
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto. (Istimewa)
JawaPos.com - Merujuk data dari laman resmi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), saat ini baru 155 dari total 4.000 perguruan tinggi yang memiliki Unit Layanan Disabilitas (ULD). Sebagai bentuk komitmen untuk menghadirkan kampus inklusif, mereka menegaskan baal terus memperkuat ULD di setiap perguruan tinggi.
Tidak sendirian, Kemendiktisaintek bekerja sama dengan berbagai pihak. Baik institusi pelat merah maupun instansi swasta. Komitmen tersebut ditegaskan sebagai salah satu langkah untuk menjawab tantangan terbesar dalam kampus inklusif. Bukan hanya memperluas akses pendidikan tinggi bagi penyandang disabilitas, melainkan turut memastikan dukungan fasilitasnya tersedia.
”Inklusifitas tidak berhenti pada akses masuk ke perguruan tinggi, ia berarti memastikan setiap mahasiswa memperoleh dukungan yang diperlukan untuk menyelesaikan pendidikan dan mengembangkan potensinya secara optimal,” kata Mendiktisaintek Brian Yuliarto dalam keterangan resmi pada Kamis (2/7).
Keterangan disampaikan oleh Brian usai Kemendiktisaintek menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pijar Foundation, salah satu lembaga yang memiliki komitmen kuat untuk terus memperkuat ULD yang efektif, berkelanjutan, dan terintegrasi di perguruan tinggi. Dia menilai, kerja sama itu penting untuk menyambut Indonesia Emas pada 2045.
”Menuju Indonesia Emas 2045, kita membutuhkan sumber daya manusia unggul tanpa meninggalkan siapa pun. Setiap anak bangsa memiliki potensi untuk berkontribusi bagi kemajuan Indonesia, dan menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memastikan setiap potensi itu memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang,” tegas Brian.
Pasca penandatanganan MoU tersebut, langsung diluncurkan program KRISAN Fellowship. Program itu merupakan bagian dari langkah penguatan kapasitas kelembagaan yang ditujukan untuk perguruan tinggi. Baik yang sudah memiliki ULD maupun yang baru akan membentuk ULD.
Sehingga setiap perguruan tinggi memiliki bekal, jejaring, dan kepercayaan diri untuk memperkuat layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Nama KRISAN dipilih atas inspirasi dari bunga krisan yang tumbuh di Indonesia dan Jepang, melambangkan pertumbuhan, ketangguhan, dan kekuatan yang tenang.
”Bagi mahasiswa penyandang disabilitas, memasuki perguruan tinggi sering hadir dengan tantangan tambahan. Karena itu, pendidikan tinggi yang inklusif harus lebih dari sekadar membuka akses masuk. Dukungan perlu hadir sebelum, selama, dan setelah masa studi,” ungkap Direktur Eksekutif Pijar Foundation Cazadira Fediva Tamzil.
Karena itu, lanjut dia, Unit Layanan Disabilitas memiliki peran penting. Tidak sekadar menjadi layanan administratif, melainkan harus berperan sebagai penggerak agar inklusi menjadi prinsip kebijakan sekaligus kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari kampus.

Prediksi Skor Amerika Serikat vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: The Stars and Stripes Tak Ingin Malu!
Prediksi Skor Swiss vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Granit Xhaka Cs Siap Libas El Khadra Demi Tiket 16 Besar
Prediksi Skor Spanyol vs Austria di Piala Dunia 2026: Lamine Yamal Jadi Pembeda
Prediksi Skor Belgia vs Senegal di Piala Dunia 2026: Setan Merah Emoh Angkat Koper Lebih Dulu!
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di 32 Besar Piala Dunia 2026: Joao Felix Pede Singkirkan Skuad Vatreni!
Prediksi Skor Inggris vs RD Kongo: Bursa Jagokan Three Lions, Opta Beri Peluang Menang 73,9 Persen
Silaturahmi dengan Suporter PSIS, Malut United Pastikan Tak Pakai Nama Semarang dan Siap Mengalah soal Stadion
Ditunggu Saja! Persebaya Surabaya Siapkan 7 Pemain Asing Baru Usai Rombak Skuad Musim Lalu
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Cristiano Ronaldo Cs Lolos ke 16 Besar
