Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 3 Februari 2019 | 17.36 WIB

Seperti Menghantamkan Bola ke Tembok

Ilustrasi - Image

Ilustrasi


Tentu terkecuali bagi kalangan anak-anak. Dalam konteks apa pun, anak-anak dilarang mengumpat meski mereka adalah recorder suara-suara yang didengar di sekitarnya, terutama dari orang tua.


Tidak lepas dari konteks harmonisasi kebersamaan, mengumpat dengan kata-kata kasar maupun cabul tetap menjadi takar nilai dalam tatanan kehidupan sosial (moral). Bahkan, dalam konteks mengkritisi sekalipun, ketika umpatan dan makian sudah mencemari gagasan yang berakibat "menjatuhkan" orang lain, sebagai kritikus, dia bisa mengalami disabilitas nilai. Baik nilai-nilai moralitas maupun intelektualitasnya. Hantaman bola yang berbalik arah seakan mengenai wajah yang bersangkutan. Sebab, mengkritisi memang tak harus menjatuhkan, bukan? Apalagi dengan umpatan-umpatan.


Pada masa-masa sekarang ini, ketika umpatan sudah menjadi kebiasaan, apakah hal tersebut selalu merupakan refleksi kemurkaan dalam keadaan geram atau tak berdaya? Atau efek dari unsur keterbelakangan? Sepertinya, kebiasaan sering tidak membutuhkan alasan untuk melakukannya. Sebagaimana orang latah tidak membutuhkan rasa terkejut. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore