
Lukisan: Pengantin Revolusi karya Hendra Gunawan, Patung: Cintaku untukmu Indonesia karya Evy Yonathan (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
Terdapat benang merah masa lalu dan masa sekarang. Itulah yang ingin disampaikan dalam pameran bertajuk Founding/Finding Text yang berlangsung sejak 16 September hingga 16 Oktober mendatang di Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta. Pameran tersebut bersubjudul Pameran Koleksi, Seni Media dan Kontemporer.
---
KURATOR pameran Founding/Finding Text, Sudjud Dartanto, menyampaikan bahwa pameran ini berupaya memadukan seni modern dengan lukisan masa lampau. Lukisan masa lampau diwakili karya Hendra Gunawan dan Henk Ngantung.
Sudjud menyatakan, karya Hendra Gunawan yang ditampilkan adalah lukisan yang berjudul Pengantin Revolusi (1955). Dia menjelaskan, lukisan itu menggemakan formulasi keindonesiaan dan kebinekaan.
”Sementara, karya Henk Ngantung adalah sketsa-sketsa kesaksian atas berbagai tokoh dan momen yang menarik untuk disimak,” ujar Sudjud.
Sementara itu, karya seni masa kini disajikan sejumlah seniman. Salah satunya, Antin Sambodo dengan karya konstruksi objek keramik. Lalu, Antin berupaya mengeksplorasi makna kemerdekaan dari keseharian aktivitas persilangan seni dan industri.
Kemudian, Dwi Putro dan Nawa Tunggal (Dwi Tunggal) menampilkan karya kolaborasi yang menyuguhkan konstruksi trapesium unik atas tiga lukisan wayang dengan corak skizofrenik. Yaitu, teks tulus yang melompat-lompat sebagai tafsir atas filosofi Serat Jayabaya.
Ada juga karya Evy Yonathan dengan judul Cintaku untukmu Indonesia. Evy menampilkan karya keramik patung dengan sebuah latar belakang pertanyaan atas makna kemerdekaan Indonesia setelah 77 tahun. Karya lainnya adalah milik Gelar Soemantri dengan judul Kun Fayakun (Remix). Karya yang ditampilkan merupakan proyeksi citra digital dari lukisan founding text.
Sudjud mengungkapkan, karya Gelar mempersoalkan isu kepemilikan (ownership) dalam tegangan antara wilayah publik dan privat. ”Antara memori pribadi dan memori kolektif,” kata Sudjud.
Persoalan privatisasi ini menjadi akar dari kapitalisme yang melakukan proteksi dan komodifikasi hak kepemilikan.
Sementara, Lenny Ratnasari menampilkan karya instalasi objek dan cahaya dengan judul Expediency. Berikutnya, Radetyo ”Itok” Sindhu Utomo memamerkan karya dengan judul Atas Nama Kehendak dengan objek kertas berbentuk pilar.
Yudhi Sulistyo x Arif ”Bachoxs” Wicaksono berkolaborasi menciptakan karya dengan judul Journey to the Timeless Dimension. Karya itu menghadirkan sebuah simbol kekuatan imperial, sebuah estetisasi tanda alat penguasaan yang bersifat koersif.
Sudjud menegaskan, upaya mencari benang merah karya masa lalu dengan masa sekarang begitu penting. Ketika benang merah sudah ditemukan, kita bisa mengambil semangat revolusi perupa pada saat itu. ”Sebuah semangat revolusi menolak imperialisme,” ungkap pria yang juga kurator Galeri Nasional Indonesia tersebut.
Dia mengakui, Indonesia sekarang memang sudah merdeka. Namun, saat ini penjajahan masih terasa. Menurut dia, sisa kebudayaan hari ini membuat orang sulit mendapatkan kebebasan. Sulit merasakan kemerdekaan. ”Saat ini orang tidak menyadari seolah-olah sudah bebas. Tapi, bebas yang bagaimana,” tegas Sudjud.
Apakah kebebasan yang dikesankan kapitalisme? Sebuah kebebasan ilusi. Dia menuturkan, melalui pameran itu, perupa masa kini bisa melihat warisan karya masa lalu yang diharapkan bisa menjadi sebuah ajang refleksi.
Sesuai dengan judulnya, Founding Text adalah karya-karya dari seniman yang dikenal berpengaruh dan menjadi bagian penting dalam mengorkestrasi sejarah seni rupa modern Indonesia. Kemudian, dipadukan dengan karya dari perupa masa kini dari berbagai kecenderungan medium dan gagasan. Itulah sebuah proses dalam mencari dan menemukan teks-teks dalam kehidupan hari ini atau finding text.
Photo
(FOTO: SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
Photo
(FOTO: SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
