
7 Tipe Teman yang Sebaiknya Anda Jauhi, Menurut Psikologi
JawaPos.com - Tidak semua persahabatan baik untuk Anda. Beberapa teman menyemangati, mendukung, dan membuat hidup lebih bahagia. Namun, yang lainnya justru menguras energi, menciptakan stres, atau bahkan menghambat perkembangan diri Anda.
Psikologi menunjukkan bahwa tipe teman tertentu bisa lebih berbahaya daripada bermanfaat. Meskipun tidak selalu mudah untuk menjauhi seseorang, terkadang itu adalah pilihan terbaik untuk kesehatan mental dan emosional Anda.
Mengenali tanda-tanda teman yang toksik sangat penting agar Anda bisa mempertahankan hubungan yang sehat.
Dikutip dari laman Geediting.com pada Kamis, 27 Februari 2025. Berikut adalah 7 tipe teman yang sebaiknya Anda hindari, menurut psikologi:
1. Kritikus yang Konstan
Kita semua membutuhkan teman yang jujur, tetapi ada perbedaan antara kritik membangun dan kritikan yang terus-menerus menjatuhkan.
Teman yang selalu menunjukkan kelemahan Anda, meremehkan pencapaian, atau membuat Anda merasa tidak cukup baik dapat merusak harga diri. Studi psikologi menunjukkan bahwa kritikan tanpa dukungan dapat menimbulkan rasa cemas dan ketidakpercayaan diri. Seiring waktu, ini dapat membuat Anda ragu untuk mengambil langkah maju dalam hidup.
Sahabat sejati seharusnya membantu Anda tumbuh, bukan membuat Anda merasa kecil. Jika seseorang selalu menjatuhkan Anda tanpa memberikan dorongan positif, mungkin sudah saatnya menjaga jarak.
2. Teman yang Bertepuk Sebelah Tangan
Persahabatan haruslah hubungan yang saling memberi dan menerima. Namun, ada orang yang hanya muncul ketika mereka membutuhkan sesuatu—nasihat, dukungan emosional, atau sekadar tempat curhat.
Psikolog menyebut ini sebagai hubungan sepihak, di mana satu pihak terus-menerus memberi tanpa menerima dukungan yang sama. Seiring waktu, hal ini dapat membuat Anda merasa terkuras dan tidak dihargai.
Jika Anda selalu menjadi orang yang berusaha sementara mereka hanya mengambil tanpa memberi kembali, mungkin sudah waktunya untuk mempertimbangkan kembali hubungan tersebut.
3. Korban Abadi
Semua orang menghadapi tantangan, tetapi beberapa orang tampaknya selalu menjadi korban. Mereka menyalahkan dunia atas semua masalah yang mereka alami dan menolak untuk mengambil tanggung jawab.
Studi menunjukkan bahwa orang dengan mentalitas korban sering kali kesulitan berkembang karena mereka lebih fokus pada menyalahkan keadaan daripada mencari solusi. Mereka juga bisa menguras energi emosional orang-orang di sekitarnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
