
Turis berbelanja oleh-oleh di destinasi wisata Lombok.
JawaPos.com - Setiap 10 November memori bangsa Indonesia langsung melanting jauh ke tahun 1945. Terjadi perang hebat pada tanggal dan tahun itu. Indonesia melawan Belanda.
Tak bisa dimungkiri. Lamanya Belanda menjajah Indonesia meninggalkan trauma berkepanjangan.
Hingga kini. Trauma terdalam dirasakan mereka yang mengalami langsung peristiwa memilukan itu: hidup dalam cengkeraman penjajah. Termasuk orang-orang sepuh di kampung saya. Di Banyuwangi, Jawa Timur. Mereka tidak hanya didera trauma psikologis. Tetapi juga trauma bahasa.
Singkat kata, trauma psikologis menimbulkan trauma bahasa. Tanda-tanda itu tampak dari bagaimana mereka menyebut orang asing. Terutama orang dari Eropa.
Siapa pun yang berkulit putih dan berambut blonde mereka sebut Londo. Londo dari istilah bahasa Jawa "Walondo" untuk menyebut Belanda.
"Kunu telat. Londone buru baen muleh," ucap H Timbul, tetua adat Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kalimat dalam bahasa Osing yang berarti "Kamu telat, Londo-nya baru saja pulang" itu dia ucapkan kepada saya di Sanggar Minum Kopi Genjah Arum, Kemiren, beberapa waktu lalu.
Karena penasaran, saya langsung klarifikasi kepada pemilik Sanggar Genjah Arum Setiawan Subekti. Ternyata yang dimaksud Londo oleh Pak Timbul adalah rombongan wisatawan dari beberapa negara di Eropa, antara lain, Prancis dan Swiss.
Malah sama sekali tidak ada yang berasal dari Belanda. Sekilas, fisik mereka memang tidak jauh berbeda dengan orang Belanda. Sama-sama berbadan besar. Tinggi. Dan kulitnya putih. Maklum, mereka hidup di benua yang sama: Eropa.
Berbeda dengan orang sepuh yang terstigma oleh Londo, banyak generasi mutakhir yang ternyata gagap menggunakan kata bule. Bukan hanya orang awam. Beberapa teman seprofesi saya (wartawan) juga masih ada yang belum mengerti secara baik siapa itu bule.
Kebetulan pada 16 Februari 2015 saya pergi ke Jember, Jawa Timur. Mata saya terbetot pada judul berita Bule Blusukan Pesantren di sebuah harian lokal.
Saya bergegas membaca lead berita dua kolom di halaman depan itu. Bunyi lengkapnya: "Sebanyak 13 pelajar dari Tiongkok, Taiwan, Jerman, dan Jepang berkenalan dengan dunia pesantren."
Kulit dahi saya langsung berkerut. Mencoba memecahkan dua kejanggalan yang terdapat dalam kepala berita itu terkait dengan judul beritanya. Pertama, ternyata bule-nya masih berstatus pelajar.
Bukan orang biasa yang sedang berwisata ke pesantren. Sampai di situ, saya masih bisa memahami: judul memang harus dibikin semenarik mungkin.
Namun, kulit dahi saya makin berkerut begitu mengetahui asal bule itu dari Tiongkok, Taiwan, Jerman, dan Jepang. Saya mulai bingung.
Kalau pelajar yang dari Jerman masih tepat disebut bule. Semua orang tahu Jerman berada di Benua Biru, Eropa. Namun, tidak untuk pelajar yang berasal dari Tiongkok, Taiwan, dan Jepang itu. Sangat tidak tepat memasukkan mereka ke rumpun bule.

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Jadwal Piala AFF U-17 Timnas Indonesia U-17 vs Timor Leste, Siaran Langsung, dan Daftar Skuad Garuda Muda
Bupati Gresik Gus Yani Buka Suara soal Kasus SK ASN Palsu, Korban Rugi hingga Rp 150 Juta
Kasus Penipuan ASN di Gresik Menghadirkan Fakta Baru, Pegawai DPMD Mengaku Jadi Korban
Kronologi Kasus Pelecehan Seksual FH UI, 16 Mahasiswa Terduga Pelaku Disidang Terbuka
Tak Perlu ke Jogja, 12 Tempat Kuliner Gudeg Ini Ada di Malang yang Juga Istimewa dan Rasanya Juara
Momen Terduga Pelaku Pelecehan di FH UI yang juga Anak Polisi Dikonfrontasi Mahasiswa
12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
11 Tempat Kuliner Gudeg di Surabaya Paling Enak Soal Rasa Bikin Nostalgia dengan Jogja
