Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 30 Desember 2021 | 18.11 WIB

Kaleidoskop 2021: Tragedi Tenggelamnya KRI Nanggala-402

keluarga korban kapal Selam KRI Nanggala-402 menaburkan bunga di atas laut Bali Utara tempat lokasi tenggelamnya kapal selam. (RAMADA KUSUMA/JAWA POS RADAR BANYUWANGI) - Image

keluarga korban kapal Selam KRI Nanggala-402 menaburkan bunga di atas laut Bali Utara tempat lokasi tenggelamnya kapal selam. (RAMADA KUSUMA/JAWA POS RADAR BANYUWANGI)

JawaPos.com - Tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala-402 menghebohkan warga Indonesia pada 2021 ini. Peristiwa ini salah satu musibah terkelam angkatan bersenjata Indonesia khususnya TNI AL. KRI Nanggala-402 hilang kontak di perairan dekat Bali. Kapal ini diketahui satu dari lima kapal selam yang dimiliki TNI AL.

"Tadi subuh (hilang kontak) KRI Nanggala," kata Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama Julius Widjojono saat dikonfirmasi, Rabu (21/4).

KRI Nanggala-402 ini awalnya hendak mengikuti latihan penembakan di laut Bali, pada Kamis (22/4). Insiden hilang kontak ini diduga terjadi saat KRI Nanggala sedang melakukan gladi resik. Pada Rabu (21/4) pukul 03.00 WIB KRI Nanggala-402 ijin menyelam ke Komandan gugus tugas penembakan (Danguspurla II). Sesuai prosedur selanjutnya kapal menyelam untuj melaksanakan penembakan.

"Namun setelah ijin diberikan, KRI NGL hilang kontak dan tidak bisa dihubungi lagi," tulis TNI AL dalam keterangan resminya.

KRI Nanggala-402 ketika muncul di permukaan laut. (FIRDIA LISNAWATI/AP PHOTO)

DI DASAR LAUT: Bagian-bagian dari KRI Nanggala-402 yang terlihat retak ditemukan di dasar laut utara Bali kemarin. (HAND OUT/AFP)

Selanjutnya dilaksanakan prosedur pencarian oleh unsur-unsur Satgas. Terdiri dari KRI REM, KRI GNR dan KRI DPN dengan menggunakan sonar aktif. Pencarian dipusatkan di sekitar menyelamnya KRI Nanggala-402 dengan menggunakan methode CORDON 2000 yrds, hasil nihil.

Karena kapal tak kunjung ditemukan, pukul 07.00 WIB dilaksanakan pengamatan udara dengan helikopter. Hasilnya ditemukan tumpahan minyak di sekitar posisi menyelam KRI Nanggala-402.  Pukul 14.00 WIB TNI AL memberangkatkan KRI Rigel dari Jakarta dan KRI Rengat untuk membantu pencarian menggunakan side scan sonar. Adapula 2 mobil chamber dikirim ke Banyuwangi, mengirim distres ISMERLO (international submarine escape and rescue leaison office), dan sudah direspon oleh Angkatan Laut Singapura dan Angkatan Australia.

Menjelang 72 jam hilang, kapal selam KRI Nanggala-402 belum juga ditemukan. Sampai saat ini pencarian difokuskan di 9 titik utama. Titik ini berdasarkan pemetaan data awal yang ditemukan oleh tim pencari. "Data yang kami terima sampai dengan sore hari ini ada 9 titik (pencarian) termasuk ada yang tumpahan dan daya magnet sangat kuat," kata Kapuspen TNI saat itu Mayjen TNI Achmad Riad di Lanud Ngurah Rai, Bali, Jumat (23/4).

9 titik ini berjarak 23 nautical mile dari Bali. Sedangkan luas area pencarian sekitar 10 nautical mile. Tim pencari juga masih menunggu bantuan dari negara sahabat. "Kemudian terkait clearance semuanya sudah clear, untuk yang AS Poseidon sudah klir, Australia juga sudah approve perjalanan sudah ada, yang dari negara luar sudah kita selesaikan," jelas Riad.

Photo

keluarga korban kapal Selam KRI Nanggala-402 menaburkan bunga di atas laut Bali Utara tempat lokasi tenggelamnya kapal selam. (RAMADA KUSUMA/JAWA POS RADAR BANYUWANGI)

KRI Nanggala-402 disimpulkan tenggelam ke dasar laut. "Unsur-unsur TNI AL temukan tumpahan minyak dan serpihan yang jadi bukti otentik menuju fase tenggelamnya KRI Nanggala. Nanti dijelaskna KSAL terkait isyarat yang ketiga yaitu subsunk," kata Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto di Lanud Ngurah Rai, Bali, Sabtu (24/4).

Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono menambahkan, tim pencari menemukan tumpahan minyak disekutar lokasi kejadian. Kemudian adapula beberapa puing dari KRI Nanggala-402, termasuk barang-barang milik ABK.

Atas dasar itu, KRI Nanggala-402 terindikasi diyakini sudah memasuki fase tenggelam. "Saat ini kita isyaratakan dari submiss (hilang) menuju fase subsunk (tenggelam). Kita tingkatkan menuju subsunk. Kita akan siapkan evakuasi medis terhadap ABK yang kemungkinan selamat," kata Yudo.

Tenggelamnya KRI Nanggala-402 menuai kritik dari beberapa pihak seperti pengamat dan lainnya. Terutama terkait jumlah awak di dalamnya. Kapal selam tersebut didesain untuk 33 orang, namun saat KRI tenggelam membawa 54 orang.

Asrena KSAL Laksamana Muda TNI Muhammad Ali tak sepakat dengan tudingan tersebut. Dia bahkan menganggap pihak yang mengkritik seperti itu tidak memiliki pengalaman mengawaki kapal selam. "Pernyataan yang menyampaikan bahwa kapal selam ini kelebihan muatan itu sama sekali tidak berdasar dan mungkin belum berpengalaman," kata Ali di Mabesal Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (27/4).

Ali mengaku mengetahui betul seluk beluk KRI Nanggala-402. Sebab, dia pernah bertugas di kapal selam termasuk KRI Nanggala-402 saat berpangkat Letnan Dua (Letda), hingga Letnan Kolonel (Letkol). Kata Ali, KRI Nanggala-402 biasa mengangkut 50 orang saat menjalankan operasi. Bahkan saat misi penyusupan, awak yang diangkut bertambah 1 regu atau 7 orang, sehingga jumlah seluruhnya 57 orang.

Photo

Suasana Prosesi Tabur Bunga untuk menghormati korban kapal selam KRI Nanggala yang di laksanakan diatas KRI Soeharso

"Sedangkan pada saat kejadian tragedi KRI Nanggala kemarin tenggelam hanya 53 orang dan selain itu pada saat kejadian hanya membawa 3 buah torpedo," imbuhnya.

Kapal selam ini sesungguhnya memiliki desain untuk membawa 8 torpedo. Setiap torpedo memiliki berat hampir 2 ton. Atas dasar itu, anggapan kelebihan muatan dinilai tidak mendasar. KRI akhirnya ditemukan di kedalaman 838 meter. Proses evakuasi pun menemui kendala. Terutama dalam proses pengangkatan kapal.

Asisten Perencanaan dan Anggara (Asrena) Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muda TNI Muhammad Ali mengatakan, kapal-kapal bantuan evakuasi memang sudah berada di Laut Bali. Namun, proses pengangkatan harus direncanakan secara matang.

“Untuk mengangkat memang agak susah mungkin, karena untuk menempelkan pengait dengan barang yang akan diangkat itu butuh tangan (untuk mengaitkan),” kata Ali saat Rumah Sakit TNI AL Mintohardjo, Jakarta, Selasa (4/5).

Pengait tersebut harus dipasangkan langsung oleh penyelam dengan pakaian khusus untuk penyelaman laut dalam. Atau bisa juga dengan bantuan robot.

“Bisa penyelam bisa robot. Kalau penyelam dia harus pakai baju khusus yang bisa sampai kedalaman segitu. Nah ini agak sulit, mungkin akan dibantu robot untuk pasang itu,” imbuh Ali.

Atas dasar itu, proses evakuasi baru berhasil mengangkat bagian-bagian kecil kapal. “Sampai saat ini mungkin hanya bagian-bagian kecil saja yang bisa diangkat. Kalau yang besar belum,” pungkas Ali.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore