
Selebrasi para pemain Maroko usai memaksa Belanda kalah lewat drama adu penalti dan memastikan tiket ke babak 16 besar Piala Dunia 2026. (Instagram/@equipedumaroc)
JawaPos.com - Maroko tidak lagi dipandang sebagai tim kejutan di panggung sepak bola Dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, negara Afrika Utara tersebut berhasil menunjukkan perkembangan yang konsisten hingga menjadi salah satu kekuatan baru yang patut diperhitungkan termasuk di piala dunia.
Pencapaian terbesar timnas Maroko hadir pada Piala Dunia 2022 ketika berhasil menembus babak semifinal. Prestasi itu menjadikan Maroko sebagai negara Afrika dan Arab pertama yang mampu mencapai empat besar turnamen paling bergengsi di dunia.
Kesuksesan tersebut ternyata bukan hasil keberuntungan semata, melainkan buah dari perencanaan jangka panjang yang telah dijalankan selama lebih dari satu dekade. Salah satu fondasi utama kebangkitan Maroko adalah pembangunan Akademi Mohammed VI yang mulai beroperasi pada 2009.
Akademi tersebut dibangun dengan fasilitas modern yang mengadopsi standar sepak bola Eropa. Selain memiliki lapangan latihan berkualitas tinggi, pusat pembinaan ini juga dilengkapi fasilitas sains olahraga, pendidikan, hingga pengembangan karakter pemain.
Dari akademi inilah lahir sejumlah pemain berkualitas yang kemudian menjadi andalan tim nasional, seperti Youssef En-Nesyri dan Nayef Aguerd. Kehadiran akademi tersebut memastikan regenerasi pemain terus berjalan sehingga Maroko tidak bergantung pada satu generasi saja.
Selain pembinaan pemain lokal, Maroko juga menjalankan strategi perekrutan pemain diaspora secara serius. Federasi Sepak Bola Maroko membangun jaringan pencari bakat di berbagai negara Eropa yang memiliki populasi keturunan Maroko cukup besar, seperti Prancis, Spanyol, Belanda, dan Belgia.
Pendekatan yang dilakukan tidak hanya melalui jalur teknis, tetapi juga menyentuh sisi emosional para pemain. Hasilnya, sejumlah pesepak bola yang lahir dan berkembang di Eropa memilih membela tanah leluhur mereka.
Nama-nama seperti Achraf Hakimi, Hakim Ziyech, Sofyan Amrabat, hingga Noussair Mazraoui menjadi contoh sukses strategi tersebut. Mereka membawa pengalaman bermain di liga-liga elite Eropa, sekaligus memberikan kualitas yang dibutuhkan tim nasional.
Di sisi lain, kompetisi domestik Maroko juga memiliki peran penting dalam menjaga kualitas sepak bola nasional. Botola Pro dikenal sebagai salah satu liga terbaik di Afrika dengan persaingan yang kompetitif.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027, Tuan Rumah Dilarang Kalah!
Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Liga Champions: Skuad Modri Datang dengan Modal Bagus!
Prediksi Levski Sofia vs AEK Athens: Misi Besar Tuan Rumah Kembali ke UCL Usai Absen 2 Dekade
Prediksi Skor Vietnam vs Malaysia Leg 2 Semifinal AFF 2026: The Golden Star Warriors Menuju Final!
Profil Putri Juficha, Miss Earth Indonesia 2025 yang Meninggal di Usia Muda
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Ada Andik Vermansah Hingga Leo Lelis, 6 Mantan Pemain Persebaya Memperkuat Tim Promosi
Prediksi Skor Thailand vs Singapura: Gajah Perang Selangkah Lagi ke Final Piala AFF 2026!
Prediksi Skor Slovan Bratislava vs Celje di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027
