
Ilustrasi perilaku orang tua kepada anak (Dok. Pexels)
JawaPos.com - Sebagai orang tua, anda pasti ingin memberikan segala yang terbaik untuk anak. Namun tanpa disadari, anda bisa saja terjebak dalam perilaku orang tua yang terlalu memanjakan anak.
Ini merupakan hal yang tidak baik untuk tumbuh kembang kepribadian anak, karena rentan membuat anak punya mental lemah bahkan sombong.
Menurut para psikolog parenting, ada beberapa kebiasaan yang sering dilakukan tanpa sadar dan justru menjadi pola asuh yang buruk. Dilansir dari Small Biz Technology pada Kamis (13/3) berikut ini adalah tujuh di antaranya.
1. Jarang Berkata Tidak pada Permintaan Anak
Kadang kala, menyerah terasa lebih mudah daripada menghadapi kehancuran di lorong toko kelontong. Masalahnya, ketika anda terus-menerus menghindari mengatakan "tidak" kepada anak, mereka tidak belajar menghadapi kekecewaan.
Anak yang selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan bisa tumbuh dengan ekspektasi bahwa dunia akan selalu menurut pada mereka.
Psikolog parenting menyebut bahwa penetapan batasan yang konsisten sangat penting agar anak mengembangkan regulasi emosi dan ketahanan. Jika mereka tidak pernah belajar menerima penolakan, mereka akan sulit menghadapi tantangan di kehidupan nyata.
2. Anda Ikut Campur Menyelesaikan Masalah Anak
Pernahkah anda tergoda untuk segera turun tangan saat anak kesulitan menyelesaikan PR atau merakit mainan? Terlihat seperti bentuk kepedulian, tetapi terlalu sering membantu justru membuat anak tidak belajar menyelesaikan masalah sendiri.
Anak-anak butuh kesempatan untuk berpikir kreatif, mencoba solusi, dan bahkan mengalami kegagalan. Jika setiap tantangan langsung anda selesaikan, mereka akan kehilangan kepercayaan diri dan selalu bergantung pada orang lain.
3. Menolak Membahas Konsekuensi di Dunia Nyata dengan Anak
Salah satu aspek penting dalam mendidik anak adalah menjelaskan konsekuensi dari tindakan mereka. Namun, banyak orang tua memilih untuk menghindari percakapan sulit ini karena khawatir merusak kepolosan anak.
Padahal, anak perlu memahami bahwa setiap tindakan memiliki akibat. Jika mereka merusak mainan temannya, misalnya, mereka harus tahu bahwa hal itu bisa melukai perasaan orang lain. Anda bisa mengajak mereka bertanggung jawab, misalnya dengan menggunakan uang sakunya untuk mengganti mainan yang rusak.
Jika anak tidak diajarkan tentang konsekuensi, mereka akan tumbuh tanpa rasa tanggung jawab dan cenderung menghindari akibat dari perbuatannya.
4. Anda Melakukan untuk Mereka Apa yang Bisa Mereka Lakukan Sendiri

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
