
Ilustrasi wanita sedang bekerja dari rumah (Dok. Pixabay)
JawaPos.com - Punya portofolio ciamik dan paham tools AI terbaru saja ternyata belum cukup. Di balik CV yang rapi dan sertifikat yang berderet, ada satu skill alias 'otot kognitif' yang diam-diam menentukan apakah kariermu melesat atau justru mentok.
AI hebat mengeksekusi pola yang sudah ada. Namun, pekerjaan manusia semakin bergerak ke wilayah yang ambigu, penuh ketidakpastian, dan sering tidak punya jawaban tunggal.
Di situlah cognitive complexity bekerja dengan memadukan logika, empati, intuisi, dan konteks bisnis secara bersamaan. Berikut penjelasannya!
Apa Itu Cognitive Complexity dan Kenapa Jarang Dimiliki Orang Biasa?
Dilansir dari situs Harvard Business School Working Knowledge, secara sederhana cognitive complexity diartikan sebagai kemampuan mengelola keruwetan dengan menahan godaan jawaban instan, memetakan masalah yang saling terkait, menguji asumsi, menyusun hipotesis alternatif, dan mengadaptasi strategi saat variabel bergeser.
Berdasarkan situs World Economic Forum, ini adalah kemampuan berpikir yang memungkinkan kamu melihat banyak sudut pandang, membaca pola dalam situasi yang ruwet, menimbang trade-off, lalu mengambil keputusan yang cepat tapi tetap bernas.
Kenapa Penting di Era AI?
Model AI bisa memberikan 10 opsi solusi, tetapi manusia dengan cognitive complexity yang baik tahu kapan tiap opsi dipakai, di mana batas etisnya, dan bagaimana efeknya bagi tim, pelanggan, serta reputasi perusahaan.
Dunia kerja kini lintas fungsi baik produk, data, pemasaran, legal, sampai compliance. Orang dengan cognitive complexity mampu menerjemahkan bahasa teknis ke bahasa bisnis dan sebaliknya, sehingga kolaborasi bergerak lebih cepat.
Banyak keputusan hari ini bukan 'A atau B', melainkan 'A dan B', tapi dengan porsi dan timing 'berbeda'. Misalnya, mengejar efisiensi lewat otomatisasi tanpa mengorbankan pengalaman pelanggan. Butuh cara berpikir both/and, bukan sekadar either/or.
World Economic Forum menempatkan analytical thinking dan creative thinking (komponen cognitive complexity) sebagai skill paling dicari hingga 2027.
Keterampilan inti ini terus naik kebutuhan pasarnya hingga beberapa tahun ke depan.
Sementara itu, LinkedIn Workplace Learning menyoroti perlunya menyeimbangkan kecakapan AI dengan 'power skills' (soft skill berdampak tinggi) agar organisasi benar-benar menuai manfaat AI.
Artinya, perusahaan tidak hanya butuh orang yang bisa memakai AI, tapi yang tahu kapan, bagaimana, dan untuk tujuan apa AI dipakai.
Tanda Kamu Sudah Punya Cognitive Complexity yang Kuat
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Brighton vs Crystal Palace di Liga Inggris: The Seagulls Kunci Kemenangan di Derby M23
Prediksi Skor Persebaya vs PSS Sleman: Green Force Diunggulkan, Elang Jawa Tak Bisa Diremehkan
Prediksi Skor Persib vs Persik di Super League: Pangeran Biru Susah Payah Jinakkan Macan Putih
Prediksi Skor Lyon vs Nice: Les Gones Buru Kemenangan demi Melesat ke 3 Besar Klasemen Ligue 1
Celios Benarkan Akuisisi Saham BYAN Salah Satu Sebab Pasar Saham RI Terancam Downgrade
Francisco Rivera dan Matheus Lagoa Absen, Persebaya Surabaya Tetap Pede Pecundangi PSS Sleman
Prediksi Skor Juventus vs Lazio: Biancocelesti Bakal Merepotkan Tuan Rumah di Allianz Stadium
Prediksi Skor Nottingham Forest vs Arsenal: Ujian Ketajaman Lini Serang Skuad Mikel Arteta
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persik Kediri: Marcos Reina Tak Mau Anggap Remeh
Prediksi Skor Leeds United vs Manchester United: Lisandro Martinez Sulit Masuk Starter

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022