
JEJAK AWAL: Seorang penjaga rumah kelahiran Soekarno di Surabaya sedang bersih-bersih kemarin (5/6). (DIPTA WAHYU/JAWA POS)
DARI Surabaya, tempat Soekarno lahir, sederet rencana menguar untuk merawat jejak presiden pertama Republik Indonesia itu. Pemerintah kota berniat membangun dermaga di depan Pandean Gang IV, Peneleh, rumah tempat Putra Sang Fajar dilahirkan. Sebuah buku dan film juga akan digarap para penggiat sejarah Kota Pahlawan.
Menurut Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, rencana membangun dermaga itu dibuat untuk mendukung program wisata The Pahlawan. Wisatawan bakal diajak berkeliling menyusuri Kalimas, lantas berhenti di Dermaga Pandean. ”Lalu, akan dipandu berkeliling ke rumah Bung Karno,” katanya di Surabaya kemarin (5/6).
Suasana di Pandean Gang IV kemarin ramai. Gang yang berukuran sekitar 2 meter itu dipadati mahasiswa dari berbagai universitas di Surabaya. Mereka antre untuk masuk ke rumah nomor 40.
Anggi, misalnya. Kamera analog berwarna hitam dikalungkan di leher mahasiswi Universitas Negeri Surabaya tersebut. ”Baru pertama ini ke rumah Pak Karno,” ucapnya.
Karena rehabilitasi rumah yang ditetapkan sebagai cagar budaya sejak 2013 itu masih berlangsung, peserta diminta bergantian masuk. Pemandu dari Cak dan Ning Surabaya mempersilakan per lima orang masuk beberapa menit untuk melihat suasana di dalam rumah. Termasuk kamar yang dulu menjadi ruang Soekarno lahir. Material rehabilitasi seperti pasir dan beberapa kayu tampak di ruang tengah rumah.
Sementara itu, Komunitas Begandring Soerabaia menghelat diskusi bertema Bung Karno Lahir di Surabaya pada Sabtu (4/6) malam. Kuncarsono Prasetya, inisiator Komunitas Begandring Soerabaia, menyatakan bahwa diskusi tersebut merupakan persiapan pembuatan buku dan film dokumenter tentang Soekarno dari sisi yang berbeda.
Menurut dia, mayoritas buku mengenai sang proklamator selama ini berkutat pada ideologi dan perannya saat kemerdekaan. ”Nanti buku ini membahas di luar hal itu,” jelasnya.
Buku yang direncanakan terbit pada November tahun ini tersebut membahas sisi lain Bung Karno yang belum pernah diangkat. Yakni, hubungan sosial dan lingkungan di Surabaya sebelum era kemerdekaan. Mulai sejarah keluarga, masa kanak-kanak, kemiskinan keluarga, hingga pernikahan pertama.
”Bung Karno tidak lahir di ruang hampa. Namun, dia didorong lingkungannya untuk menjadi orang besar. Ya, di Surabaya,” tegasnya.
Tim kecil dari anggota Begandring Soerabaia akan dibentuk bulan ini untuk menyusun buku. Terkait pembuatan film, dia bakal bekerja sama dengan kreator film asal Surabaya. Namun, produksi film belum menjadi prioritas terdekat karena membutuhkan proses lebih lama. ”Film mungkin tahun depan. Kalau buku, tebalnya sekitar 120 halaman,” ungkapnya.
Photo
Photo

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
