
WWF-Indonesia, lembaga konservasi independen yang memberi dukungan terhadap pemerintah Indonesia dalam menjaga keanekaragaman hayati nasional. (WWF-Indonesia)
JawaPos.com - WWF-Indonesia merupakan lembaga konservasi independen yang berdiri atas dasar pemahaman mendalam tentang keterkaitan antara aktivitas manusia dan alam. WWF-Indonesia berfokus pada pencarian solusi nyata terhadap permasalahan lingkungan serta mendorong aksi bersama dari berbagai pemangku kepentingan.
Dikutip dari laman resmi WWF-Indonesia, organisasi ini memiliki visi yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), yaitu untuk berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan di Indonesia melalui pengelolaan sumber daya alam yang adil.
WWF-Indonesia menegaskan visinya yaitu, “Ekosistem dan keanekaragaman hayati Indonesia lestari, berkelanjutan, dan terkelola secara adil untuk kesejahteraan generasi kini dan nanti”.
Untuk mewujudkan visi tersebut, WWF-Indonesia menetapkan misi, “Mewujudkan tata kelola ekosistem dan keanekaragaman hayati Indonesia yang adil dan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia”.
Komitmen WWF-Indonesia terhadap perlindungan keanekaragaman hayati diwujudkan melalui berbagai program, salah satunya dalam upaya memberantas perdagangan satwa liar ilegal di Indonesia.
Dikutip dari artikel jurnal berjudul “Kerjasama World Wide Fund for Nature (WWF) dan Pemerintah Indonesia terhadap Perdagangan Satwa Ilegal” karya R. D. Januarfitra dkk, WWF membentuk program Wildlife Crime Team (WCT) sebagai bagian dari dukungan terhadap pemerintah Indonesia dalam melawan kejahatan perdagangan satwa liar. Tim ini bertugas mengumpulkan data perdagangan ilegal, baik yang dilakukan secara langsung maupun daring, serta mendukung aparat penegak hukum melalui kebijakan advokasi dan upaya hukum.
Wilayah kerja utama Wildlife Crime Team WWF-Indonesia berada di Sumatera Tengah, mencakup provinsi Jambi dan Riau, dua wilayah dengan tingkat aktivitas perburuan dan perdagangan satwa liar yang sangat tinggi. Riau disebut memiliki posisi strategis sebagai jalur penyelundupan satwa ke luar negeri, terutama ke berbagai negara di kawasan Asia Tenggara.
Menurut temuan di lapangan, bukti-bukti perdagangan bagian tubuh satwa liar seperti gading, kulit, dan organ tubuh lainnya banyak dijual ke negara-negara di kawasan tersebut, dengan Tiongkok sebagai tujuan akhir perdagangan ilegal.
Perdagangan satwa liar ilegal menghasilkan keuntungan yang besar, sehingga menarik minat masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan perburuan. Para pemburu biasanya memiliki jaringan yang sangat terorganisir, mulai dari proses transaksi keuangan hingga pengiriman barang. Kerjasama antara pemburu lokal dan jaringan internasional pun terjalin dengan sangat baik.
Satwa yang paling banyak diburu di kawasan hutan Sumatera, khususnya di Aceh, meliputi gajah Sumatera, harimau Sumatera, badak Sumatera, beruang madu, burung rangkong, trenggiling, murai batu, dan orangutan.
Melalui berbagai kegiatan sosialisasi dan edukasi masyarakat, WWF-Indonesia berupaya menumbuhkan kesadaran publik untuk berperan aktif dalam menjaga dan melindungi satwa liar, terutama yang termasuk dalam daftar satwa dilindungi.
WWF sebagai INGO turut mengintervensi secara positif untuk membantu pemerintah Indonesia menekan praktik perburuan dan perdagangan ilegal, demi menjaga ekosistem dan keanekaragaman hayati nasional.
Sementara itu, berdasarkan artikel jurnal “Strategi Indonesia dan WWF dalam Menanggulangi Perdagangan Ilegal Trenggiling ke Tiongkok” karya H. M. Saragih dan F. Ali, pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga menjalin kerjasama dengan WWF dalam membentuk Wildlife Crime Team Indonesia.
Sebagai bagian dari upaya pencegahan, WWF dan pemerintah juga melaksanakan sosialisasi dan penegakan hukum melalui kerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Program ini diharapkan dapat mendorong efektivitas penyelenggaraan konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya.
Selain kerjasama di tingkat nasional, WWF juga berperan aktif dalam inisiatif perlindungan internasional. Lembaga ini menjalankan kolaborasi dengan pemerintah Tiongkok melalui program TRAFFIC, yaitu program global yang berfokus pada pemantauan perdagangan satwa liar, pembelajaran lingkungan, serta peningkatan kesadaran konsumen agar tidak membeli produk dari hasil perburuan ilegal.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
