
Senegal bawa sengketa piala Afrika ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). (Istimewa)
JawaPos.com–Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) menegaskan tidak akan tinggal diam atas keputusan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) yang membatalkan status mereka sebagai juara Piala Afrika. Senegal secara resmi menyatakan akan membawa sengketa ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) setelah gelar yang mereka raih pada Januari lalu dicabut secara kontroversial.
Keputusan mengejutkan tersebut telah diumumkan CAF pada Selasa (17/3), yang secara administratif memberikan kemenangan 3-0 kepada Maroko. Dewan Banding CAF menilai Senegal telah melakukan aksi mogok atau dianggap kalah (forfeit) dalam laga final.
Hal ini merujuk pada insiden pelatih Pape Thiaw beserta sejumlah pemain sempat meninggalkan lapangan selama 15 menit sebagai bentuk protes atas penalti yang diberikan kepada Maroko di menit-menit akhir laga.
Baca Juga:Pep Guardiola Akui Keunggulan Real Madrid: Saya Ingin Standar Manchester City Setinggi Los Blancos
Meski pertandingan sempat dilanjutkan, di mana tendangan penalti Brahim Diaz berhasil ditepis dan Senegal akhirnya menang lewat gol Pape Gueye di babak tambahan waktu. CAF kini justru menganulir hasil di lapangan tersebut.
Sekretaris Jenderal FSF Abdoulaye Seydou Sow melontarkan kritik pedas melalui saluran publik Radiodiffusion Television Senegalaise. Dia menyebut keputusan tersebut sebagai sebuah parodi yang mencederai sportivitas.
”Ini adalah sebuah lelucon. Keputusan ini sama sekali tidak memiliki landasan hukum yang kuat. Ketua Federasi telah berkoordinasi dengan tim hukum untuk membawa perkara ini ke pihak berwenang, hingga ke CAS yang akan mengeluarkan keputusan inkrah,” ujar Sow, dikutip melalui laman The Guardian, Rabu (18/3).
Sow menambahkan, keputusan ini merupakan aib bagi sepak bola Afrika dan meminta rakyat Senegal untuk tetap tenang. Dia meyakini fakta hukum berada di pihak mereka dan menegaskan bahwa Senegal tidak akan mundur selangkah pun dalam memperjuangkan hak mereka.
Sebelumnya, pada sidang disiplin tahap awal, CAF telah menjatuhkan sanksi berupa denda melampaui USD 1 juta serta larangan bertanding bagi sejumlah pemain dan ofisial dari kedua belah pihak. Namun, saat itu CAF tetap mengesahkan hasil pertandingan.
Dalam pernyataan resminya, FSF mengecam keras perubahan putusan yang mendadak ini. Mereka menilai langkah CAF sebagai tindakan yang tidak adil, belum pernah terjadi sebelumnya, dan memberikan preseden buruk yang membayangi masa depan sepak bola di Benua Hitam tersebut.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
