Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 April 2025 | 17.58 WIB

Until Dawn: Mati Berkali-kali Demi Bertahan Hidup Hingga Pagi Hari

Adegan dalam film Until Dawn. (Istimewa) - Image

Adegan dalam film Until Dawn. (Istimewa)

JawaPos.com - Apa yang lebih buruk dari mati dengan cara yang sadis dan tidak manusiawi? Jawabannya: Mati dengan cara yang sadis dan tidak manusiawi berkali-kali hingga jadi gila sendiri.

Konsep yang sudah cukup familiar di dunia sinema ini ditawarkan oleh sutradara David F. Sandberg dalam sebuah film berjudul Until Dawn. Diangkat dari video game berjudul sama yang rilis pada 2015 silam di platform PlayStation 5, Until Dawn mencoba menawarkan perjalanan penuh keputusasaan sekelompok anak muda yang terpaksa mati berkali-kali demi melewati satu malam hingga fajar menyingsing.

Until Dawn bercerita tentang lima sekawan bernama Clover (Ella Rubin), Megan (Yoo Ji Young), Max (Michael Cimino), Nina (Odessa A'zion) dan Abel (Belmont Cameli). Kelimanya pergi ke sebuah kota terpencil untuk mencari adik Clover, Melanie yang hilang secara misterius setahun silam.

Oleh penduduk setempat, kelimanya diarahkan ke sebuah resor tak berpenghuni. Keanehan pun mulai terjadi setelah mereka masuk ke dalam sebuah rumah di sana. Mulai dari mobil mereka mendadak hilang, terkurung oleh hujan badai tak berkesudahan yang anehnya tidak mengguyur rumah tersebut, hingga ditemukannya foto-foto orang hilang di kota tersebut termasuk Melanie di dalamnya.

Belum hilang rasa penasaran Clover dkk, mereka sudah dikejutkan dengan kedatangan seorang pembunuh bertopeng yang tanpa tedeng aling-aling langsung membunuh mereka satu per satu dengan brutal.

Mereka pun semakin bingung karena walaupun sudah dibunuh, kelimanya kemudian hidup kembali di hari berikutnya, tepatnya setelah pagi menjelang. Clover dan yang lainnya lagi-lagi kehilangan nyawa di hari-hari berikutnya dengan cara yang berbeda, hingga akhirnya mereka menyadari bahwa kejadian ini dikendalikan oleh satu sosok jahat yang senang bereksperimen dengan manusia.

Clover dan teman-temannya pun harus menyatukan hati dan pikiran untuk bertahan hidup hingga malam sirna, sekaligus menemukan dalang eksperimen biadab itu.

Berdurasi selama kurang lebih 100 menit, sutradara David F. Sandberg tidak mau bertele-tele. Ia langsung tancap gas sejak awal dengan memperlihatkan adegan-adegan menegangkan nan penuh kekerasan yang bisa membuat perut mual bila Anda tidak terbiasa menonton film gore.

Bahkan, pada titik tertentu, kesadisan di film ini mampu membuat penontonnya tertawa lantaran keabsurdan dan ketidakmasuk akalannya.

Tak cuma itu, sang sineas juga kerap memasukkan banyak momen jumpscare di sepanjang film yang membuat penonton terus merasa terteror dan 'kelelahan' hingga penghujung acara.

Sebagai film dengan genre survival horror dengan elemen slasher, kualitas akting Ella Rubin dan yang lainnya bisa diapresiasi. Chemistry mereka bisa memperlihatkan kengerian dan keputusasaan yang terjadi akibat kematian tak berujung yang mereka alami di sepanjang film.

Sayang, lantaran terlalu fokus dengan kesadisan dan rangkaian kematian di dalamnya, plot dalam Until Dawn tidak tergali dengan baik. Ceritanya kelewat sederhana dan dangkal tanpa ada penjelasan yang cukup konkrit. Pertanyaan 'mengapa mereka bisa mati berkali-kali dan hidup lagi' pun tidak terjawab dengan jelas.

Terlalu banyaknya unsur jumpscare dalam Until Dawn juga menjadi nilai minus. Banyaknya jumpscare yang disuguhkan di film ini sudah hampir menyentuh taraf menyebalkan karena beberapa adegannya sudah bisa ditebak.

Motivasi antagonis utama di film ini juga tidak gamblang dan tindakan yang melatarbelakangi ia melakukan ini semua juga tidak jelas sama sekali. Padahal, jika David F. Sandberg mau sedikit lebih lama memeras otaknya, Until Dawn punya potensi untuk menjadi film horor yang baik tidak hanya segi visual, tapi juga segi cerita.

Secara keseluruhan, Until Dawn adalah film yang cocok dan menghibur untuk Anda para penggemar horror dengan elemen slasher dan gore di dalamnya. Bila Anda adalah penyuka film horor yang memiliki kekuatan plot dan narasi, maka Until Dawn bukanlah film yang tepat karena film ini lebih mengedepankan kebrutalan oktan tinggi dari awal hingga akhirnya.

Editor: Banu Adikara
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore