Orang tua dan anak yang tantrum/Freepik
JawaPos.com – Tantrum merupakan fase umum dalam proses tumbuh kembang anak. Fase tentrum biasaanya terjadi saat mereka sedang belajar mengekspresikan emosi dan keinginan yang belum bisa diungkapkan secara verbal.
Tapi ketika anak menangis histeris atau meronta-ronta hingga bergulung di lantai karena terhalang keinginannya, banyak orang tua merasa kewalahan dan tak jarang terjebak dalam reaksi marah atau frustrasi.
Namun fase ini menjadi penting terutama untuk orang tua untuk dalam menyikapi dan saling memahami sang buah hati.
Oleh karenanyak, fase ini harus dihadapi orang tua dengan pendekatan disiplin positif yang mengedepankan empati dan batasan tegas tanpa kekerasan.
Selain itu, penanganan yang tepat dapat membimbing anak untuk memahami bahwa perasaan mereka valid, sekaligus mengajarkan cara yang lebih tepat mengekspresikan emosi.
Dikutip dari Cdc.gov dan Parents.com, disiplin positif bukan tentang memberi hukuman, melainkan membangun koneksi emosional sambil menetapkan aturan yang jelas.
Dengan begitu, tantrum tidak lagi menjadi neraka emosi, tapi kesempatan bagi anak belajar mengatur diri.
Berikut langkah-langkah praktis yang bisa membantu orang tua menghadapi tantrum secara lebih bijak dan efektif
Tantrum umumnya muncul karena anak belum bisa menyampaikan keinginan atau rasa tidak nyaman, entah rasa lapar, lelah, atau butuh perhatian. Saat memahami ini, orang tua bisa merespon dengan empati terlebih dahulu.
Menjerit atau marah hanya memperburuk situasi. Untuk itu, belajar tetap tenang saat anak tantrum sangatlah penting. Orang tua bisa berlutut sejajar, sembari berkata, “Aku tahu kamu sangat marah sekarang,” untuk menunjukkan anak bahwa perasaannya dimengerti.
Strategi “ignore and redirect” saat tantrum muncul semata-mata karena ingin mencari perhatian. Orang tua cukup mengabaikan rintihan dan mengalihkannya ke hal yang lebih positif. Misalnya alihkan ke mainan yang lebih positif atau ajak aktivitas tenang bersama.
Banyak orang tua terbiasa menggunakan metode time-out, yaitu mengasingkan anak ke sudut ruangan agar “mendingin” saat tantrum. Namun, pendekatan ini sering kali membuat anak merasa ditolak atau tidak dimengerti, apalagi jika ia belum cukup umur untuk memahami maksud dari isolasi tersebut.
Sebaliknya, pendekatan time-in lebih disarankan dalam disiplin positif. Dalam time-in, orang tua tetap berada di dekat anak saat tantrum berlangsung, namun tidak langsung menenangkan atau menyuruhnya diam. Orang tua cukup duduk di sampingnya sambil berkata lembut, “Ibu di sini kalau kamu sudah siap,” atau “Kalau kamu sudah tenang, kita bisa bicara.”
Tujuannya bukan langsung menghentikan tantrum, melainkan membantu anak merasa aman saat emosinya sedang tidak stabil. Kehadiran orang tua yang tenang dan tidak menghakimi justru mengajarkan bahwa emosi adalah hal yang boleh dirasakan, namun tetap perlu diarahkan.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
