Logo JawaPos
Author avatar - Image
05 Juni 2022, 22.00 WIB

Tertawa yang Membelah

R. BUDIJANTO ROHMAN BUDIJANTO - Image

R. BUDIJANTO ROHMAN BUDIJANTO

SRIMULAT bangkit dari kubur ketika tertawa semakin sepihak. Para penonton di kegelapan ruang bioskop riuh terbahak di sepanjang adegan film berlakon grup pelawak ’’hil yang mustahal’’ itu. Tawa-tawa spontan berderai, tanpa pikir panjang. Tawa spontan yang meringankan hati ini agak langka sekarang. Pembelahan politik ikut serta membelah selera humor. Tertawa tidak lagi bisa spontan, tapi harus mikir duluan.

Keretakan selera tawa ini mudah dirasakan dalam pergaulan di ruang-ruang media sosial, media yang kian banyak menguasai waktu melek kita. Ketika ada banyolan di layar gadget kita, akan dilihat dulu siapa yang bikin banyolan dan ditujukan ke siapa. Apakah teman kita atau bukan. Pihak sini atau sana.

Bila pihaknya cocok satu kelompok, baru ikut kirim emoji terbahak. Dan menyebarkannya. Bukan karena ingin mengajak sebanyak-banyaknya orang tertular tawa bahagia, tetapi agar kawan-kawan segerombolan saja yang ikut tertawa. Sementara pihak ’’sana’’ diharapkan sewot. Semakin sewot, semakin lebar tawa pihak ’’sini’’.

Apakah ini gejala ’’bertepuk sebelah tawa’’? Bukan. ’’Bertepuk sebelah tawa’’ adalah banyolan yang gagal. Si pembanyol merasa lucu, tetapi orang yang diharapkan tertawa tak melihat kelucuannya. Alhasil, si pembanyol sendiri yang tertawa, tetapi pendengarnya malah saling pandang.

Tawa sepihak juga bukan banyolan yang menimbulkan tepuk tangan. Banyak jenis banyolan kritik, yang menimbulkan aplus, karena dinilai ada kecerdasan yang mengena di sana. Misalnya begini, ’’seorang politikus mengakui dia tidak yakin dengan apa yang diucapkannya sendiri. Maka, dia sangat kaget setengah mati ketika ada masyarakat yang memercayainya’’. Atau ’’ketika politikus bilang bahwa dirinya jujur dari lubuk hati yang paling dalam, itu sama saja dengan pelacur yang bilang dia masih perawan ting ting’’. Sungguh dua contoh itu adalah hil yang mustahal. Ini mungkin jenis kalimat paradoksal yang menimbulkan tawa sambil tepuk tangan saat disampaikan dalam forum yang pas. Politikus memang dikritik, tetapi itu kritik yang adil, karena tak ditujukan kepada nama terkhusus.

Sedangkan tertawa sepihak adalah mengangkat sini, sambil menginjak sana. Menjilat sini, meludah ke sana. Pembuat banyolan sepihak tak ingin membuat pihak lain, yang dianggapnya lawan, tertawa. Dia ingin tertawa bersama kelompoknya sendiri sambil berkali-kali menertawakan sebelah. Menertawakan apa yang dianggapnya, atau mencoba dibingkai, sebagai ketidakbecusan lawan.

Dan cakupan peristiwa yang dientengkan dengan banyolan ini kadang sangat jauh. Bahkan sampai menyentuh sisi-sisi sensitif kemanusiaan. Ketika ada yang dianggap lawan kehilangan nyawa, bukan reaksi duka yang muncul. Tetapi malah karangan bunga, ucapan selamat kepada pihak yang menghilangkan nyawanya! Kegembiraan berdarah dingin ini didukung senyum-tawa-jempol oleh kelompoknya.

Sedangkan reaksi yang diharapkan muncul dari pihak di seberang adalah respons ketidakbahagiaan. Semakin senewen pihak sana, semakin senang pihak sini. Semakin meradang pihak sana, semakin girang pihak sini. Apalagi bila mereka merasa kuat dan tak tersentuh.

Ini bukan lagi roasting dalam acara stand-up comedy yang memang tujuan utamanya untuk memancing tawa. Tapi, banyolan dalam media sosial ini jelas bermakna sebagai kesakitan bagi pihak lain. Yakni bagi mereka yang ditertawakan. Mereka yang dijadikan bahan lelucon sembari direndahkan. Semacam bullying lewat tawa. Tawa yang merundung. Maka, tertawa tak selalu bersifat ekspresi kegembiraan yang meringankan hati. Tetapi bisa juga dimuati kebencian. Tertawa tapi benci. Mendengki dengan tertawa. Hateful laugh. Semacam lengking tawa vampir atau Mak Lampir.

Kalau dipikir-pikir, ini seperti gejala kejiwaan gelotomania. Gila (mania) tawa (gelos). Tawa tapi gila. Coba kita renungi, siapa yang bisa terus-menerus bisa tertawa secara sepihak? Kebetulan klop bahasa gaulnya, orang gelo. Akibat tawa gelo ini, orang bisa mengalami gelotofobia (takut tawa). Karena tawa di sana terasa menyakitkan atau menakutkan di sini.

Kita sedang mengalami anomali ini. Betapa banyak orang yang membuat banyolan dengan maksud merendahkan kelompok yang dianggap lawannya. Secara dasariah, bahasa kreatif temuan mereka emang lucu-lucu. Mengandung kejutan ala humor. Namun, karena ditempatkan sebagai peluru ekspresi politik, hasilnya malah cenderung melukai. Hilang lucunya, tinggal nyerinya. Dan kerap disusul gelut verbal alias cekcok.

Mukidi, negeri wakanda, negara ruwetnesia, kadrun, tukang kibul, kampret, cebong, kaum sumbu pendek, pintar menata kata bukan kota, pokoknya salahnya A, bani gorong-gorong, asing aseng, kardus digembok, pemimpin kardus, raja utang, formula Esemka… banyak lagi. Itu adalah sebagian dari kreativitas kata-kata yang lahir dari pikiran usil untuk menempelkan stigma. Kata-kata itu ditembakkan lewat kisah framing, meme, stiker, video, kartun… Untuk menjuluki lawan dengan cap lucu sesinis mungkin.

Entah sampai berapa periode mereka akan saling menikam lewat tawa gila. Lebih baik kita berpaling saja. Menyehatkan diri dengan menikmati lagi tawa ala Srimulat yang tak berpihak. (*)

*) Senior Editor Jawa Pos

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore