
ILUSTRASI: Kendaraan pemudik antre memasuki gerbang Tol Cikupa di Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (18/3/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Secara umum mudik tahun ini memang berjalan dengan aman dan kondusif. Namun, berbagai cerita pengalaman mudik menunjukkan masih ada persoalan. Salah satunya dibagikan oleh Silvia, perempuan berusia 26 tahun itu mengaku harus melalui ujian kesabaran yang luar biasa saat pulang kampung ke Kuningan, Jawa Barat (Jabar).
Silvia menyampaikan bahwa saat memasuki jalan tol, kemacetan langsung terasa. Padahal dia membayangkan jalan tol akan membuat perjalanan lebih cepat. Terlebih ada berbagai strategi dan rekayasa lalu lintas yang disiapkan oleh otoritas terkait untuk membuat arus kendaraan pemudik lebih lancar. Nyatanya, dia malah terjebak berjam-jam.
”Sekitar 7 jam di jalan, macetnya parah,” kata dia saat menceritakan pengalamannya menggunakan Jalan Tol Layang MBZ.
Seperti kebanyakan cerita yang dibagikan oleh netizen di media sosial, kemacetan terasa sampai Kilometer 57 di wilayah Karawang. Menurut dia, kemacetan terasa sangat melelahkan sejak memasuki jalan tol. Titik-titik padat muncul di beberapa ruas, membuat laju kendaraan tidak menentu. Kadang merayap, kadang sedikit bergerak, tetapi nyaris tidak pernah benar-benar lancar.
”Kecepatannya nggak tentu. Ada yang padat merayap, ada yang agak lancar, tapi lancar banget itu nggak ada,” katanya.
Pengalaman mudik yang dijalani oleh Silvia mencerminkan situasi klasik arus mudik. volume kendaraan yang membludak tidak dibarengi sistem lalu lintas yang belum sepenuhnya sanggup mengakomodasi lonjakan kendaraan tersebut. Menurut dia, salah satu titik krusial paling krusial dan perlu menjadi sorotan bersama adalah gerbang tol.
”Harapannya ke depan nggak perlu tap lagi. Bisa langsung lewat, jadi nggak bikin macet,” imbuhnya.
Harapan itu sejalan dengan hasil analisis pengamat transportasi dari Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan Anton Budiharjo. Dia menyebut, kemacetan di pintu tol adalah fenomena bottleneck kapasitas. Sebab, terjadi penyempitan arus akibat adanya titik gangguan atau friction point di tengah sistem lalu lintas yang diisi volume kendaraan dalam jumlah besar.
Dalam teori lalu lintas, Anton mengungkapkan bahwa kapasitas jalan akan turun signifikan ketika ada titik yang memaksa kendaraan melambat atau berhenti seperti gerbang tol. Dengan volume kendaraan yang meningkat berkali lipat selama periode mudik, waktu layanan 4–5 detik per kendaraan di gerbang tol menjadi faktor krusial. Selisih beberapa detik saja, berpotensi menciptakan antrean panjang.
Menurut Anton, persoalannya tidak semata-mata jumlah kendaraan, melainkan ketidakseimbangan antara kapasitas layanan dan lonjakan permintaan yang bersifat musiman. Dalam konteks tersebut, dia menilai, penambahan gardu atau rekayasa lalu lintas hanya menjadi solusi jangka pendek. Sedangkan solusi struktural terletak pada penghapusan titik henti itu sendiri.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
