
Viktor Gyokeres menjadi andalan Timnas Swedia saat menghadapi Tunisia pada laga pembuka Grup F Piala Dunia 2026 di Estadio BBVA. (Instagram/@viktorgyokeres)
JawaPos.com — Dalam otobiografinya, Zlatan Ibrahimovic menggambarkan warga Swedia sebagai “orang-orang yang tidak akan pernah menerobos lampu merah”. Tidak pernah menonjolkan diri, tidak pernah menganggap diri mereka spesial.
Bagi Ibrahimovic yang sangat percaya diri, sangat berani berpendapat, konsep sosial di Swedia dan segenap Skandinavia yang dikenal sebagai Janteloven atau Jantelagen itu sangat aneh.
“Saya 11 kali terpilih sebagai pesepak bola terbaik Swedia. Apakah saya sombong? Tak masalah, saya memang yang terbaik,” kata pencetak gol terbanyak bagi tim nasional (timnas) Swedia itu.
Baca Juga:Resmi! Afrika Selatan Menyusul, Ini Daftar 13 Tim Negara Lolos ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Ibrahimovic, barangkali, adalah kasus khusus. Janteloven atau Jantelagen dalam bahasa Swedia masih kuat membentuk kepribadian warga negeri yang beribu kota di Stockholm tersebut.
Tak terkecuali di sepak bola. Di skuad Swedia di Piala Dunia memang ada Viktor Gyokeres yang baru merebut gelar Premier League dan Aleksander Isak yang dibeli Liverpool dengan harga sangat mahal. Namun, tetap saja kekuatan utama Blågult atau Biru-Kuning adalah kolektivitas.
Kebetulan, Graham Potter, pelatih Swedia, juga lebih mengandalkan kolektivitas. Maklum, Potter memulai karier kepelatihannya di negeri penghasil Volvo tersebut. “Dia menyatukan kami semua,” kata bek tengah Blågult—julukan timnas Swedia—Gustaf Lagerbielke, seperti dilansir dari laman Sportbladet.
Kolektivitas vs Kolektivitas
Besok (26/6) pagi WIB, memperebutkan tiket lolos ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 dari Grup F, kolektivitas khas Skandinavia itu akan berhadapan dengan kolektivitas ala Jepang di AT&T Stadium, Arlington, Amerika Serikat. Ya, kesetaraan ala Janteloven juga ada di Negeri Samurai yang terangkum dalam peribahasa: Deru kugi wa utareru alias paku yang menonjol sendirian akan dipalu.
Enam gol Jepang yang dicetak empat pemain berbeda juga mencerminkan bagaimana di skuad Samurai Biru semua beban selalu ditanggung bersama. Tak ada paku yang menonjol sendirian, meskipun kegemilangan skill individu tentu juga tidak dimatikan.
Baca Juga:Kontraknya Tak Diperpanjang Liverpool, Rhys Williams Pilih Trial bersama New York Red Bulls
Ayase Ueda, misalnya, yang mencetak dua gol ke gawang Tunisia. Namanya memang tidak setenar Lionel Messi, Erling Haaland, Cristiano Ronaldo, atau bahkan Kylian Mbappe.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
3 Fakta Gonzalo Ritacco, Pemain Incaran Persebaya Surabaya yang Pernah Lawan Son Heung-min
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Everton vs Newcastle di Stadion Scottish Gas Murrayfield
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
