Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 26 April 2020 | 09.30 WIB

Pentingnya Eastern Medicine Mengatasi Pandemi Covid-19

Photo - Image

Photo

MUNCULNYA pandemi Covid-19 membuat Tiongkok dengan segala kejayaannya terlihat lumpuh di awal wabah itu. Bagaimana Tiongkok mengatasi wabah tersebut? Tiongkok telah menerapkan integrasi Western dan Eastern medicine untuk melawan virus mematikan itu. Penerapan pengobatan dengan traditional Chinese medicines (TCM) di rumah sakit Provinsi Hubei telah didukung dan disetujui pemerintah setempat. Hal tersebut dilaporkan situs Lotus Institute of Integrative Medicine, sebuah platform edukasi TCM yang aktif berkontribusi selama dua dekade terakhir. Penerapan formulasi herbal itu telah disesuaikan oleh arahan ahli TCM di Guandong. Setelah kebijakan lockdown kota Wuhan selama sepuluh hari, semua pasien positif diberi penanganan dengan TCM.

Pengobatan TCM menggunakan metode dengan beberapa teknik. Misalnya terapi pijat, akupunktur, dan obat herbal. Sangat menarik untuk disimak bagaimana singkatnya waktu yang dibutuhkan untuk meningkatkan kesehatan pasien Covid-19 setelah penerapan pengobatan TCM.

Pada 29 Januari 2020, pemerintah Tiongkok menyetujui penerapan pengobatan integrasi TCM dan Western medicine di RS Provinsi Hubei. Pasien Covid-19 yang akan mendapat perawatan adalah mereka dengan kondisi demam tinggi, mulut kering, lidah yang menebal, ketidakmampuan untuk mengontrol BAB/diare (bowel incontinence), serta letih dan lesu.

Sehari kemudian, dimulailah proses pengobatan pada pasien dengan formulasi herbal sesuai dengan arahan ahli TCM Guandong. Sehari setelah pengobatan atau 1 Februari 2020, beberapa pasien demam sudah mengalami penurunan disertai berkurangnya penebalan lidah. Gejala batuk juga berkurang secara signifikan. Selain itu, kondisi tubuh pasien meningkat dan dapat melakukan olahraga ringan (sit-up, qigong exercise) di atas kasur dan/atau meditasi.

Melihat adanya perkembangan yang menjanjikan, pada 3 Februari 2020 Unit Penanganan Medis Wuhan mengeluarkan imbauan mengenai penggunaan Chinese medicine pada pengobatan pneumonia akibat virus korona. Formulasi herbal yang dipergunakan dibagi beberapa fase, yaitu pencegahan, influenza, dan pneumonia. Jumlah pasien yang menunjukkan peningkatan kesehatan setelah mengonsumsi obat herbal TCM menjadi 50 orang pada 4 Februari 2020. Dan untuk kali pertama delapan pasien yang diobati dengan TCM maupun kombinasi TCM dan Western medicine hanya dalam waktu lima hari dinyatakan sembuh.

Meski banyak ilmuwan yang mempertanyakan keakuratan dan data ilmiah dari penggunaan TCM ini, terlihat dengan jelas kuatnya Tiongkok mendukung penggunaan TCM. Beberapa negara lain juga sudah memanfaatkan bahan alamnya dalam pencegahan Covid-19 ini. India menggunakan bahan alam ayurveda, demikian juga negara-negara Arab dengan unani-nya. Tidak ketinggalan, Western herbal medicine seperti winter solstice cough/cold syrup juga telah digunakan.

Mencari Obat Nusantara

Menyigi Nusantara, mencari obat adalah judul subbab 16 dari buku Sains45: Agenda Ilmu Pengetahuan Indonesia Menyongsong Satu Abad Kemerdekaan. Buku itu telah diterbitkan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) yang melahirkan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia. Riset tentang keanekaragaman hayati dan manusia Nusantara sebagai sumber daya luar biasa untuk pengembangan obat telah termaktub di buku itu.

Masyarakat Indonesia sudah mengenal jamu atau ramuan herbal sebagai pengobatan dan perawatan tubuh sejak 1300 tahun yang lalu, tepatnya sekitar 772 M pada zaman Kerajaan Mataram kuno. Istilah jamu muncul sekitar abad pertengahan (15-16 M), yang diambil dari bahasa Jawa kuno, yaitu Djamoe (”Djampi” dan ”Oesodo”). Djampi berarti pengobatan memakai ramuan obat dan doa, sedangkan oesodo berarti kesehatan.

Jamu merupakan bagian dari keanekaragaman hayati yang penting untuk dikembangkan. Daya saing jamu dalam menjawab tantangan Covid-19 sebagaimana yang dilakukan Tiongkok adalah peluang besar. Tantangan ini dapat dijawab apabila negara kita memiliki semua sistem pendukung, mulai riset dasar, terapan, hingga regulasi yang mendorong penggunaannya nanti. Formula herbal dari TCM yang direkomendasikan sebagai fase pencegahan dari infeksi Covid-19 terdiri atas tujuh bahan alam. Di mana dari studi literatur, tujuh rekomendasi herbal tersebut dilaporkan bahwa sebagian besar memiliki imunostimulan atau meningkatkan sistem imun manusia.

Kita pun memiliki jamu untuk meningkatkan imunitas yang sudah banyak digunakan di masyarakat, seperti meniran, jahe, kunyit, dan temulawak. Dalam hal penggunaan bahan tersebut sebagai imunostimulan, sudah banyak terbukti dan dilaporkan dalam penelitian ilmiah. Penting diketahui, jamu belum dapat diklaim sebagai pencegah Covid-19, apalagi obat Covid-19. Belum ada penelitian yang memberikan data saintifik, yang membuktikan bahwa jamu dapat mencegah virus masuk ke tubuh.

Pada kasus korona, antivirus bekerja dengan cara memblokade mahkota protein (crown-like spikes) di permukaan luar virus sehingga material genetik asam ribonukleat (RNA, ribonucleid acid) yang berada di bagian dalam virus tidak dapat melakukan replikasi dengan sempurna. Hal itu akan mengakibatkan virus tidak mampu mereplikasi dirinya menjadi lebih banyak di tubuh manusia.

Karena itu, adanya spesimen yang mampu memblokade mahkota protein virus tersebut sangatlah dibutuhkan. Penting untuk diketahui, spesimen itu dapat berupa senyawa yang diisolasi dari jamu. Penelitian-penelitian seperti itu sudah seharusnya menjadi salah satu fokus utama dalam topik riset bangsa Indonesia dalam rangka pencegahan Covid-19 maupun peningkatan pemanfaatan jamu sebagai obat tradisional di masa depan.

Sebagai negara dengan biodiversitas tertinggi kedua di dunia, tentu ini adalah peluang besar untuk meningkatkan daya saing jamu untuk melawan Covid-19. Tentunya penelitian pemanfaatan jamu butuh dukungan pemerintah, sehingga dapat digunakan dokter dalam mengintegrasikan metode pengobatan Barat dan Timur. Mengatakan bahwa jamu dapat mengobati Covid-19, tentunya diperlukan proses yang panjang. Namun, memanfaatkan jamu sebagai suplemen pencegahan seharusnya bisa digerakkan pemerintah dan dilakukan peneliti sesegera mungkin.

Dalam situasi mendesak saat ini, rakyat butuh peningkatan imunitas. Di saat kelangkaan terjadi di berbagai lini tim medis, berbagai inovasi alat medis hadir. Jamu yang sudah lama digunakan sebagai kearifan lokal untuk meningkatkan sistem imun harus dikembangkan menjadi aset bangsa yang lebih baik lagi.

Covid-19 sudah di depan mata. Para dokter dan petugas medis berada di garda terdepan. Para ilmuwan mengerahkan jiwa dan pikiran untuk berjuang dengan ilmunya. Saatnya semua bergerak bersama. (*)




*) Sri Fatmawati, Dosen di Laboratorium Kimia Bahan Alam dan Sintesis (KiBAS), Departemen Kimia Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD) ITS Surabaya

 

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=8Y4CaUASVPM

https://www.youtube.com/watch?v=LCNwf2BEMfA

https://www.youtube.com/watch?v=BUgKwymoGHc

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore