya karena mereka pernah menjadi teman baik Anda. Sebenarnya, ini berlaku tidak hanya dalam pertemanan, tapi juga dalam hubungan apapun.
Lalu, mungkin ada yang bertanya mengapa kita disarankan untuk memutuskan hubungan pertemanan yang menjadi toxic? Bukankah lebih baik kita membahasnya terlebih dahulu? Tentu, jika Anda merasa itu bisa membantu.
Namun, selalu ingat bahwa menjadi selektif dalam memilih siapa yang berhak mendapatkan waktu dan energi kita adalah bentuk mencintai diri sendiri. Teman yang suka merendahkan, mengecilkan hati, mengkritik, atau hanya tersedia saat mereka membutuhkanmu, adalah sebuah beban.
Akhiri hubungan seperti itu. Maafkan mereka atau cukup lanjutkan hidup Anda dengan orang-orang baru. Dunia ini cukup besar, dan banyak orang yang bisa membawa kebahagiaan.
Mitos bahwa teman terbaik adalah teman yang sudah lama dikenal, sebenarnya berasal dari kenyataan bahwa semakin kita dewasa, semakin sulit untuk membuka diri dan membangun hubungan yang sejati.
Kejujuran masa kecil tidak mengenal batas, sementara sensitivitas kita saat dewasa sering kali lebih menghalangi.
Namun, itu tidak berarti kita tidak bisa menemukan hubungan yang sejati meski kita sudah dewasa. Persahabatan yang alami dan tulus, yang tidak didasarkan pada ekspektasi atau kenangan, akan bertahan lebih lama.
Sebab, persahabatan seperti itu dibangun di atas dasar kepercayaan, pengalaman bersama, minat yang sama, atau bahkan hanya rasa humor yang serupa.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
