
seseorang yang bertindak cerdas saat menghadapi orang toxic (Magnific/The Yuri Arcurs Collection)
Orang yang toxic biasanya bukan hanya membuat kita kesal dalam satu atau dua kesempatan. Polanya dapat berulang: sering merendahkan, memanipulasi, menyalahkan orang lain, melanggar batasan, memancing konflik, atau membuat kita terus-menerus merasa bersalah.
Masalahnya, menghadapi orang seperti ini dengan emosi yang sama kerasnya sering kali justru membuat keadaan semakin buruk.
Kita membalas perkataannya dengan kemarahan. Dia menyerang, kita menyerang balik. Dia memancing emosi, kita terpancing. Akhirnya, percakapan berubah menjadi pertengkaran dan kita sendiri yang kehilangan ketenangan.
Padahal, bertindak cerdas bukan berarti harus memenangkan perdebatan.
Bertindak cerdas berarti mampu menjaga kendali atas diri sendiri, memahami batasan, dan memilih respons yang paling sehat untuk diri kita.
Dalam psikologi, kemampuan untuk mengatur respons terhadap situasi yang membuat stres berkaitan dengan regulasi emosi, pengendalian diri, komunikasi asertif, dan kemampuan menetapkan batasan.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (11/10), jika kamu sedang berhadapan dengan seseorang yang perilakunya terus-menerus menguras energi, enam perilaku berikut dapat membantu.
1. Jangan Berikan Reaksi Emosional yang Mereka Cari
Salah satu kesalahan terbesar ketika menghadapi orang yang suka memancing konflik adalah langsung memberikan reaksi emosional.
Mereka berkata sesuatu yang menyakitkan, kita langsung marah.
Mereka menyindir, kita membalas.
Mereka menuduh, kita buru-buru membela diri.
Mereka menaikkan suara, kita ikut menaikkan suara.
Tanpa disadari, kita membiarkan orang lain mengendalikan keadaan emosional kita.
Padahal, salah satu bentuk kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk menciptakan jarak antara stimulus dan respons.
Artinya, ketika seseorang mengatakan sesuatu yang membuat kita tersinggung, kita tidak harus langsung menjawabnya.
Berhenti sejenak.
Tarik napas.
Pahami apa yang sebenarnya terjadi.
Kemudian tentukan apakah perkataan tersebut memang perlu ditanggapi.
Orang yang tenang bukan berarti tidak memiliki emosi. Justru sebaliknya, dia menyadari emosinya tetapi tidak membiarkan emosi tersebut mengambil alih perilakunya.
Misalnya, seseorang berkata:
"Kamu memang selalu menyusahkan orang lain."
Kamu tidak harus menjawab:
"Kamu juga sama saja!"
Respons seperti itu hanya membuka pintu menuju pertengkaran baru.
Kamu bisa menjawab dengan lebih tenang:
"Saya tidak setuju dengan penilaian itu. Kalau ada masalah tertentu yang ingin dibicarakan, kita bisa membahasnya dengan jelas."
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar.
Kamu tidak menyerang.
Kamu tidak merendahkan.
Kamu juga tidak membiarkan dirimu diinjak.
Kamu hanya mengambil kembali kendali atas responsmu sendiri.
Kecerdasan bukan selalu tentang memiliki jawaban paling tajam. Kadang-kadang, kecerdasan terlihat dari kemampuan untuk tidak memberikan reaksi yang diharapkan orang lain.
2. Tetapkan Batasan yang Jelas dan Konsisten
Orang yang memiliki perilaku toxic sering kali menguji batasan orang lain.
Ketika kamu membiarkan seseorang berbicara kasar sekali, mungkin dia akan melakukannya lagi.
Ketika kamu selalu bersedia membantu meskipun sudah kelelahan, dia mungkin menganggap ketersediaanmu sebagai sesuatu yang memang seharusnya diberikan.
Ketika kamu selalu memaafkan tanpa ada perubahan perilaku, pola yang sama bisa terus berulang.
Karena itu, batasan atau boundaries menjadi sangat penting.
Batasan bukan berarti kamu membenci seseorang.
Batasan juga bukan berarti kamu menjadi orang yang egois.
Batasan adalah cara untuk menjelaskan apa yang dapat dan tidak dapat kamu terima dalam sebuah hubungan.
Contohnya:
"Saya bersedia membicarakan masalah ini, tetapi saya tidak akan melanjutkan percakapan jika kamu terus berteriak."
Atau:
"Saya tidak bisa membantu kali ini karena saya sedang memiliki tanggung jawab lain."
Atau:
"Saya tidak nyaman jika kehidupan pribadi saya dibicarakan kepada orang lain. Tolong hormati hal tersebut."
Perhatikan bahwa batasan yang sehat tidak perlu disampaikan dengan ancaman.
Kamu tidak perlu mengatakan:
"Kalau kamu melakukan itu lagi, saya akan membuat hidupmu berantakan."
Itu bukan batasan yang sehat. Itu adalah ancaman.
Batasan yang sehat berfokus pada apa yang kamu lakukan untuk melindungi dirimu.
Misalnya:
"Kalau pembicaraan berubah menjadi penghinaan, saya akan mengakhiri percakapan dan kita bisa membicarakannya lagi ketika suasananya lebih tenang."
Yang paling penting adalah konsistensi.
Jangan menetapkan batasan hari ini lalu mengabaikannya besok.
Jika batasan terus berubah, orang lain akan kesulitan memahami bahwa kamu benar-benar serius.
Batasan bukan tembok untuk menjauhkan semua orang. Batasan adalah pintu yang menentukan bagaimana orang lain boleh memperlakukan kita.
3. Berhenti Berusaha Mengubah Mereka
Ini mungkin salah satu hal yang paling sulit dilakukan.
Ketika kita melihat seseorang bersikap buruk, kita sering berpikir:
"Mungkin kalau saya menjelaskannya dengan baik, dia akan berubah."
"Mungkin kalau saya lebih sabar, dia akan memahami saya."
"Mungkin kalau saya menunjukkan bahwa saya tulus, dia akan berhenti memperlakukan saya seperti ini."
Harapan seperti itu manusiawi.
Namun, ada satu kenyataan penting yang perlu diterima:
Kita tidak bisa memaksa seseorang berubah jika dia sendiri tidak ingin berubah.
Kamu bisa menjelaskan.
Kamu bisa memberikan contoh.
Kamu bisa menyampaikan perasaan.
Kamu bisa memberikan kesempatan.
Tetapi keputusan untuk berubah tetap berada di tangan orang tersebut.
Banyak orang akhirnya kelelahan bukan hanya karena perilaku orang toxic, tetapi karena mereka terus berusaha memperbaiki orang tersebut.
Setiap hari mereka menganalisis:
"Mengapa dia seperti itu?"
"Apa yang harus saya katakan agar dia sadar?"
"Apa kesalahan saya sehingga dia memperlakukan saya seperti ini?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa membuat kita terus berputar dalam masalah yang sama.
Daripada bertanya:
"Bagaimana caranya mengubah dia?"
cobalah bertanya:
"Apa yang bisa saya kendalikan dari situasi ini?"
Kamu mungkin tidak dapat mengendalikan apakah seseorang akan marah.
Tetapi kamu dapat mengendalikan apakah kamu akan ikut berteriak.
Kamu tidak dapat mengendalikan apakah seseorang akan bergosip.
Tetapi kamu dapat mengendalikan apakah kamu akan ikut menyebarkan gosip tersebut.
Kamu tidak dapat mengendalikan apakah seseorang menghargai batasanmu.
Tetapi kamu dapat menentukan apa yang akan kamu lakukan ketika batasan itu terus dilanggar.
Fokus pada wilayah yang berada dalam kendalimu.
Itulah bentuk kedewasaan psikologis yang jauh lebih sehat.
4. Jangan Terjebak dalam Keinginan untuk Selalu Membuktikan Bahwa Kamu Benar
Ketika seseorang memperlakukan kita dengan tidak adil, ada dorongan kuat untuk membuktikan bahwa kita benar.
Kita ingin menjelaskan semuanya.
Kita ingin menunjukkan bukti.
Kita ingin orang lain memahami sudut pandang kita.
Dan dalam beberapa situasi, memang penting untuk memperjuangkan kebenaran.
Namun, tidak setiap perdebatan harus dimenangkan.
Ada orang yang berdiskusi untuk mencari solusi.
Tetapi ada pula orang yang berdiskusi hanya untuk mendapatkan kemenangan.
Jika kamu berhadapan dengan tipe kedua, semakin banyak kamu menjelaskan, semakin panjang percakapannya.
Kamu memberikan satu penjelasan.
Dia memberikan tuduhan baru.
Kamu menjawab tuduhan tersebut.
Dia mengubah topik.
Kamu kembali menjelaskan.
Lalu muncul tuduhan lain.
Akhirnya, kamu menghabiskan energi untuk membuktikan sesuatu kepada seseorang yang sebenarnya tidak berniat memahami.
Dalam psikologi komunikasi, kemampuan untuk mengetahui kapan sebuah percakapan sudah tidak produktif merupakan keterampilan penting.
Kamu tidak harus menjelaskan dirimu tanpa batas.
Kadang-kadang cukup mengatakan:
"Saya sudah menjelaskan posisi saya."
"Kita memiliki pandangan yang berbeda."
"Saya tidak ingin memperpanjang perdebatan ini."
Kemudian berhenti.
Diam bukan berarti kalah.
Mengakhiri percakapan bukan berarti kamu tidak memiliki argumen.
Kadang-kadang, berhenti berdebat adalah cara untuk melindungi kesehatan mental dan energi emosionalmu.
Bayangkan kamu sedang memegang tali yang ditarik oleh orang lain.
Jika dia terus menarik dan kamu terus melawan dengan tenaga yang sama, kamu akan kelelahan.
Tetapi jika kamu melepaskan tali itu, permainan tersebut selesai.
Begitu pula dengan beberapa konflik.
Tidak semua konflik harus kamu menangkan.
Sebagian hanya perlu kamu tinggalkan.
5. Kurangi Informasi Pribadi yang Kamu Berikan
Ketika berhadapan dengan orang yang belum sepenuhnya kamu percaya, berhati-hatilah dengan informasi pribadi yang kamu bagikan.
Ini bukan berarti kamu harus menjadi orang yang tertutup atau curiga kepada semua orang.
Namun, keterbukaan sebaiknya disertai dengan pertimbangan mengenai siapa yang menerima informasi tersebut.
Tidak semua orang perlu mengetahui masalah keluargamu.
Tidak semua orang perlu mengetahui kelemahanmu.
Tidak semua orang perlu mengetahui rencana masa depanmu.
Dan tidak semua orang perlu mengetahui konflik yang sedang kamu alami.
Mengapa?
Karena informasi pribadi dapat menjadi sesuatu yang sensitif jika berada di tangan orang yang tidak menghargai privasi.
Misalnya, kamu bercerita kepada seseorang bahwa kamu sedang mengalami masalah di tempat kerja.
Orang yang bijaksana mungkin mendengarkan dan memberikan dukungan.
Tetapi orang yang suka bergosip bisa menjadikan cerita tersebut sebagai bahan pembicaraan.
Karena itu, belajar membedakan antara ramah dan terlalu terbuka adalah hal yang penting.
Kamu tetap bisa bersikap baik tanpa menceritakan seluruh kehidupanmu.
Kamu tetap bisa bersikap hangat tanpa memberikan semua detail tentang dirimu.
Kamu tetap bisa membangun hubungan tanpa kehilangan privasi.
Ada sebuah prinsip sederhana yang bisa kamu ingat:
Kepercayaan tidak harus diberikan sekaligus. Kepercayaan dapat dibangun sedikit demi sedikit berdasarkan konsistensi perilaku seseorang.
Perhatikan bagaimana seseorang memperlakukan informasi kecil sebelum kamu memberikan informasi yang lebih pribadi.
6. Ketahui Kapan Harus Menjauh
Ini mungkin perilaku yang paling sulit sekaligus paling penting.
Ada saatnya komunikasi, batasan, dan kesabaran masih bisa membantu.
Tetapi ada pula kondisi ketika menjaga jarak menjadi pilihan yang lebih sehat.
Jika seseorang terus-menerus merendahkanmu, memanipulasimu, mengintimidasi, mengontrol hidupmu, atau melanggar batasan meskipun sudah berkali-kali dibicarakan, kamu tidak selalu harus terus bertahan hanya karena hubungan tersebut sudah berlangsung lama.
Lama mengenal seseorang bukan alasan untuk membiarkan dirimu terus diperlakukan buruk.
Begitu pula dengan hubungan yang memiliki sejarah panjang.
Masa lalu yang baik tidak otomatis membenarkan perilaku buruk yang terjadi sekarang.
Menjauh bukan berarti kamu membenci orang tersebut.
Kadang-kadang menjauh berarti kamu menyadari bahwa hubungan tersebut sudah tidak sehat untuk dipertahankan dalam bentuk yang sama.
Jika tidak memungkinkan untuk benar-benar memutus hubungan—misalnya karena orang tersebut adalah rekan kerja atau anggota keluarga—kamu tetap bisa mengurangi interaksi yang tidak perlu.
Bicarakan hal-hal yang penting.
Jaga komunikasi tetap jelas.
Hindari konflik yang tidak produktif.
Pertahankan batasan.
Dan jangan merasa harus menjelaskan setiap keputusanmu kepada mereka.
Dalam situasi yang melibatkan ancaman, kekerasan, atau kontrol yang serius, keselamatan harus menjadi prioritas. Jangan menghadapi situasi seperti itu sendirian; carilah dukungan dari orang yang dipercaya atau bantuan profesional yang sesuai.
Menghadapi Orang Toxic Bukan Tentang Menjadi Lebih Keras
Ada kesalahpahaman bahwa ketika menghadapi orang yang toxic, kita harus menjadi lebih keras daripada mereka.
Padahal, sering kali yang lebih efektif justru sebaliknya.
Kamu tidak perlu menjadi kasar untuk menjadi tegas.
Kamu tidak perlu membalas penghinaan dengan penghinaan.
Kamu tidak perlu memenangkan semua argumen.
Kamu tidak perlu membuat mereka merasa bersalah.
Yang perlu kamu lakukan adalah memiliki kendali atas dirimu sendiri.
Kamu bisa berkata tidak.
Kamu bisa meninggalkan percakapan.
Kamu bisa menjaga jarak.
Kamu bisa berhenti menjelaskan sesuatu kepada orang yang tidak mau memahami.
Dan yang paling penting, kamu bisa memilih untuk tidak membiarkan perilaku seseorang menentukan siapa dirimu.
Orang lain mungkin mencoba membuatmu marah.
Mereka mungkin mencoba membuatmu merasa bersalah.
Mereka mungkin mencoba memutarbalikkan keadaan.
Tetapi kamu tetap memiliki pilihan tentang bagaimana meresponsnya.
Itulah kekuatan yang sebenarnya.
Jangan Sampai Kamu Menjadi Toxic Karena Berusaha Menghadapi Orang Toxic
Ada satu hal lagi yang sering terlupakan.
Ketika terlalu lama berhadapan dengan perilaku buruk, seseorang bisa tanpa sadar menirunya.
Karena sering dimarahi, kita menjadi mudah marah.
Karena sering disalahkan, kita mulai menyalahkan orang lain.
Karena sering dimanipulasi, kita belajar memanipulasi balik.
Karena sering direndahkan, kita mulai merendahkan orang lain.
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Tujuan dari menghadapi orang yang toxic bukanlah menjadi lebih toxic daripada mereka.
Tujuannya adalah tetap menjadi versi dirimu yang sehat meskipun berada di lingkungan yang tidak sehat.
Tetap tegas tanpa menjadi kasar.
Tetap baik tanpa menjadi mudah dimanfaatkan.
Tetap terbuka tanpa mengabaikan batasan.
Tetap tenang tanpa membiarkan orang lain menginjak harga dirimu.
Itulah keseimbangan yang sebenarnya.
Kesimpulan: Kecerdasan Terbesar Adalah Kemampuan Mengendalikan Diri
Jika kamu ingin bertindak cerdas ketika menghadapi orang yang memiliki perilaku toxic, ingat enam hal ini:
Pertama, jangan memberikan reaksi emosional yang mereka cari.
Kedua, tetapkan batasan yang jelas dan konsisten.
Ketiga, berhenti berusaha mengubah orang yang tidak ingin berubah.
Keempat, jangan terjebak dalam keinginan untuk selalu membuktikan bahwa kamu benar.
Kelima, jaga informasi pribadi dan jangan memberikan kepercayaan secara sembarangan.
Keenam, ketahui kapan harus menjaga jarak atau meninggalkan hubungan yang terus merugikanmu.
Pada akhirnya, menghadapi orang yang sulit bukanlah perlombaan tentang siapa yang paling keras.
Ini tentang siapa yang mampu mempertahankan kendali atas dirinya sendiri.
Kamu tidak bisa memilih bagaimana orang lain bersikap kepadamu.
Tetapi kamu selalu dapat belajar memilih bagaimana kamu meresponsnya.
Dan terkadang, respons paling cerdas bukanlah membalas.
Bukan pula menjelaskan panjang lebar.
Melainkan menarik napas, menetapkan batasan, menjaga jarak, lalu melanjutkan hidup dengan tenang.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Persela Lamongan vs Deltras: Duel Sengit Dua Tim Teratas Grup B Championship
Prediksi Skor PSS Sleman vs PSM Makassar: Super Elang Jawa Berambisi Raih Kemenangan Pertama
Prediksi Skor Arema FC vs Bhayangkara FC: Berpeluang Imbang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Feyenoord vs AZ Alkmaar: Sama-Sama Produktif, Laga Berpotensi Imbang
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Surabaya Panas! Keringat Penjahit, Kipas Angin Laris, dan Tagihan Listrik Bengkak
Prediksi Skor Barcelona vs Getafe di Liga Spanyol: Blaugrana Pesta Gol di Camp Nou
Prediksi Susunan Pemain Como vs AS Roma: Fabregas Siapkan Taktik Subbuteo
Prediksi Skor Racing Santander vs Valencia: Los Che Terdesak, Hasil Imbang Jadi Skenario Realistis
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Emil Audero Incar Poin di Kandang

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022