Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - PT Kereta Api Indonesia atau KAI (Persero) telah menutup 172 perlintasan. Tindakan ini dilakukan usai terjadi tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Jabodetabek di Stasiun Bekasi Timur.
Penutupan perlintasan merupakan rekomendasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). KAI berkomitmen melakukan perbaikan selama proses investigasi kecelakaan terjadi.
“Fokus kami adalah menyelesaikan rekomendasi KNKT dengan cepat dan tepat. Yang bisa langsung dilakukan, kami jalankan. Yang membutuhkan kajian dan penyempurnaan, kami percepat,” ujar Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin, Kamis (1/10).
Hasil investigasi memuat 6 rekomendasi KNKT. Secara umum mencakup penguatan komunikasi dan prosedur keselamatan, evaluasi kondisi pendukung kerja masinis, pengendalian perjalanan, serta peningkatan kemampuan personel dalam mengenali potensi bahaya.
Sejumlah tindak lanjut telah berjalan melalui penyempurnaan prosedur, peningkatan pelatihan, evaluasi sistem kerja, serta kajian pada aspek operasional yang direkomendasikan KNKT.
Di sisi lain, KAI menghormati proses hukum yang berjalan di Polda Metro Jaya. Masinis kereta api yang ditetapkan sebagai tersangka juga diberikan pendampingan hukum.
“Perusahaan akan memastikan pendampingan dan bantuan hukum diberikan, agar yang bersangkutan tidak menghadapi proses ini sendirian,” jelasnya.
Sementara, Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menambahkan, 172 titik perlintasan sebidang sudah ditutup sejak 23 Juli 2026.
Anne menambahkan, percepatan dilanjutkan melalui program peningkatan keselamatan pada 190 titik prioritas tahun 2026 yang tersebar di 9 Daop dan 4 Divre di Jawa dan Sumatra. Penanganannya mencakup pemasangan gardu, rambu, alat keselamatan dan komunikasi, penyediaan petugas Penjaga Jalan Lintasan (PJL), serta pemasangan pintu perlintasan.
“Perbaikan kami jalankan secara bertahap dan terukur, mulai dari penanganan perlintasan, kesiapan petugas, fasilitas keselamatan, hingga edukasi kepada masyarakat. Seluruh progres terus kami pantau agar setiap tahapan dapat diselesaikan dengan baik,” pungkas Anne.