Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 16 Mei 2025 | 05.15 WIB

Hari-hati, Ini 8 Ucapan Orang Tua yang Dapat Merusak Psikologis Anak

Ilustrasi interaksi antara orang tua dan anak yang menggambarkan pentingnya komunikasi, validasi, dan dukungan terhadap perasaan anak. (Freepik) - Image

Ilustrasi interaksi antara orang tua dan anak yang menggambarkan pentingnya komunikasi, validasi, dan dukungan terhadap perasaan anak. (Freepik)

JawaPos.com-- Psikologi perkembangan anak menunjukkan bahwa, cara orang tua berbicara kepada anak akan membentuk bagaimana cara mereka berbicara orang tua dan orang di sekitar.

Dalam jangka panjang, komunikasi anak dan orang tua yang tidak dipupuk dengan baik tentunya menimbulkan efek yang kurang baik pula. 

Salah satu efek tersebut yakni, memengaruhi harga diri, konsep diri, dan kemampuan menjalin hubungan yang sehat.

Seperti dilansir dari Youtube Pshcy2Go, berikut adalah delapan ucapan paling merusak yang sebaiknya dihindari oleh orang tua:

  1. "Ada apa denganmu?"

Ucapan ini sering keluar saat orang tua frustrasi melihat perilaku anak yang tidak sesuai harapan.

Namun, bertanya dengan nada menghakimi justru membuat anak merasa ada yang salah dalam dirinya. Mereka bisa mulai meragukan nilai diri dan merasa tidak diterima sebagaimana adanya.

  1. "Aku tidak punya waktu untukmu saat ini."

Menjadi orang tua memang melelahkan, apalagi saat harus membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.

Namun, secara langsung mengatakan bahwa Anda tidak punya waktu dapat membuat anak merasa diabaikan dan tidak penting. Sebaiknya, jelaskan dengan lembut dan pastikan Anda menebus waktu tersebut di lain kesempatan.

  1. "Aku harap kamu lebih seperti..."

Membandingkan anak dengan saudara kandung atau teman sekelas bisa menimbulkan rasa tidak aman dan iri hati.

Anak akan merasa cinta Anda bersyarat dan harus "berprestasi" untuk mendapatkan penerimaan. Ini bisa menimbulkan tekanan psikologis yang dalam.

  1. "Kamu mengecewakanku."

Anak butuh ruang untuk belajar dari kesalahan tanpa takut dihakimi. Kalimat seperti ini hanya akan membuat mereka merasa tidak layak dan takut mencoba hal baru.

Lebih baik dorong mereka untuk bangkit kembali dan yakinkan bahwa Anda tetap mencintai mereka meskipun mereka gagal.

  1. "Mengapa kamu tidak melakukannya?"

Pertanyaan ini bisa muncul setelah anak gagal mencapai sesuatu, seperti tidak lolos seleksi atau tidak menang lomba.

Ucapan semacam ini mengabaikan upaya mereka dan bisa merusak harga diri anak, membuat mereka merasa tidak pernah cukup baik.

  1. "Karena aku bilang begitu."

Gaya pengasuhan otoriter yang kaku dan tidak memberi ruang diskusi bisa berdampak negatif pada perkembangan sosial anak.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore