
Warga Takengon berdiri di antara kayu-kayu yang terbawa banjir dan longsor. (Jurnalisa untuk JawaPos.com)
JawaPos.com – Situasi di Kabupaten Aceh Tengah kian kritis. Hujan deras lebih dari sepekan memicu banjir bandang dan longsor besar yang memutus akses ke delapan kecamatan. Warga di wilayah yang menjadi tempat kelahiran Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, kini terkurung tanpa pasokan logistik.
Banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025 merusak jalur utama dan menutup puluhan ruas jalan dari dan menuju Takengon. Kondisi itu membuat ribuan warga tidak bisa keluar dari kabupaten. Banyak warga terjebak di tengah perjalanan antarkecamatan karena longsor menutup jalan dari arah gunung.
“Banyak masyarakat terjebak di tengah jalan antara kecamatan. Karena dikelilingi longsor dari gunung,” ujar Jurnalisa, warga Kota Takengon.
Akses utama menuju Bireuen dan Lhokseumawe juga terputus total. Dua jembatan penghubung dilaporkan ambruk. Kabupaten Aceh Tengah praktis menjadi kantong terisolasi di tengah provinsi.
“Jembatan putus menuju Bireun. Jembatan putus menuju Lhokseumawe,” kata Jurnalisa.
Listrik padam total sejak empat hari lalu. Sinyal telekomunikasi hampir nihil. Warga kesulitan menghubungi keluarga maupun melaporkan kondisi darurat kepada pihak berwenang. BPBD Aceh Tengah dalam laporan resminya per 28 November mencatat seluruh 14 kecamatan terdampak pemadaman listrik, kerusakan air bersih, dan gangguan telekomunikasi.
“Listrik juga putus total sudah empat hari. Sinyal sulit sekali,” ucap Jurnalisa.
Persoalan paling mendesak adalah krisis makanan dan barang kebutuhan dasar. Warga menyebut persediaan makanan hanya cukup untuk dua hari ke depan jika bantuan belum bisa masuk. Harga BBM juga melonjak drastis akibat suplai dari luar tidak dapat masuk ke kota.
“Akses makanan paling bertahan dua hari lagi. Harga minyak bensin sudah mulai dijual Rp25 ribu per liter,” kata Jurnalisa.
BPBD Aceh Tengah sebelumnya mencatat 16 korban meninggal dunia akibat longsor dan banjir di berbagai kecamatan. Sebagian besar terseret material longsor yang datang bersamaan dengan hujan lebat. Total 6.104 kepala keluarga terpaksa mengungsi, sementara 1.938 rumah rusak.
“Korban jiwa 15 meninggal dunia akibat terbawa longsor. Kabupaten Aceh Tengah terkurung akibat hujan lebat satu minggu lebih,” tutur Jurnalisa.
Lokasi longsor di daerah Takengon, Aceh Tengah. (Jurnalisa untuk JawaPos.com)
Takengon menjadi wilayah paling terdampak. Kabupaten berpenduduk sekitar 140 ribu jiwa itu kini membutuhkan bantuan mendesak berupa selimut, obat-obatan, makanan siap saji, serta BBM untuk mengoperasikan alat berat. Banyak desa tidak dapat diakses karena jalan dan jembatan rusak.
“Butuh bantuan selimut, obat-obatan dan lainnya. Situasi ini sangat keliru jika dibiarkan,” ujar Jurnalisa.
Dengan hujan yang diprediksi masih akan turun, warga khawatir longsor susulan kembali terjadi. Pemerintah daerah telah mengeluarkan status tanggap darurat, namun distribusi logistik masih terkendala akses yang benar-benar lumpuh.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
