
Ilustrasi Ridwan Kamil
SAYA ingin berkomentar soal rencana pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur. Tapi bukan sebagai gubernur Jawa Barat. Melainkan sebagai dosen perkotaan. Tentunya berdasar pengalaman saya.
Saya memang belum melihat detail rencana yang disiapkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Namun, berdasar informasi yang disampaikan ke publik, ibu kota baru didesain dengan luas lahan mencapai 180 ribu hektare. Dari asumsi tersebut, saya menilai desain itu terlalu luas. Imbasnya, akan menghasilkan kota yang juga luas. Sehingga berpotensi besar terbukanya penggunaan mobil.
Padahal, di masa depan, kota yang futuristis adalah kota yang aksesnya ramah bagi pejalan kaki. Perumahan dengan kantor, sekolah, dan fasilitas publik lainnya harus berdekatan. Kalaupun kepepet, barulah menggunakan transportasi publik (public transport). Opsi penggunaan mobil adalah yang terakhir.
Nah, dengan luas kota mencapai 180 ribu hektare, jalan kaki atau transportasi publik relatif sulit diimplementasikan. Sebab, jarak antartempat akan jauh. Imbasnya, naik mobil menjadi opsi yang berpotensi banyak digunakan.
Sebagai gambaran, pemerintah pusat perlu melihat pengalaman negara-negara lain saat mendesain ibu kota barunya. Sejarah mencatat, apa yang dilakukan Amerika Serikat dengan Washington DC-nya merupakan yang terbaik. Sudah teruji berdasar teori ilmiah. Itu ibu kota terbaik.
Di sana banyak orang yang berjalan kaki. Dan yang tak kalah penting, kotanya hidup. Setelah sore hari perkantoran tutup, suasana kota masih ramai. Itu karena semua berdekatan. Berbeda dengan ibu kota-ibu kota baru di berbagai negara yang justru sepi saat malam. Kenapa? Karena terlalu luas. Jarak perumahan dengan fasilitas umum berjauhan. Padahal, hidup di kota bukan hanya urusan kerja. Ada juga percampuran kegiatan antarmanusia.
Dari kesuksesan Washington, ada baiknya Indonesia mencontoh. Jadi, ibu kota baru cukup 17 ribu hektare. Atau maksimal 30 ribu hektare. Tidak perlu sampai 180 ribu hektare.
Sebagai anak bangsa, saya ingin cita-cita yang luar biasa itu berhasil. Jangan seperti apa yang dilakukan Brasil dengan Brasilianya. Yang dicap para pihak seperti Harvard atau New York Times sebagai ibu kota baru yang gagal.
Jangan sampai Indonesia seperti itu. Jadi, pemerintah harus menyiapkan secara matang. Perbanyak menampung masukan dari masyarakat. Karena semua orang berkepentingan. Dan saat saya bertemu Presiden Joko Widodo, beliau sangat senang mendapat masukan.
*) Sebelum menjabat gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil adalah seorang Arsitek
**) Disarikan dari wawancara dengan Folly Akbar
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Swiss vs Slovenia di Liga Nations UEFA: La Nati Menang Besar di Thermoplan Arena
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Prediksi Skor Islandia vs Bulgaria di Liga Nations UEFA: Strákarnir okkar Tundukkan Tim Tamu
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Skor Belarus vs San Marino di Liga Nations UEFA: Belyya Kryly Pesta Gol
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Susunan Pemain Spanyol vs Ceko: De la Fuente dan Denia seperti Bermain Catur
Prediksi Finlandia vs Albania di UEFA Nations League: Duel Ketat Dua Tim Belum Kebobolan
Prediksi Skor Azerbaijan vs Lituania di Liga Nations UEFA: Milli Komanda Diprediksi Kembali Tertahan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022