Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 23 Maret 2025 | 21.58 WIB

8 Sifat Anak yang Tumbuh dari Orang Tua Sangat Protektif Menurut Psikologi, Apa Saja Ya?

Sifat anak yang tumbuh dari orang tua protektif menurut psikologi. (Freepik/ jcomp) - Image

Sifat anak yang tumbuh dari orang tua protektif menurut psikologi. (Freepik/ jcomp)

JawaPos.com – Orang tua yang sangat protektif sering kali bermaksud melindungi anak mereka dari bahaya dan kesalahan, namun pendekatan ini dapat membentuk sifat tertentu dalam diri sang buah hati saat mereka tumbuh dewasa.

Menurut psikologi, pola asuh yang terlalu melindungi ini bisa menciptakan dampak yang kompleks pada kepribadian anak, memengaruhi cara mereka menghadapi dunia luar, membangun hubungan, dan membuat keputusan. Memahami sifat-sifat ini dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan pendekatan yang lebih seimbang dan mendukung pertumbuhan anak secara optimal.

Dilansir dari geediting.com pada Minggu (23/3), diterangkan bahwa terdapat delapan sifat anak yang dibesarkan oleh orang tua yang sangat protektif pada mereka menurut Psikologi.

  1. Kebergantungan yang melekat

Tumbuh dalam pengawasan orang tua yang overprotektif seringkali menciptakan ketergantungan yang sulit dilepaskan hingga dewasa. Seperti seseorang yang selalu mencari persetujuan sebelum mengambil keputusan, mereka cenderung bergantung pada pendapat orang lain untuk memvalidasi pilihan mereka.

Perilaku ini bukan menunjukkan kelemahan, melainkan hasil dari pola asuh yang terlalu melindungi selama bertahun-tahun. Meski demikian, pola kebergantungan ini masih bisa diubah dengan kesadaran dan upaya yang konsisten.

  1. Menghindari risiko

Mereka yang dibesarkan dengan pola asuh overprotektif cenderung sangat berhati-hati dan menghindari risiko dalam hidup. Ketakutan akan kegagalan atau kemungkinan terluka membuat mereka lebih memilih zona aman dan menghindari petualangan baru.

Kebiasaan ini terbentuk karena orang tua yang selalu berusaha melindungi dari segala bentuk bahaya atau kesalahan. Pola pikir ini seringkali menjadi penghalang dalam mengembangkan potensi diri dan meraih kesempatan baru.

  1. Perfeksionisme yang mengikat

Anak-anak dari orang tua overprotektif sering tumbuh dengan standar kesempurnaan yang tidak realistis. Mereka cenderung menetapkan target yang sangat tinggi dan jarang puas dengan pencapaian mereka sendiri.

Ketakutan akan membuat kesalahan atau tidak memenuhi ekspektasi bisa mengarah pada stres berkepanjangan dan kecemasan. Riset dalam Psychological Bulletin bahkan menunjukkan peningkatan signifikan perfeksionisme di kalangan anak muda dalam tiga dekade terakhir, sejalan dengan meningkatnya pola asuh protektif.

  1. Kesulitan mengambil keputusan

Proses pengambilan keputusan menjadi sangat rumit bagi mereka yang tumbuh dengan orang tua overprotektif. Ketika terbiasa dengan orang tua yang selalu mengambil keputusan, kemampuan untuk memutuskan sesuatu secara mandiri menjadi terhambat.

Hal ini bukan sekadar tentang keragu-raguan, tapi lebih kepada ketakutan mendalam akan konsekuensi dari keputusan yang diambil. Kemampuan mengambil keputusan yang seharusnya berkembang secara alami sejak kecil menjadi terganggu karena kurangnya kesempatan untuk berlatih.

  1. Kerinduan akan kebebasan

Individu yang dibesarkan dengan pola asuh overprotektif sering memendam kerinduan mendalam akan kebebasan. Keinginan untuk lepas dari pengawasan dan kontrol menjadi sangat kuat, meski terkadang sulit untuk diwujudkan.

Dorongan ini bukan bentuk pemberontakan, melainkan hasrat alami untuk berkembang dan belajar dari pengalaman sendiri. Ironisnya, semakin ketat pengawasan yang diterima sewaktu kecil, semakin besar pula kerinduan akan kebebasan yang dirasakan saat dewasa.

  1. Ketakutan akan kegagalan

Tumbuh dalam lingkungan yang selalu berusaha mencegah kesalahan membentuk ketakutan berlebih terhadap kegagalan. Pikiran bahwa kegagalan akan mengecewakan orang tua bisa sangat melumpuhkan dan menghambat perkembangan.

Perasaan ini sering menghalangi seseorang untuk mencoba hal-hal baru atau mengambil peluang yang ada. Proses mengatasi ketakutan akan kegagalan menjadi perjalanan panjang yang membutuhkan pemahaman bahwa kegagalan adalah bagian natural dari pertumbuhan.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore