
Ilustrasi kertas yang berisikan story telling (Dok. Pexels)
JawaPos.com - Setiap hari tanpa sadar, kita sebenarnya adalah para story teller. Ketika menceritakan pengalaman buruk di pasar kepada keluarga, atau berbagi kisah awal hubungan romantis dengan teman, kita sedang mempraktikkan seni bercerita yang ternyata memiliki kekuatan besar bagi kesehatan mental.
Dilansir dari Health Story Collaborative dan berbagai penelitian psikologi terkini pada Jumat (25/04/2025), story telling bukan sekadar hiburan. Aktivitas ini terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan empati, mengurangi stres, hingga membantu penyembuhan trauma. Berikut penjelasan lengkapnya.
Hubungan Story Telling dan Kesehatan Mental
Annie Brewster, dokter dari Harvard Medical School, mendirikan Health Story Collaborative setelah menyadari kekuatan terapi cerita. Organisasi ini membantu pasien memproses trauma melalui pertukaran kisah, membuktikan bahwa berbagi narasi bisa menjadi alat transformatif dalam dunia kesehatan.
6 Manfaat Story Telling untuk Mental
1. Melatih Kemampuan Mendengar dan Imajinasi
Mendengarkan cerita dengan aktif mengasah keterampilan sosial, sementara membaca cerita mengembangkan imajinasi. Imajinasi yang kuat justru membantu kita lebih tangguh menghadapi stres sehari-hari.
2. Meningkatkan Empati dan Daya Ingat
Saat terhubung dengan karakter dalam cerita, otak melepas oksitosin (hormon empati). Penelitian Stanford juga membuktikan informasi dalam bentuk narasi 22 kali lebih mudah diingat dibanding fakta mentah.
3. Memperbaiki Suasana Hati
Studi pada anak di ICU menunjukkan satu sesi story telling saja sudah menurunkan hormon stres (kortisol) dan meningkatkan hormon kebahagiaan. Cara kita bercerita ternyata bisa mengubah cara kita memandang hidup.
4. Terapi untuk Demensia
Terapi reminiscence (mengulang kisah masa lalu) terbukti membantu lansia dengan demensia memperkuat memori yang melemah, mirip dengan manfaat terapi musik.
5. Memperdalam Hubungan Sosial
Ilmuwan pun kini menggunakan story telling untuk menjembatani komunikasi teknis dengan publik. Kisah pribadi tentang proses penelitian ternyata lebih mudah dipahami daripada data mentah.
6. Membentuk Pola Pikir Baru
Kisah kegagalan yang diceritakan ulang dengan sudut pandang pembelajaran bisa memotivasi diri. Sebaliknya, mengingat narasi kesuksesan meningkatkan kepercayaan diri untuk menghadapi tantangan baru.
Mengubah Hidup Lewat Cerita
Terapi naratif membuktikan bahwa mengubah cara bercerita tentang masa lalu bisa menyembuhkan luka emosional. Misalnya, memaafkan orang tua yang dianggap pilih kasih di masa kecil akan membebaskan kita dari belenggu dendam.
