
SUKARIA: Meski hanya melagukan chant-chant yang terdengar di tribun, Stand for Pride tetap mendapat respek yang besar dari para pendengar musik. (Instagram Stand for Pride)
JawaPos.com - Kanalisasi rasa cinta kepada klub sepak bola di kota masing-masing pun hadir melalui ruang bermusik. Mulai Stand for Pride (Surabaya), Mental Baja (Jakarta), Player 12 (Lamongan), DOM 65 (Jogja), sampai The Working Class Symphony/TWCS (Solo).
Stand for Pride lahir dari rahim suporter Persebaya Surabaya. Mereka lahir dari salah satu komunitas suporter setia yang hadir di tribun Stadion Gelora Bung Tomo. Yakni, Green Nord.
Lagu-lagu band beraliran street rock tersebut berasal dari chant-chant yang dinyanyikan Bonek –sebutan fans Persebaya– di stadion. Chant-chant Bonek itu hanya bisa dinikmati dan didengar mereka yang setia datang ke stadion.
’’Itu yang jadi alasan kami akhirnya membentuk band. Agar chant-chant ini bisa didengarkan orang di luar stadion,’’ ucap Ismail, gitaris Stand for Pride.
Pria yang akrab disapa Mas Is itu tahu betul pilihan menyanyikan chant-chant untuk Persebaya tersebut akan membatasi Stand for Pride. Atau, simpelnya mereka hanya akan terkenal di skena musik Surabaya. Sulit menembus skena musik nasional.
Tapi, karena rasa cinta kepada Persebaya, Mas Is menerima dengan lapang hati konsekuensi tersebut. ’’Kami juga tidak peduli, sampai kapan pun kami akan menyanyikan lagu untuk Persebaya. Mungkin kami memang tidak bisa main di kota-kota lawan, tapi itu sudah pilihan kami ketika memutuskan ngeband,’’ kata Mas Is.
Jika Stand for Pride lahir dari tribun, TWCS ataupun DOM 65 punya cerita berbeda. Satu Jiwa, lagu TWCS yang kini jadi anthem Persis Solo di Liga 2, sebetulnya berkisah tentang kerinduannya akan sebuah kebersamaan di skena Sriwedari. Sebuah komunitas musik underground di Kota Solo.
’’Kemudian bisa jadi anthem karena andil suporter Persis sendiri yang pernah melihat band saya, TWCS, tampil. Karena semua nyanyi bersama dan akhirnya Satu Jiwa dibawa ke tribun oleh mereka,’’ kata personel TWCS Zulham Fatahillah.
Sementara itu, Adnan D. Kusuma, salah satu pentolan band DOM 65, mengatakan tak bisa menampik bahwa bandnya identik dengan klub PSIM Jogja. Band beraliran street punk itu punya dua lagu yang kerap dinyanyikan suporter PSIM di stadion. Judulnya Fortuna dan Never Rust. Fortuna bahkan menjadi lagu wajib setiap PSIM main di Stadion Mandala Krida, markas tim berjuluk Laskar Mataram itu.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=7Pl1lTafFZQ&ab_channel=JawaPos

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
