Xabi Alonso (kanan) menghadirkan pendekatan taktis ala Jose Mourinho saat Real Madrid menghadapi Barcelona di Piala Super Spanyol. (Instagram/@realmadrid)
JawaPos.com - Xabi Alonso seolah membangkitkan kembali semangat Jose Mourinho saat Real Madrid menghadapi Barcelona di final Piala Super Spanyol. Sayang, hal itu tak menggugah hati manajemen Los Blancos yang tetap menyingkirkannya.
Seperti yang pernah dilakukan Mourinho menjelang final Copa del Rey 2011 dengan memainkan Pepe sebagai gelandang, pelatih asal Basque itu memilih rencana yang sama-sama berani dan tak terduga.
Melansir MARCA, Alonso menurunkan lima pemain bertahan, mengubah peran Tchouameni menjadi bek tengah, menugaskan Gonzalo untuk menjaga Pedri, serta menempatkan Vinicius sebagai penyerang tengah.
Pendekatan ini jelas tidak dirancang untuk mendominasi permainan, melainkan untuk mengejutkan lawan, mengacaukan struktur Barcelona, dan mematahkan rencana yang telah disiapkan tim asuhan Hansi Flick.
Skema tersebut memang tidak menghasilkan peningkatan signifikan dalam kualitas permainan Real Madrid. Namun, seperti era Mourinho melawan Barcelona-nya Guardiola, pendekatan pragmatis ini cukup membuat Madrid mampu bersaing secara setara.
Xabi Alonso, yang pernah merasakan langsung duel klasik tersebut sebagai pemain, tampaknya mencatat pelajaran itu dengan baik.
Madrid tampil lebih agresif, lebih intens dalam duel, dan jauh lebih berkomitmen tanpa bola. Taktik ini memang tidak cukup untuk mengantarkan mereka pada gelar juara, tetapi cukup untuk membuat mereka tetap bertahan dalam permainan dan bagi Xabi untuk menunjukkan bahwa ia masih 'hidup'.
Tidak ada kebangkitan besar yang dijanjikan, tetapi setidaknya jarak antara dua raksasa Spanyol itu tidak lagi terasa begitu jauh.
Hanya sedikit pemain di dunia yang mampu tampil dengan intensitas yang sama di setiap pertandingan, dan Raphinha adalah salah satunya. Entah melawan Guadalajara di Copa del Rey atau Real Madrid di Supercopa, pemain Brasil itu tidak pernah setengah-setengah.
Sekali lagi, Raphinha menjadi mimpi buruk bagi Los Blancos. Ia ada di mana-mana: menekan, merebut bola, berdebat, menghadapi lawan, menggiring bola, hingga mencetak gol.
Peluang emas pertamanya memang terbuang, tetapi kesempatan kedua berbuah gol. Gol keduanya di laga itu, dengan bantuan pantulan dari Marco Asensio, menutup malam yang nyaris sempurna.
Gol-gol tersebut terasa pantas untuk gelar juara, dan Raphinha kembali membuktikan dirinya sebagai pemain kelas dunia, meski namanya jarang masuk daftar elite global.
Gonzalo Garcia menghadirkan momen nostalgia ala Raul Gonzalez pada menit ke-50 untuk mengubah skor menjadi 2-2. Sebuah gol striker murni: oportunis, penuh keyakinan, dan lahir dari posisi sulit.
Dalam situasi di mana pemain lain mungkin akan terjatuh dan meminta penalti dari Pedri, Gonzalo justru menyundul bola dan melepaskan tembakan yang tidak lazim, namun tak terbendung oleh Joan Garcia.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
