
Timnas Qatar tampil di piala dunia 2026. (sportskeeda)
JawaPos.com - Piala Dunia 2026 kembali menghadirkan perbedaan nyata antara persaingan di level Asia dan tantangan yang harus dihadapi saat memasuki panggung sepak bola dunia. Setelah matchday kedua fase grup selesai, sejumlah wakil Asia Barat mulai kehilangan peluang untuk melaju ke babak berikutnya.
Situasi ini kembali memunculkan perdebatan yang hampir selalu muncul setiap edisi Piala Dunia. Di media sosial, tidak sedikit yang beranggapan bahwa tim-tim Asia Barat hanya menjadi pelengkap kompetisi.
Namun jika melihat perjalanan mereka menuju turnamen ini, kenyataannya tidak sesederhana itu. Negara-negara seperti Arab Saudi, Iran, Qatar, Irak, dan Yordania datang ke Piala Dunia bukan tanpa alasan. Mereka berhasil melewati kualifikasi yang panjang dan kompetitif.
Baca Juga:Vozinha Dilirik Tiga Klub Série B Brasil, Kiper Tanjung Verde Bersiap Jalani Petualangan Baru
Dalam prosesnya, mereka juga mampu mengungguli sejumlah negara kuat Asia lainnya yang memiliki ambisi serupa untuk tampil di panggung terbesar sepak bola dunia. Masalah mulai terlihat ketika lawan yang dihadapi bukan lagi tim-tim terbaik Asia, melainkan negara-negara yang diperkuat pemain dari liga-liga elite Eropa dan Amerika Selatan.
Perbedaan tempo permainan, kualitas pengambilan keputusan, hingga pengalaman menghadapi pertandingan berintensitas tinggi menjadi faktor yang sulit diabaikan. Banyak negara Asia Barat sebenarnya telah melakukan investasi besar dalam beberapa tahun terakhir.
Infrastruktur modern, stadion berstandar internasional, hingga kompetisi domestik yang semakin profesional menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas sepak bola mereka.
Namun, perkembangan liga domestik tidak selalu berjalan seiring dengan peningkatan performa tim nasional. Piala Dunia sering kali menjadi ajang yang memperlihatkan bahwa pengalaman bermain di level tertinggi masih menjadi pembeda utama.
Di sinilah Jepang dan Korea Selatan kerap dijadikan contoh. Kedua negara tersebut memang tidak selalu memiliki pemain yang lebih berbakat dibanding negara-negara Asia Barat. Akan tetapi, mereka berhasil membangun sistem pembinaan yang mendorong pemain muda untuk berkarir di luar negeri sejak usia dini.
Akibatnya, banyak pemain Jepang dan Korea Selatan yang terbiasa menghadapi tekanan tinggi setiap pekan di kompetisi papan atas dunia. Pengalaman tersebut kemudian terbawa saat mereka membela tim nasional di turnamen besar.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Landsliðið Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Skor Slovenia vs Makedonia Utara di Liga Nations UEFA: Fantje Kalahkan Tim Tamu
Prediksi Skor Skotlandia vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Kalahkan Tuan Rumah dengan Skor Telak
Prediksi Skor Skor Lithuania vs Andorra, Laga Persahabatan: Tuan Rumah Berpeluang Menang
Prediksi Skor San Marino vs Albania di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjte Menang Telak di Dogana
Prediksi Skor Filipina vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: The Azkals Menang Tipis Atas The Shaheens
Prediksi Skor Jamaika vs Honduras di CONCACAF Nations League: Reggae Boyz Menang Meyakinkan?
Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Tuan Rumah Dibayangi Rapuhnya Lini Pertahanan
Prediksi Finlandia vs Belarus di UEFA Nations League: Pohjanpalo Siap Lanjutkan Ketajaman

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022