
RACHMAH IDA
KETERLIBATAN K-pop idols dan fandom army mereka pada dunia politik telah terjadi sejak 2019. Tidak hanya di Korea, tetapi juga di negara-negara non-Korea.
Beberapa hari ini, di negeri ini, Indonesian K-Pop Army mulai bergerak di media sosial, terutama X platform (dulu Twitter) dan Instagram, untuk mendukung salah satu pasangan capres dan cawapres yang maju di Pemilu 2024. Sebut saja akun-akun @anies bubles yang beredar dan merangkak trending.
Aktivisme digital yang dilakukan oleh para fandom untuk mendukung kandidat capres dan cawapres ini mulai muncul di permukaan. Bahkan, Timnas paslon ini tak pernah berpikir akan hal ini. Gerakan K-popers mendukung salah satu paslon ini organik dan bukan buzzer.
Pertautan budaya populer dan politik bukan hal baru. Pada masa kampanye Jokowi di 2014, budaya populer sudah digunakan dalam pilpres kala itu. Keterlibatan selebriti dalam politik juga bukan hal asing. Namun, gerakan politik dukung-mendukung oleh fans K-pop atau K-popers di Indonesia menunjukkan bahwa fandom dan gerakan politik barangkali adalah indikator betapa powerful-nya digital media dan pengaruh K-pop entertainment dalam politik nasional saat ini.
Gerakan Politik Global K-Popers
Menjelang hari-hari pemilihan presiden Korea pada Maret 2022, para bintang K-Pop mengunggah foto-foto mereka untuk mengajak fans mereka berpartisipasi dalam pilpres di Seoul. Namun, para selebriti itu tidak berani menunjukkan gestur dan warna-warna tertentu, atau emoji-emoji yang mengarah pada kandidat presiden tertentu.
Selebriti mengajak masyarakat untuk memilih bukan hal yang kontroversial. Beda ceritanya jika ada hal kecil yang dikenakan oleh selebriti dipersepsi sebagai hints atau tanda mendukung calon presiden tertentu. Di Korea, political stance atau sikap politik bintang-bintang K-pop sungguhlah berbahaya. Karena bisa menimbulkan political backlash atau perseteruan politik antarfans mereka yang mendukung kubu kandidat presiden.
Raisa Brunner, jurnalis pada majalah Time (25 Juli 2020), menuliskan tentang pengaruh popularitas K-pop untuk menarik fans atau massa mereka terlibat dalam aktivisme politik. Saat grup band BTS manggung di Amerika, kubu Donald Trump membeli tiket konser tersebut dan menggunakannya sekaligus untuk kampanye politik dukungan kepada Trump.
Grup-grup K-pop seperti BTS, Stray Kids, Monsta X, dan Loona juga terlibat dalam aktivisme politik untuk isu-isu global. Mereka berhasil memobilisasi aktivisme politik online melalui media sosial seperti Tumblr, Reddit, TikTok, Instagram, X platform/Twitter, dan lainnya.
Dengan menggunakan pengaruh mereka, para idol menggalang dukungan dan dana untuk aktivisme politik seperti kampanye HAM dan pendidikan bagi anak-anak dan remaja. Ketika gerakan Black Live Matters di Amerika, para fans K-pop kulit hitam menggerakkan massa untuk terlibat dalam aktivisme politik itu secara online.
Di Mesir, para fans K-pop menggunakan topeng wajah atau mask para personel BTS dan menggunakan simbol love di jari mereka pada gerakan protes terhadap isu perubahan iklim di area KTT tahun 2022. Di Cile pada 2021, seorang dosen muda pengajar budaya populer Korea mencoba menggerakkan K-pop fans di Cile untuk mendukung Gabriel Boric, pemuda 36 tahun, sebagai salah satu kandidat presiden Cile.
Dengan menggunakan Twitter-nya kala itu dan social circle-nya, dosen muda tadi membuat gerakan kampanye digital ’’K-popers for Boric”. Bahkan, dia meniru strategi marketing kompetisi yang dilakukan oleh grup-grup K-pop di Korea untuk memenangkan jumlah penonton dan fans mereka.
Fans K-pop agaknya bukan sekadar fans. Mereka adalah army-army yang terlibat dalam gerakan-gerakan politik. Tidak sedikit juga para fandom K-pop berasal dari kaum minoritas: LGBTQ, black people, dan sebagainya.
Fans K-pop yang non-Korea tentu saja tidak melepaskan keterikatan mereka dengan kultur Korea, genre music K-pop itu sendiri, dan bahasa Korea yang tidak mereka banyak pahami juga. Lalu itu mereka gunakan sebagai amunisi untuk memengaruhi sikap politik di negeri non-Korea dengan menggunakan K-pop GIF dan meme di unggahan akun-akun media sosial para K-poper itu.
Kampanye Medsos K-Pop

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
8 Rekomendasi Kuliner Bebek Terenak di Jogja: Sambal Menyala, Porsi Melimpah dan Rasa Istimewa
Kasus Penipuan ASN di Gresik Menghadirkan Fakta Baru, Pegawai DPMD Mengaku Jadi Korban
13 Rekomendasi Mie Ayam Enak di Jogja, Kuliner Kaki Lima yang Rasanya Bak Resto Bintang Lima
Jangan Ketinggalan! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia U-17 di Piala AFF U-17 2026
12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Ditangkap Kejagung Terkait Perkara Tambang
Tempat Kuliner Bakmi Jawa Terenak di Jogja: Dimasak Pakai Arang, Rasanya Semakin Nendang
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Prediksi Skor Bayern Munich vs Real Madrid! Dua Raksasa Berjibaku Demi Tiket Semifinal Liga Champions, Siapa Bakal Melaju?
