Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 25 Agustus 2025 | 20.39 WIB

Perjalanan Luka Modric: Dari Pengungsi Menjadi Bintang Sepak Bola Dunia

Luka Modric. (Instagram @acmilan)

 

JawaPos.com - Masa kecil Modric ditandai oleh Perang Kemerdekaan Kroasia pada 1991, memaksa keluarganya menjadi pengungsi. Dirinya belajar bermain sepak bola di tempat parkir hotel, menggunakan tembok sebagai gawang, di tengah ancaman ledakan yang konstan.

"Itu adalah masa-masa yang sangat sulit. Saya mengingatnya dengan jelas, tetapi itu bukan sesuatu yang ingin saya ingat atau pikirkan," tutur Modric seperti dikutip dari The Sun.

Bakat Modric, dikenali sejak kecil oleh pelatih Tomislav Basic di NK Zadar, lebih percaya pada kecerdasan Modric di lapangan daripada atribut fisiknya. Meskipun berbakat, dirinya sempat ditolak oleh klub besar Kroasia, Hajduk Split, karena dianggap terlalu kecil dan rapuh.

Modric kemudian bergabung dengan Dinamo Zagreb, tetapi dipinjamkan ke klub-klub lebih kecil, seperti Zrinski Mostar dan Inter Zapresic, di mana dirinya bermain dalam kondisi sangat sulit.

Setelah membuktikan kemampuannya saat dipinjamkan, Modric mendapatkan tempat di skuad utama Dinamo Zagreb, memimpin mereka meraih enam trofi dalam empat tahun.

Tahun 2008 direkrut oleh Tottenham Hotspur, "Saya merasa sangat beruntung dan bangga berada di sini di London di Tottenham. Saya juga senang bahwa pelatih Juande Ramos menginginkan saya, itu adalah hal yang paling penting bahwa pelatih menginginkan Anda sebagai pemain." 

"Saya ingin menunjukkan bahwa saya memiliki kualitas untuk Tottenham dan Liga Premier Inggris dan membantu Klub mencapai hasil yang besar," lanjutnya saat wawancara pertama setelah menandatangani kontrak, dilansir dari laman resmi Tottenham.

Semusim di Tottenham Hotspur, Modric mulai saat kedatangan pelatih baru Harry Redknapp. "Kritik seperti itu mendorong Anda maju untuk menunjukkan kepada orang-orang bahwa mereka salah,” tegas Modric kala itu.

Pada 2012, Modric bergabung dengan Real Madrid, dirinya mulai skeptis menghadapi dari penggemar dan media, bahkan terpilih sebagai "pembelian terburuk musim ini" 

Nasibnya berubah di bawah pelatih Carlo Ancelotti pada 2013, menyadari perannya sebagai "konduktor" permainan. Modric memainkan peran penting dalam kesuksesan Real Madrid, termasuk tiga gelar Liga Champions berturut-turut dari 2016-2018.

Pada 2018, Modric memimpin Kroasia ke final Piala Dunia, memenangkan Golden Ball sebagai pemain terbaik turnamen. Dirinya mengakhiri tahun tersebut dengan mematahkan dominasi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo untuk memenangkan Ballon d'Or.

Usia tak muda lagi, Modric terus menjadi pemain vital bagi Real Madrid, menunjukkan kualitasnya yang abadi. Umpan ikonik dengan bagian luar kaki saat melawan Chelsea di perempat final Liga Champions 2021/2022 menjadi simbol kecemerlangannya yang tak lekang oleh waktu.

Modric akan berusia 40 tahun pada September mendatang disebut sangat serius menatap musim baru bersama AC Milan. “Saya berbicara langsung dengannya dan melihat seseorang sangat antusias untuk tetap kompetitif. Kehadiran Modric akan sangat penting bagi tim yang membutuhkan sosok pemimpin seperti dirinya,” kata Direktur Olahraga Milan, Igli Tare, pada Kamis (21/8).

Modric ingin bermain secara reguler untuk mempersiapkan diri tampil di Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat. Piala Dunia 2026 ditargetkan sebagai kompetisi penutup kariernya bersama Timnas Kroasia.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore