Penyegaran Suzuki XL7 Hybrid tidak hanya terlihat dari desain. (Dony/JawaPos.com)
JawaPos.com - Suzuki mulai memperluas strategi elektrifikasinya dengan menyiapkan teknologi range extender (REEV) untuk kendaraan kompak.
Seperti dilansir dari Auto Evolution, Jumat (2/10), teknologi yang untuk sementara dijuluki REEV Light tersebut menjadi salah satu teknologi yang diperkenalkan dalam pemaparan Strategi Teknologi Suzuki 2026 pada 25 September oleh Presiden Toshihiro Suzuki dan Chief Technical Officer Katsuhiro Kato.
Berbeda dari kendaraan listrik murni, sistem ini menggunakan mesin pembakaran internal bukan untuk menggerakkan roda secara langsung, melainkan menghasilkan listrik yang kemudian digunakan untuk menggerakkan kendaraan. Dengan konsep tersebut, Suzuki berupaya menawarkan teknologi elektrifikasi dengan kebutuhan baterai yang lebih kecil.
Konsep range extender sendiri bukan hal baru di industri otomotif. Stellantis North America, misalnya, menghadirkan teknologi serupa pada Ram 1500 REV dan Jeep Grand Wagoneer REV.
Kedua model berukuran besar tersebut menggunakan mesin V6 naturally aspirated 3,6 liter sebagai generator listrik, yang dipadukan dengan baterai berkapasitas besar serta dua motor listrik sebagai penggerak.
Kedua kendaraan itu memiliki tenaga hampir 650 tenaga kuda dan jarak tempuh yang panjang untuk membantu mengurangi kekhawatiran pengguna terhadap pengisian daya atau charging anxiety.
Namun, Suzuki mengambil pendekatan berbeda. Jika range extender pada kendaraan besar digunakan untuk menunjang performa dan jarak tempuh, REEV Light diarahkan sebagai pilihan elektrifikasi tingkat awal (entry-level) untuk kendaraan berukuran kompak.
Sistem tersebut mengadopsi arsitektur hibrida seri. Dalam konfigurasi ini, mesin bensin tidak terhubung langsung dengan roda, melainkan berfungsi sebagai pembangkit listrik untuk memasok energi ke motor listrik.
Konsep serupa juga digunakan Nissan melalui teknologi e-POWER yang mulai diperkenalkan di Amerika Serikat untuk model tahun 2027 pada Rogue Hybrid. Mobil tersebut menggunakan mesin bensin tiga silinder segaris turbo 1,5 liter yang tidak terhubung langsung ke roda penggerak. Penggerak kendaraan diserahkan kepada dua motor listrik.
Nissan mengklaim sistem e-POWER pada Rogue Hybrid mampu mencapai efisiensi termal 42 persen. Teknologi tersebut juga menggunakan baterai traksi berkapasitas relatif kecil, yakni 1,67 kilowatt-jam, menurut Nissan North America.
Ketika daya baterai turun hingga batas fungsional minimum, sistem e-POWER menyalurkan listrik ke motor penggerak depan dan belakang untuk mempertahankan kecepatan kendaraan. Sementara itu, kelebihan listrik yang dihasilkan mesin digunakan untuk mengisi kembali baterai bertegangan tinggi.
Satu Basis untuk Beragam Teknologi
Selain REEV Light, Suzuki juga menyiapkan sistem hibrida untuk kendaraan mini atau kei car yang sedang dikembangkan dengan nama Super Ene Charge. Sistem tersebut diklaim mampu menurunkan emisi CO2 sebesar 15 persen dibandingkan model sejenis yang hanya menggunakan mesin pembakaran internal.
Suzuki menyebut pengembangan berbagai teknologi tersebut dilakukan secara bersamaan dengan memanfaatkan platform dan desain dasar yang sama. Pendekatan itu memungkinkan Suzuki menawarkan beragam pilihan teknologi elektrifikasi, mulai dari mild hybrid hingga range extender, tanpa harus menggandakan anggaran penelitian dan pengembangan (R&D).
Teknologi kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) juga tetap menjadi bagian dari strategi tersebut. Suzuki menyebut kendaraan listrik kei car terbarunya, e Sky, menggunakan sistem electric axle (e-Axle) 3-in-1 yang diklaim menjadi salah satu yang terkecil di kelasnya.
Ke depan, sistem tersebut akan dikembangkan menjadi desain 6-in-1 dengan dimensi yang sama. Komponen hasil pengembangan itu nantinya dapat digunakan bersama pada jajaran kendaraan BEV maupun HEV Suzuki.
Versi 6-in-1 dengan ukuran sedikit lebih besar juga disiapkan untuk kendaraan di segmen subcompact, compact, hingga ukuran menengah.
Pengembangan e Sky turut menjadi salah satu alasan Suzuki mengembangkan konsep REEV Light. Daripada menggunakan baterai yang lebih besar dan berat untuk memperpanjang jarak tempuh, Suzuki melihat teknologi range extender dapat menjadi alternatif untuk membantu mengurangi kekhawatiran konsumen mengenai jarak tempuh sekaligus pengisian daya.
Di sisi lain, Suzuki juga berupaya mempercepat proses pengembangan kendaraan. Dalam strategi teknologinya, perusahaan menargetkan siklus pengembangan dapat dipangkas menjadi 24 bulan untuk menghadapi persaingan dengan merek-merek asal Tiongkok.
Efisiensi pengembangan dan produksi masing-masing ditargetkan meningkat 30 persen dan 50 persen. Suzuki juga masih melanjutkan pengembangan mesin pembakaran internal sebagai bagian dari strategi teknologi untuk berbagai pasar.
Salah satunya melalui rencana pengembangan mesin bensin turbo direct-injection baru untuk negara berkembang. Suzuki menargetkan peningkatan efisiensi termal mesin pembakaran internal dari sekitar 40 persen pada mesin Z12E saat ini menjadi 50 persen.
Untuk mencapai target tersebut, Suzuki menyiapkan sejumlah teknologi, termasuk penerapan siklus Miller, penggunaan oli mesin dengan viskositas rendah, material nano-karbon, serta peningkatan rasio kompresi.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa Suzuki tidak hanya mengandalkan satu jenis teknologi untuk menghadapi transisi elektrifikasi. Perusahaan asal Jepang itu menyiapkan kombinasi teknologi mulai dari mesin pembakaran internal, mild hybrid, range extender, HEV, hingga BEV sesuai dengan kebutuhan kendaraan dan pasar yang dituju.