
Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menyampaikan bahwa peran negara di Selat Hormuz adalah penyelenggara keamanan. (Syahrul Yunizar/JawaPos.com)
JawaPos.com - Perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel masih terus berlangsung. Ketegangan itu membuat lalu lintas kapal di Selat Hormuz terganggu. Meski dua kapal Indonesia sudah berhasil melintasi selat tersebut, kondisi saat ini belum menjamin kapal-kapal Indonesia lainnya bisa melintas.
Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menyampaikan bahwa peran negara di Selat Hormuz adalah penyelenggara keamanan. Karena itu, bila Selat Hormuz tidak aman bagi Iran atau menjadi ancaman untuk Iran, maka hal itu juga berlaku untuk semua negara.
"Selat (Hormuz) ini merupakan tempat dimana kami adalah penyelenggara keamanan. Jika, (selat) ini tidak aman bagi kami, maka ini tidak aman bagi semuanya," tegas dia saat diwawancarai oleh awak media di kediaman pribadinya pada Sabtu malam (14/3).
Boroujerdi memastikan bahwa sejauh ini tidak ada penutupan Selat Hormuz. Menurut dia, Selat itu masih terbuka untuk negara-negara yang tidak mengizinkan AS dan Israel memanfaatkan wilayah mereka sebagai basis serangan kepada Iran. Karena itu, dua kapal Indonesia bisa melintasi selat tersebut.
"Misalkan saja, kemarin ada dua kapal Indonesia yang berhasil dan diizinkan lewat dari Selat Hormuz," ucap Boroujerdi.
Iran menjamin, negara-negara yang tidak bekerja sama dengan AS dan Iran akan mendapat perlakuan serupa. Negaranya hanya meminta mereka mematuhi protokol ketika melintasi Selat Hormuz. Sebab, saat ini Iran sedang berperang dengan musuh-musuhnya.
"Tentu negara-negara yang tidak bekerja sama dengan pihak musuh, mereka yang mematuhi protokol lalu lintas dari Selat Hormuz, khususnya pada saat perang bisa melewati Selat Hormuz. Kapal-kapal yang patuh protokol di selat hormuz pada saat perang diizinkan lewat," tegasnya.
Selat Hormuz yang terletak di lepas pantai selatan Iran merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi global. Dalam kondisi normal, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati perairan ini.
Namun sejak konflik meletus, jalur tersebut praktis berubah menjadi kawasan berbahaya. Sedikitnya 16 kapal komersial dilaporkan terkena serangan atau insiden di sekitar Selat Hormuz dan Teluk Persia, menurut perhitungan Reuters. Kapal yang terdampak meliputi tanker minyak, kapal curah, hingga kapal kontainer.
Serangan tersebut memicu evakuasi awak kapal, penghentian operasi pelabuhan di beberapa wilayah Irak, serta membuat perusahaan asuransi dan operator kapal mempertimbangkan ulang perjalanan melalui jalur tersebut.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
