
Ilustrasi perempuan sedang merenung. (Pexels)
JawaPos.com – Banyak orang tidak menyadari bahwa masa kecil yang penuh dengan kritik bisa berdampak jangka panjang pada kehidupan seseorang. Ketika seorang anak sering mendapatkan kritik, baik dari orang tua, guru, atau lingkungan sekitar, mereka belajar untuk memandang diri mereka melalui lensa kritikan tersebut.
Seiring waktu, kebiasaan ini bisa mengubah cara mereka berpikir, bertindak, dan merespons dunia sekitar mereka sebagai orang dewasa.
Melansir dari laman The Blog Herald, Selasa (18/2), dalam artikel ini akan mengungkap 7 sifat yang sering muncul pada orang dewasa yang tumbuh dengan kritik berlebihan di masa kecil.
1. Terlalu kritis terhadap diri sendiri
Jika seseorang sering mendengar kritik sejak kecil, terutama dari orang tua atau lingkungan sekitarnya, mereka cenderung mulai menerima kritik itu sebagai bagian dari pikiran mereka.
Akibatnya, mereka menjadi sangat keras pada diri sendiri, meragukan kemampuan dan pencapaian mereka, serta merasa apa yang mereka lakukan tidak pernah cukup baik.
Bahkan saat berhasil, mereka merasa itu tidak sesuai dengan standar yang mereka harapkan atau merasa bisa lebih baik lagi.
2. Sulit menerima pujian
Seseorang yang sering dikritik sejak kecil cenderung merasa canggung saat menerima pujian. Awalnya, mereka menganggap menanggapi pujian dengan rendah hati adalah hal yang baik.
Namun, seiring waktu, mereka menyadari bahwa itu lebih karena perasaan tidak nyaman. Karena lebih sering dikritik daripada dipuji, mereka merasa tidak wajar atau bahkan curiga ketika dipuji.
Pujian terasa sulit diterima karena mereka terbiasa merasa tidak cukup baik dan merasa tidak pantas mendapatkannya.
3. Sangat sensitif terhadap kritik
Anak yang sering dikritik akan mengaitkan kritik dengan hal negatif, membuat mereka sangat sensitif terhadap kritik, bahkan ketika sudah dewasa.
Penelitian menunjukkan bahwa otak kita memproses kritik seperti rasa sakit fisik, jadi bagi mereka yang terbiasa dikritik saat kecil, bahkan kritik ringan bisa terasa sangat menyakitkan.
Akibatnya, mereka mungkin bereaksi defensif atau merasa diserang, dan sering kali memikirkan kritik tersebut berulang kali. Bagi mereka, kritik terasa lebih seperti serangan daripada cara untuk memperbaiki diri.
