Howard Webb. (Dok. PGMOL)
JawaPos.com - Dua tahun sejak Howard Webb menjabat sebagai Ketua PGMOL (Professional Game Match Officials Limited), kesabaran klub-klub Premier League mulai menipis. Banyak yang merasa sistem VAR (Video Assistant Referee) tidak berfungsi sebagaimana mestinya, dan kesalahan demi kesalahan yang terjadi membuat klub-klub menuntut perubahan nyata.
Bahkan, ada spekulasi bahwa jika Wolverhampton Wanderers mengajukan kembali mosi untuk menghapus VAR, hasilnya mungkin akan berbeda dari keputusan 19-1 yang sebelumnya mendukung keberadaan teknologi ini. Meski sudah terlambat untuk mundur, VAR tetap tidak akan pernah menjadi favorit para penggemar sepak bola.
Salah satu insiden yang menjadi sorotan adalah keputusan Michael Oliver saat menjadi VAR dalam laga Manchester United melawan West Ham. Oliver memberikan penalti di menit akhir untuk West Ham atas pelanggaran yang tidak terlihat oleh siapa pun.
Meski teori konspirasi sering muncul, kenyataannya, insiden ini lebih karena kesalahan manusia. Oliver, yang diakui sebagai wasit berkualitas tinggi, kini disarankan untuk sementara diistirahatkan dari pertandingan penting.
Masalah utama dari sistem VAR adalah dinamika antara wasit junior dan senior. Wasit junior yang bertugas sebagai VAR sering kali dianggap tidak berani mempertanyakan keputusan wasit senior di lapangan. Ini menjadi salah satu aspek yang perlu diubah, dan PGMOL mulai memperkenalkan tim-tim VAR khusus untuk meningkatkan kualitas keputusan.
Webb mewarisi organisasi yang dikenal sulit berubah dan penuh dengan budaya lama. Namun, dia berupaya keras menciptakan jalur karier yang lebih baik bagi wasit muda berbakat. Musim ini, dua wasit dari EFL (English Football League) telah dipromosikan untuk tugas VAR di Premier League. Selain itu, PGMOL mulai menyediakan audio rekaman VAR untuk siaran TV demi meningkatkan transparansi.
Meski begitu, ada kritik terhadap pendekatan internal PGMOL. Terlalu banyak mantan wasit yang terlibat dalam tim kepemimpinan, yang dianggap hanya mengoreksi kesalahan mereka sendiri tanpa masukan eksternal yang konstruktif. Salah satu mantan wasit menyarankan bahwa kontrak untuk wasit seharusnya berdasarkan kinerja, bukan pekerjaan seumur hidup.
Tekanan dari klub-klub semakin terasa. Mereka ingin melihat hasil nyata sekarang, bukan hanya janji perubahan di masa depan. Insiden seperti kartu merah yang diberikan kepada pemain Arsenal, Myles Lewis-Skelly, dalam laga melawan Wolves menjadi bukti bahwa keputusan kontroversial tetap ada meski menggunakan teknologi VAR. Bahkan Dermot Gallagher, mantan wasit yang biasa mendukung keputusan wasit aktif, mengakui bahwa keputusan itu salah.
PGMOL melaporkan peningkatan efisiensi hingga 50 persen sejak Webb menjabat. Namun, publik dan klub tetap meminta perubahan yang lebih cepat dan signifikan. Selain itu, keterlibatan Lee Mason, mantan wasit yang mengundurkan diri setelah membuat kesalahan VAR besar, sebagai salah satu dari 40 pelatih PGMOL, juga mendapat sorotan negatif.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
