Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03.10 WIB

Menciptakan Hari Terbaik dari Hari-Hari yang Terasa Biasa Versi Kamu, Lakukan 6 Cara Ini

seseorang yang membuat hari menjadi baik / foto: Magnific/magnific

 

JawaPos.com - Tidak semua hari datang dengan kabar baik.

Ada hari ketika kita bangun dengan semangat, punya banyak rencana, bertemu orang-orang menyenangkan, menyelesaikan pekerjaan, lalu pulang dengan perasaan puas.

Tetapi ada juga hari yang terasa begitu biasa.

Bangun. Mandi. Bekerja. Makan. Menatap layar. Pulang. Tidur.

Besok mengulanginya lagi.

Tidak ada masalah besar, tetapi juga tidak ada sesuatu yang terasa istimewa.

Pada hari-hari seperti itu, kita sering berpikir bahwa hidup sedang berjalan di tempat. Kita menunggu sesuatu terjadi agar hari terasa lebih berarti: menunggu liburan, menunggu akhir pekan, menunggu gajian, menunggu bertemu seseorang, atau menunggu hidup menjadi lebih baik.

Padahal, psikologi menunjukkan bahwa pengalaman kita terhadap sebuah hari tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi, tetapi juga oleh bagaimana kita memperhatikan, menafsirkan, dan menjalani apa yang terjadi.

Artinya, hari yang biasa tidak selalu harus berubah menjadi hari yang luar biasa.

Kadang-kadang, kita hanya perlu mengubah cara kita hadir di dalamnya.

Hari terbaik versi kamu mungkin bukan hari ketika semuanya berjalan sempurna.

Bisa jadi, hari terbaik adalah hari ketika kamu merasa cukup hadir untuk menikmati hal-hal kecil yang biasanya terlewatkan.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (16/10), terdapat enam cara sederhana yang bisa membantu mengubah hari-hari biasa menjadi lebih bermakna.

1. Berhenti Menunggu Hari yang Sempurna

Salah satu jebakan psikologis yang sering kita alami adalah menganggap kebahagiaan selalu berada di masa depan.

“Kalau pekerjaan ini selesai, aku akan lebih tenang.”

“Kalau punya lebih banyak uang, aku akan lebih bahagia.”

“Kalau sudah liburan, baru aku bisa menikmati hidup.”

“Kalau semuanya sudah beres, aku akan punya waktu untuk diriku sendiri.”

Masalahnya, hidup hampir tidak pernah benar-benar “sudah beres”.

Satu masalah selesai, masalah lain muncul.

Satu target tercapai, muncul target berikutnya.

Kita akhirnya hidup dalam mode menunggu.

Menunggu kehidupan yang ideal sambil melewatkan kehidupan yang sedang berlangsung.

Dalam psikologi, kecenderungan ini berkaitan dengan bagaimana manusia terus beradaptasi terhadap kondisi baru. Sesuatu yang awalnya membuat kita bahagia lama-lama dapat terasa biasa. Karena itu, mengejar kondisi eksternal tertentu sebagai sumber kebahagiaan permanen sering kali tidak menghasilkan kepuasan yang bertahan lama.

Jadi, daripada berkata:

“Aku akan menikmati hidup ketika semuanya lebih baik,”

cobalah mengubahnya menjadi:

“Apa yang bisa kunikmati dari hidup yang sedang berlangsung hari ini?”

Mungkin jawabannya sederhana.

Kopi yang masih hangat.

Udara pagi.

Musik yang kamu sukai.

Percakapan singkat dengan teman.

Makanan yang enak.

Perjalanan pulang tanpa terburu-buru.

Lima belas menit membaca buku.

Atau sekadar perasaan lega setelah menyelesaikan satu pekerjaan kecil.

Hari yang baik tidak harus penuh pencapaian.

Kadang, hari yang baik adalah hari ketika kita berhenti menuntut kehidupan untuk selalu memberikan sesuatu yang spektakuler.

2. Ciptakan Satu Momen yang Sengaja Kamu Tunggu

Hari biasa terasa membosankan ketika semuanya berjalan secara otomatis.

Bangun karena alarm.

Bekerja karena kewajiban.

Makan karena lapar.

Pulang karena jam kerja selesai.

Tidur karena sudah malam.

Kita menjalani hari, tetapi jarang benar-benar memilih bagaimana ingin menjalaninya.

Karena itu, cobalah menciptakan satu momen kecil yang sengaja kamu nantikan setiap hari.

Tidak perlu sesuatu yang mahal.

Tidak perlu restoran mewah.

Tidak perlu perjalanan jauh.

Misalnya:

membuat kopi dengan cara yang kamu sukai sebelum bekerja,

berjalan kaki selama 15 menit setelah makan,

membeli makanan favorit seminggu sekali,

membaca beberapa halaman buku sebelum tidur,

menonton satu episode serial favorit,

menelepon seseorang yang membuatmu nyaman,

duduk di tempat favorit sambil mendengarkan musik,

atau menikmati matahari pagi tanpa memegang ponsel.

Secara psikologis, sesuatu yang menyenangkan tidak hanya memberikan manfaat ketika kita mengalaminya.

Antisipasi terhadap pengalaman menyenangkan juga dapat menjadi bagian dari pengalaman positif itu sendiri.

Itulah sebabnya terkadang kita sudah merasa senang hanya karena tahu bahwa malam nanti ada sesuatu yang kita sukai.

Cobalah membuat struktur kecil seperti ini:

Pagi: sesuatu yang membuatmu nyaman.
Siang: sesuatu yang membuatmu produktif.
Sore/malam: sesuatu yang membuatmu merasa hidup.

Dengan begitu, hari tidak hanya menjadi rangkaian kewajiban.

Ada sesuatu yang kamu pilih sendiri di dalamnya.

3. Jangan Hanya Mencari Hal Besar. Latih Diri Menyadari Hal Kecil

Kita sering berpikir bahwa untuk merasa bersyukur, harus ada sesuatu yang luar biasa.

Padahal, salah satu cara sederhana untuk meningkatkan kualitas pengalaman sehari-hari adalah melatih perhatian terhadap hal-hal kecil yang sebenarnya sudah ada.

Psikologi positif banyak membahas pentingnya rasa syukur dan perhatian terhadap pengalaman positif.

Masalahnya, otak manusia memiliki kecenderungan memperhatikan sesuatu yang salah.

Email yang belum dibalas lebih mudah memenuhi pikiran daripada sepuluh pesan yang sudah selesai.

Satu komentar negatif bisa terasa lebih kuat daripada banyak komentar positif.

Satu masalah kecil dapat membuat kita lupa bahwa sebenarnya hari itu berjalan cukup baik.

Karena itu, cobalah melakukan latihan sederhana.

Di akhir hari, tanyakan tiga hal:

Apa yang berjalan cukup baik hari ini?

Apa yang membuatku merasa nyaman?

Momen kecil apa yang sebenarnya layak kuingat?

Tidak perlu jawaban yang mengagumkan.

Contohnya:

“Pagi tadi aku tidak terburu-buru.”

“Teman kerjaku membuatku tertawa.”

“Makan siang tadi enak.”

“Hari ini aku berhasil menyelesaikan sesuatu yang sudah lama kutunda.”

“Perjalanan pulang cukup lancar.”

“Aku tidur lebih cepat tadi malam.”

Hal-hal seperti itu mungkin tampak kecil.

Tetapi hidup memang sebagian besar tersusun dari hal-hal kecil.

Jika kita hanya menganggap momen besar sebagai sesuatu yang layak dirayakan, kita akan melewatkan sebagian besar kehidupan kita sendiri.

4. Beri Perhatian Penuh pada Satu Hal

Pernahkah kamu makan sambil menonton video, membalas pesan, dan memikirkan pekerjaan sekaligus?

Atau berjalan sambil memikirkan masa depan?

Atau sedang berbicara dengan seseorang tetapi sebagian pikiranmu sebenarnya sibuk memikirkan sesuatu yang lain?

Kita sering hadir secara fisik, tetapi tidak sepenuhnya hadir secara mental.

Padahal, kualitas pengalaman sangat dipengaruhi oleh perhatian.

Sebuah kegiatan sederhana dapat terasa jauh lebih menyenangkan ketika kita benar-benar hadir di dalamnya.

Cobalah eksperimen kecil.

Saat minum kopi, jangan langsung membuka ponsel.

Perhatikan aromanya.

Rasakan suhunya.

Nikmati rasanya.

Duduk selama beberapa menit tanpa merasa harus melakukan sesuatu.

Saat makan, coba benar-benar makan.

Saat berbicara dengan seseorang, dengarkan tanpa buru-buru memikirkan jawaban.

Saat berjalan, sesekali perhatikan lingkungan sekitar.

Ini bukan berarti kamu harus bermeditasi sepanjang hari.

Intinya sederhana:

Jangan selalu terburu-buru meninggalkan momen yang sedang kamu jalani demi mengejar momen berikutnya.

Banyak hari terasa membosankan bukan karena tidak ada hal menarik di dalamnya, tetapi karena kita tidak benar-benar hadir untuk mengalaminya.

5. Lakukan Satu Hal yang Membuatmu Merasa Berkembang

Ada perbedaan antara merasa sibuk dan merasa bertumbuh.

Kita bisa bekerja seharian, menjawab puluhan pesan, menyelesaikan banyak tugas, lalu tetap merasa bahwa hari itu tidak menghasilkan sesuatu yang berarti.

Salah satu penyebabnya adalah manusia tidak hanya membutuhkan kesenangan.

Kita juga membutuhkan rasa bahwa hidup kita bergerak.

Karena itu, masukkan satu aktivitas kecil yang membuatmu merasa berkembang.

Tidak perlu satu jam.

Bahkan 10–20 menit bisa menjadi awal.

Kamu bisa:

membaca beberapa halaman buku,

belajar bahasa baru,

berolahraga,

menulis,

mempelajari keterampilan baru,

merapikan sesuatu yang selama ini berantakan,

menyelesaikan tugas yang sudah lama ditunda,

atau membuat sesuatu dengan tanganmu sendiri.

Yang penting bukan seberapa besar hasilnya.

Yang penting adalah munculnya perasaan:

“Hari ini aku sedikit lebih maju daripada kemarin.”

Perasaan kompeten dan memiliki kendali terhadap hidup merupakan bagian penting dari kesejahteraan psikologis.

Kita tidak harus mengalami perubahan besar setiap hari.

Pertumbuhan kecil yang konsisten juga dapat memberikan rasa makna.

Jadi, kalau hari ini terasa biasa, tanyakan:

“Apa satu hal kecil yang bisa membuat diriku besok sedikit lebih baik?”

Lalu lakukan.

6. Jangan Ukur Hari Ini dengan Hari Terbaik Orang Lain

Ini mungkin salah satu hal paling penting.

Hari biasa kita sering terasa buruk bukan karena hari itu benar-benar buruk, tetapi karena kita membandingkannya dengan kehidupan orang lain.

Kita melihat seseorang sedang berlibur.

Seseorang mendapatkan promosi.

Seseorang menikah.

Seseorang membeli rumah.

Seseorang memulai bisnis.

Seseorang terlihat bahagia.

Lalu kita melihat hidup sendiri:

Masih bekerja.

Masih punya masalah.

Masih mencari arah.

Masih menjalani rutinitas yang sama.

Akhirnya kita menyimpulkan:

“Hidupku tidak sebagus itu.”

Padahal, kita sedang membandingkan kehidupan kita yang lengkap dengan potongan terbaik dari kehidupan orang lain.

Media sosial membuat perbandingan seperti ini semakin mudah terjadi.

Kita melihat hasil, tetapi tidak melihat proses.

Kita melihat pencapaian, tetapi tidak melihat kecemasan.

Kita melihat liburan, tetapi tidak melihat hari-hari biasa di antara dua perjalanan.

Kita melihat senyuman, tetapi tidak tahu apa yang terjadi setelah kamera dimatikan.

Karena itu, cobalah mengubah standar.

Jangan bertanya:

“Apakah hari ini sehebat kehidupan orang lain?”

Tanyakan:

“Apakah hari ini terasa baik untuk diriku?”

Mungkin hari terbaik versi orang lain adalah pergi ke tempat baru.

Tetapi hari terbaik versi kamu mungkin hanya berupa tidur yang cukup, menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, makan bersama keluarga, dan tidur dengan pikiran yang lebih tenang.

Itu tetap berharga.

Kita tidak harus menjalani kehidupan yang terlihat luar biasa untuk memiliki kehidupan yang terasa berarti.

Pada Akhirnya, Hari Terbaik Tidak Selalu Terlihat Istimewa

Ada sesuatu yang menarik tentang kehidupan.

Kita sering mengingat momen-momen besar: kelulusan, perjalanan, pernikahan, pencapaian, pertemuan penting.

Tetapi sebagian besar waktu hidup kita sebenarnya dihabiskan pada hari-hari biasa.

Hari Senin.

Hari Selasa.

Hari ketika tidak ada berita besar.

Hari ketika tidak ada pencapaian luar biasa.

Hari ketika semuanya hanya berjalan seperti biasanya.

Dan mungkin justru di situlah tantangannya.

Kita tidak bisa menunggu hidup menjadi luar biasa setiap hari.

Kita perlu belajar menemukan sesuatu yang berarti di dalam hari yang biasa.

Bukan dengan memaksa diri untuk selalu bahagia.

Bukan dengan berpura-pura bahwa semua masalah tidak ada.

Bukan juga dengan mengubah setiap hari menjadi proyek produktivitas.

Tetapi dengan belajar hadir.

Memilih.

Menghargai.

Bertumbuh.

Dan menikmati hal-hal kecil.

Jadi, jika hari ini terasa biasa, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa hari ini tidak berarti.

Mungkin kamu hanya belum memberinya cukup perhatian.

Mungkin ada satu percakapan kecil yang bisa kamu nikmati.

Satu makanan yang bisa kamu syukuri.

Satu pekerjaan yang bisa kamu selesaikan.

Satu orang yang bisa kamu hubungi.

Satu hal baru yang bisa kamu pelajari.

Satu momen ketika kamu bisa berhenti sejenak dan berkata:

“Aku ada di sini. Dan untuk beberapa menit ini, aku tidak perlu berada di tempat lain.”

Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya kumpulan hari-hari besar.

Hidup adalah kumpulan hari biasa yang kita jalani dengan penuh kesadaran.

Dan mungkin, menciptakan hari terbaik bukan tentang membuat hari menjadi luar biasa.

Melainkan belajar membuat hari yang biasa terasa cukup berarti untuk disyukuri.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore