Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 25 Juni 2026 | 19.06 WIB

Adu Kolektivitas! 'Hukum Jante' Swedia vs 'Paku yang Tak Menonjol' ala Jepang di Piala Dunia 2026, Siapa Lolos 32 Besar?

Viktor Gyokeres menjadi andalan Timnas Swedia saat menghadapi Tunisia pada laga pembuka Grup F Piala Dunia 2026 di Estadio BBVA. (Instagram/@viktorgyokeres) - Image

Viktor Gyokeres menjadi andalan Timnas Swedia saat menghadapi Tunisia pada laga pembuka Grup F Piala Dunia 2026 di Estadio BBVA. (Instagram/@viktorgyokeres)

JawaPos.com — Dalam otobiografinya, Zlatan Ibrahimovic menggambarkan warga Swedia sebagai “orang-orang yang tidak akan pernah menerobos lampu merah”. Tidak pernah menonjolkan diri, tidak pernah menganggap diri mereka spesial.

Bagi Ibrahimovic yang sangat percaya diri, sangat berani berpendapat, konsep sosial di Swedia dan segenap Skandinavia yang dikenal sebagai Janteloven atau Jantelagen itu sangat aneh.

“Saya 11 kali terpilih sebagai pesepak bola terbaik Swedia. Apakah saya sombong? Tak masalah, saya memang yang terbaik,” kata pencetak gol terbanyak bagi tim nasional (timnas) Swedia itu.

Ibrahimovic, barangkali, adalah kasus khusus. Janteloven atau Jantelagen dalam bahasa Swedia masih kuat membentuk kepribadian warga negeri yang beribu kota di Stockholm tersebut.

Tak terkecuali di sepak bola. Di skuad Swedia di Piala Dunia memang ada Viktor Gyokeres yang baru merebut gelar Premier League dan Aleksander Isak yang dibeli Liverpool dengan harga sangat mahal. Namun, tetap saja kekuatan utama Blågult atau Biru-Kuning adalah kolektivitas.

Kebetulan, Graham Potter, pelatih Swedia, juga lebih mengandalkan kolektivitas. Maklum, Potter memulai karier kepelatihannya di negeri penghasil Volvo tersebut. “Dia menyatukan kami semua,” kata bek tengah Blågult—julukan timnas Swedia—Gustaf Lagerbielke, seperti dilansir dari laman Sportbladet.

Kolektivitas vs Kolektivitas

Besok (26/6) pagi WIB, memperebutkan tiket lolos ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 dari Grup F, kolektivitas khas Skandinavia itu akan berhadapan dengan kolektivitas ala Jepang di AT&T Stadium, Arlington, Amerika Serikat. Ya, kesetaraan ala Janteloven juga ada di Negeri Samurai yang terangkum dalam peribahasa: Deru kugi wa utareru alias paku yang menonjol sendirian akan dipalu.

Enam gol Jepang yang dicetak empat pemain berbeda juga mencerminkan bagaimana di skuad Samurai Biru semua beban selalu ditanggung bersama. Tak ada paku yang menonjol sendirian, meskipun kegemilangan skill individu tentu juga tidak dimatikan.

Ayase Ueda, misalnya, yang mencetak dua gol ke gawang Tunisia. Namanya memang tidak setenar Lionel Messi, Erling Haaland, Cristiano Ronaldo, atau bahkan Kylian Mbappe.

Editor: Hendra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore