Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 30 Maret 2025 | 11.10 WIB

Psikologi Ungkap Alasan Orang Tetap Bertahan di Pekerjaan yang Memberatkannya, Kamu Termasuk?

Ilustrasi wanita yang terstruktur dan rapi dalam melakukan pekerjaan. (Freepik) - Image

Ilustrasi wanita yang terstruktur dan rapi dalam melakukan pekerjaan. (Freepik)

JawaPos.com - Banyak orang bertahan dalam pekerjaan yang tidak lagi memberi kepuasan, meskipun mereka sadar ada sesuatu yang hilang dalam hidup mereka.

Secara logis, mencari pekerjaan baru yang lebih sesuai mungkin terasa seperti solusi yang tepat, tetapi kenyataannya, ada berbagai faktor psikologis dan praktis yang membuat seseorang tetap bertahan dalam kondisi tersebut.

Salah satu alasan utama adalah efek "sunk cost fallacy.", dikutip dari DMNews, Sabtu (29/3). Kondisi ini adalah ketika seseorang telah menghabiskan bertahun-tahun dalam sebuah pekerjaan, ada perasaan bahwa semua usaha dan waktu yang telah diinvestasikan akan sia-sia jika mereka keluar.

Studi dari Thrive Global menunjukkan bahwa banyak orang tetap bertahan di tempat kerja yang tidak lagi berkembang bagi mereka karena merasa sulit untuk meninggalkan sesuatu yang telah mereka bangun bertahun-tahun.

Ketakutan juga menjadi faktor besar. Ketidakpastian mengenai masa depan, apakah mereka bisa mendapatkan pekerjaan baru atau apakah akan gagal di tempat lain, sering kali menjadi penghalang utama.

Secara neurologis, otak manusia lebih memilih stabilitas dan hal yang sudah dikenal daripada menghadapi risiko, meskipun itu berarti bertahan dalam lingkungan yang tidak memuaskan.

Di sisi lain, banyak orang menciptakan narasi internal untuk membenarkan kondisi mereka. Mereka meyakinkan diri sendiri bahwa bekerja memang seharusnya melelahkan dan penuh tekanan, atau bahwa tidak ada pekerjaan yang benar-benar memuaskan.

Ini adalah bentuk disonansi kognitif, di mana mereka berusaha menyesuaikan perasaan tidak nyaman dengan realitas yang mereka jalani agar tetap merasa bisa menerimanya.

Selain faktor psikologis, ada juga kendala praktis yang sulit diabaikan. Banyak orang memiliki tanggungan finansial seperti cicilan rumah, biaya pendidikan anak, dan kebutuhan sehari-hari, yang membuat mereka enggan mengambil risiko dengan meninggalkan pekerjaan stabil.

Ditambah lagi, banyak perusahaan masih mementingkan produktivitas dibanding kesejahteraan karyawan, membuat lingkungan kerja yang penuh tekanan dianggap sebagai norma.

Namun, bukan berarti tidak ada jalan keluar. Kesadaran akan faktor-faktor yang menghambat perubahan adalah langkah pertama. Meskipun tidak semua orang bisa langsung berhenti dan beralih ke pekerjaan impian mereka, langkah kecil seperti mengeksplorasi minat baru, membangun keterampilan tambahan, atau mencari peluang sampingan bisa menjadi awal perubahan.

Penelitian dari Gallup menunjukkan bahwa pekerjaan yang memiliki makna bisa meningkatkan kebahagiaan seseorang secara signifikan, sehingga mencari jalan untuk mencapai kepuasan kerja adalah investasi jangka panjang yang layak dilakukan.

Menghadapi ketidakpastian memang tidak mudah, tetapi memahami alasan di balik keputusan untuk tetap bertahan dapat membuka peluang untuk perubahan.

Dengan langkah-langkah kecil yang konsisten, jalan keluar dari pekerjaan yang tidak memuaskan bisa mulai terbuka, membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih bermakna dan sejalan dengan nilai-nilai mereka.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore